
Evero masih tetap dengan posisinya dengan tangan disilangkan dimeja dan kepalanya berpangku pada tangannya seakan akan tangan itulah bagian tubuhnya yang kuat setelah hatinya.
Hatinya yang berusaha Evero kuatkan.
Bel sudah berbunyi dan Evero masih tetap larut dalam pemikirannya. Pemikiran tentang ayahnya. Dio sudah kembali dari kantin dan melihat Evero yang seakan tidak bergeming dari posisinya. Bukannya Dio tidak peduli. Dio peduli bahkan sangat peduli pada sahabatnya. Namun guru sudah masuk ke kelasnya sehingga Dio terpaksa mengikuti kelasnya. Dio tentu tak menginginkan sebuah peringatan ataupun sebuah penghapus papan tulis melayang ke meja mereka berdua. Maka dari itu Dio mengalah untuk dirinya sendiri. Biarlah penghapus papan tulis itu melayang pada temannya. Setidaknya Dio membiarkan Evero sadar sendiri akan dunia nyata yang harus dijalaninya. Dio sadar bahwa pikiran dan jiwa Evero sedang tidak berada ditempatnya.
Sementara Evero terlarut terlalu dalam pikirannya. Dia sama sekali tidak peduli dengan gurunya yang akan marah marah sebentar lagi atau penghapus papan tulis yang sebentar lagi akan melayang. Evero tidak peduli dengan semua itu. Evero tidak peduli jika nantinya dia akan diusir keluar kelas. Evero hanya peduli pada pemikirannya sekarang.
Evero hanya tidak habis pikir pada dunia ini atau mungkin dunianya. Belum habis perkara ayahnya yang ternyata tak lebih baik dari sampah dijalanan Evero kembali dikejutkan dengan fakta bahwa ibunya bermain dengan pemuda yang usianya lebih muda dari Ibunya. Ibunya yang Evero pikir akan jadi satu satunya orang yang masih bisa dia banggakan. Ibunya yang Evero pikir akan menjadi satu satunya dia lindungi.
Kini Evero rapuh. Apalagi yang akan menjadi tujuan hidupnya sekarang disaat orang orang yang dia sayangi tak lagi berpihak padanya. Disaat Evero menjadikan ibunya satu satunya alasan untuk mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup Evero adalah membahagikan orang yang di sayangi. Lalu sekarang, hal apa yang akan menjadi tujuan hidupnya.
Evero yang berusaha berpikir positif dan tetap melanjutkan hidupnya kini tak lebih dari seorang manusia rapuh. Evero yang berusaha tetap tersenyum ramah kini tak lebih dari seorang pemuda lemah yang tak dapat menunjukkan sisi terbaiknya. Evero ingin bercerita tapi kepada siapa? Dio? Dio sahabat dekatnya yang sekarang sedang menatapnya dengan penuh keprihatinan itu.
Dio, orang luar yang dari sejak awal Evero masuk di SMA ini menatapnya tulus. Dio yang sejak awal mengajaknya berkenalan dan telah menjadi sahabatnya selama setahun penuh sampai sekarang.
Dio juga yang sekarang sedang menatapnya itu menjadikan Evero tak lebih dari sebuah boneka yang dipermainkan takdir.
Belum cukup Ayah dan Ibunya yang mengkhianatinya, seakan Dio juga menambah daftar orang orang yang mempermainkan hidupnya.
3 minggu yang lalu saat Evero tahu bahwa ibunya sering bermain dengan pemuda dalam sebuah pertemuan arisan. Evero menemukan Dio masuk dalam daftar pemuda itu. Evero melihat Dio sedang bercinta dengan ibunya disalah satu pertemuan arisan. Arisan yang Evero pikir hanya sekedar memamerkan kekayaan ternyata juga menuntut kepuasan didalamnya. Dan sahabatnya itu berada disana. Menari menari dengan badan yang tidak terlalu kurus itu Dio menunjukkan kepiawaannya. Kepiawaanya dalam menggoda ibu ibu disana.
Evero terkejut bukan main. Dulu ayahnya sekarang ibunya bahkan bersama salah satu sahabatnya sahabat yang Evero pikir akan berakhir dengan kata selamanya.
Lagi dan lagi Evero memainkan perannya dengan baik. Namun kini Evero tak cukup baik. Evero lelah dengan ini semua. Evero ingin berharap kehidupannya baik baik saja. Evero ingin tetap berpikir positif meski seluruh dunia seakan mengkhianatinya. Meski seluruh dunia ingin menghancurkan kejiwaan Evero yang mulai goyah itu.
"Ro!! Guru ngelihatin lo tuh. Jangan tidur". Dio menyenggol Evero yang sedari tadi menatapnya.
Lihat itu.!!.
Dio menatapnya dengan peduli dan ketulusan yang dia dapat lihat. Tetapi mungkinkah ini hanya sebatas apa yang Evero lihat.
Mata itu!!.
Bagaimana mata teduh yang menghiasi wajah Dio itu terlihat begitu polos dan tulus. Seakan akan mata itu mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi dan hanya Evero saja yang merasakan bahwa dunianya sedang tidak baik baik saja.
Bagaimana bisa Dio melakukan ini terhadapnya. Evero tak habis pikir dan menatap Dio dengan padangan kosong.
Kali ini Evero lelah dengan sikapnya yang baik baik saja. Tentu saja Evero marah. Dia ingin sekali menghajar ayahnya dan memncaci ibunya lalu membunuh Dio. Namun Evero sangat amat lelah. Tidak adakah kehidupan lain yang lebih baik dari ini?
Saat ini Evero ingin sekali pergi dari dunia ini. Mungkin dengan dia pergi untuk selama lamanya dunia akan lebih baik.
Brakkkk!!!
"Argghttt". Evero memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia bangkit dari mejanya dan bersandar dikursi menatap gurunya.
"Kan udah gue bilang juga apa!!" Dio mendengus pelan sambil melihat Evero kesal
"Evero!! Siapa suruh kamu bawa tas. Saya hanya suruh kamu keluar dari kelas dan bukan menyuruh kamu keluar sekolah". gurunya menggeram kesal pada Evero sembari mendekatinya.
Saat guru itu sudah berada didepannya dalam jarak kurang dari satu meter, gurunya menarik tasnya dengan paksa
"Siapa yang suruh kamu bawa tas?".
"Saya sendiri pak".
"Jangan main main dengan saya Evero. kamu bisa saya adukan ke Kepala Sekolah!!". gurunya mengancamnya dan Evero sungguh tak peduli.
"Kemarikan tas saya pak!. Saya ingin pulang. Saya pusing hari ini". Evero berbicara pelan dan hanya menatap lantai dibawah kaki gurunya.
"Tidak bisa Evero!!. Ini masih jam sekolah dan kamu dengan tidak tahu malunya membicara....". belum selesