
........ Boim pun mendorong sepeda motornya sampai di depan mobil bringas, lalu masuk ke pekarangan rumah Lupus.
Nyak Boim juga memasuki pekarangan rumah di sebelah rumah Lupus. Dia mengetuk pintu, lalu muncullah Acong, pria yang berusia sekitar lima puluh-an.
"Selamat malam!" sapa Nyak.
"Selamat malam juga," balas Acong.
"Maaf mengganggu, begini saya mau tanya apakah situ yang punya mobil di depan?"
"Yang mana?" tanya Acong.
"Yang di depan, yang cat nya hitam!"
"Bukan, bukan, saya nggak pernah punya mobil hitam, Memangnya kenapa?" tanya Acong heran.
"Begini. tadi dia itu nyipratin air ke kami, sampe kena ke muka-muka kami! Kami sih maunya nuntut gitu! Tapi berhubung bukan situ yang punya mobil, saya minta maaf aja deh uda mengganggu. Ngomong-ngomong situ punya bensin nggak?"
"Bensin? maksudnya apa?" tanya Acong tambah heran.
"Motor anak saya kehabisan bensin dan mogok, jadi kami perlu bensin!"
Acong tersenyum. "Oh, begitu.... Ada, kebetulan saya ada sedikit. tunggu, ya!"
Nyak Boimmenarik napas lega. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, ya Tuhan! memang kita harus hidup tolong-menolong. kalau situ saat susah, datang saja ke kampung saya Palmerah. Nanti saya bakal ngasih buah-buahan. Tapi ya buah lokal, kagak ada yg impor. Ya Allah, Engkoh baek amat!"
Sambil mencari jerigen kecil, Akoh menyahut, " Jangan panggil saya engkoh, Bu. Panggil saja saya Bapak!"
"Iye dah, Bapak."
Acong lalu masuk ke dalam. Nyak Boim nengok ke arah rumah sebelah, ngeliatin Boim.
Saat itu di dalam rumahnya, Lupus mash asyik membalik-balikkan halaman majalah sambil nonton TV. Langkah-langkah kecil si Bringas sudah mendekati Lupus, tangannya memegang selang, siap menjerat lehernya Lupus. Nasib Lupus saat itu udah di ujung tanduk. Tapi rupanya Lupus nggak sadar.
Ketika tangan Bringas sudah terangkat siap mengalungkan slang itu ke leher Lupus, terdengar ketukan keras di pintu. Bringas kaget, ia langsung ngacir, bersembunyi lagi. Lupus bergegas menuju pintu. Dan kaget ngeliat Boim.
"Boim! Kok tumben kesini malem-malem?"
"Iya, Pus. Gue abis nganterin Nyak ke tanggerang, Pulangnya kehabisan bensin. Untung nggak jauh dari rumah lo.... Eh, sedan item di depan itu punya siapa? Tamu rumah lo bukan?"
Lupus menengok ke arah yang ditunjuk Boim.
"Bukan. Nggak tahu deh punya siapa. Gue juga baru lihat. Kenapa, Im.?"
"Soalnya gue mau bikin perhitungan sama dia. Tadi dia nyipratin genangan air ke muka gue sama Nyak gue. Eh, Pus, lo ada bensin nggak?"
"Ya, elu ngeledek. Gue kan nggak punya mobil. Eh, kalo lo dendam ama ntu mobil item, sedot aja bensinnya dikit. Itung-itung kan impas."
"Ide bagus tuh, Pus. Ada slang?"
"Kalo slang ada. Cari aja di dapur.... Aduh, gue mau pipis dulu. Cari sendiri ya, Im?"
Lupus ngacir ke kamar mandi, sedangkan Boim berjalan menuju dapur, tempat si Bringas bersembunyi.
Dapur itu tampak gelap. Pelan-pelan Boim membuka pintunya. Soalnya dia agak takut juga. Dilongokkan nya kepalanya ke dalam dapur, dan matanya menangkap slang yang tadi dibawa si Bringas di lantai deket pintu. Tanpa basa-basi, Boim menarik slang itu. Si Bringas yang bersembunyi di balik pintu keruan saja kaget. Dia berusaha mempertahankan senjatanya itu dengan menginjak ujung slang. Terjadi tarik-menarik sebentar, tetapi si bringas akhirnya melepaskan injakannya. Boim girang sekali mendapatkan slang cukup panjang. Ia balik ke depan, nyari Lupus.
"Nih, ketemu slang-nya!" ujar Boim riang.
Lupus cuma nyengir.
Saat itu dari luar terdengar Nyak Boim memanggil. Mereka pun keluar.
Nyak Boim menenteng jerigen bensin. Boim kontan girang sekali melihat ibunya berhasil mendapatkan bensin
"Nih, Nyak dapet bensin!" ungkap Nyak bangga.
"Wah, sip kalo gitu, Nyak. Pus, nggak jadi nyolong bensin deh. Slang-nya gue balikin ke dapur lagi, ya?"
"Nggak mampir dulu, Nyak?" tanya Lupus.
"Udah kemaleman, Pus. Gara-gara si cabe kriting tuh!"
Boim melangkah ke dapur. Ketika dia buka pintu dapur, si Bringas masih bersembunyi di balik pintu. Boim melempar begitu saja slang itu ke dapur, lalu menutup pintu. Dengan girang si Bringas mengambil slang itu.
Setelah mengisi bensin dan mengembalikan jerigen ke Acong, Boim dan Nyak-nya pun pamit pulang.
Lupus masuk ke dalam rumah lagi. Dia ngelanjutin baca majalah. Si Bringas beringsut-ingsut keluar, sambil ngambil ancang-ancang untunk menyerang Lupus lagi. Tapi sialnya, tiba-tiba telepon genggam yang di bawa si Bringas berdering. Bringas kaget setengah mati, dan langsung melompat ke dapur lagi. Lupus juga kaget dan langsung menoleh. Tapi nggak ada siapa-siapa.
Lupus bangkit "Halo? siapa itu?"
Emang dasar cuek abis, karena tidak ada jawaban, Lupus kembali meneruskan bacaan-nya.
Sementara di dapur si Bringas menjawab telpon dari Nano.
"Ya, sebentar, Bringas belum sempat melakukannya. Tugas dari lo soalnya cukup berat. Dari tadi Bringas berpikir, apanya yg harus Bringas lukai!"
Saat itu Nano dan semua personel band-nya sedang berada di taman dekat rumah Lupus. Memonitor kerjaan si Bringas.
"Sudah, Bang, hajar aja dia. Supaya dia tahu dia telah menghancurkan karier kami sebagai band paling berpengaruh dalam blantika musik Indonesia yang telah di nodai oleh beberapa pemusik tiruan, picisan, dan hanya ingin mengejar rupiah. Band kami adalah perpaduan antara musik ska dengan rock dan telah di-ilhami oleh kejayaan musik rock pada dekade tujuh puluh-an. Video klipnya juga sudah disiapkan oleh beberapa sinematografer terkemuka dengan perpaduan antara warna hitam dan biru sebagaimana layaknya.... Hello.... hellooooo??? Shit! Kenapa sih dia nggak mau dengar?!"
Telepon diasana emang di amatin. Bringas jelas sebel mendengar kecerewetan Nano.
Tiba-tiba dari kejauhan muncullah Boim dan Nyaknya berboncengan naik motor. Tepat di dekat Nano and his friends, motor Boim mogok lagi.
"Apanya lagi, Im?" tanya Nyak sebel.
"Turun dulu, Nyak!"
Nyak Boim turun. Nano melihat Nyak Boim dan Boim.
Boim meneliti keadaan motornya sebentar, lalu dia memandang ke semua personel Panji Tengkorak.
"Ada yang ngerti motor nggak, ya? Atau yang lulusan STM bagian mesin, atau yang pernah membuka bengkel?" tanya Boim pada mereka.
Semua diam.
Kemudian Nano angkat bicara, "Kami bukan montir atau sejenisnya. Kami adalah grup band yang bakal mengguncangkan blantika musik Indonesia dengan album terbaru kami, perpaduan musik ska dengan irama rock yang di-ilhami oleh beberapa pemusik rock dunia macam Brian May, Steve Windwood, Gary Moore dicampur sedikit sentuhan reggae di sana-sini, terutama dalam lagu hit kami: Uah... Uah!"
Nyak Boim mengernyitkan dahi, lalu mencibir. "Lagu lu sepak, ditanya soal sepeda motor jawabnya lain!"
Nano and his friends serentak meninggalkan Boim dan Nyaknya.
"Orang gila kali, Nyak.!" ujar Boim.
"Jadi gimana nih?" tanya Nyak putus asa.
"Sial banget kita hari ini!"
"Kayaknya businya, Nyak. Tadi kan sempet keujanan. Kita balik aja ke rumah Lupus Nyak, titip ni motor disana!"
"Iya deh!"
Boim dan Nyak Boim pun berbalik haluan ke rumah Lupus lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Saat itu Lupus udah mau pindah ke kamar, mau baca-baca sambil tiduran. Sementara Bringas yang tadi niat-nya pengen menyerang Lupus, jadi di-urungkan karena kebelet pipis. Bringas pun mengendap-endap ke kamar mandi.
Belum sempet Lupus merebahkan tubuhnya di kasur empuk, terdengar ketukan lagi di pintu. Lupus sebel, ia langsung keluar kamarnya. Buset, siapa lagi sih? batinnya. Eh, rupa-nya Boim dan Nyaknya balik lagi.
BERSAMBUNG....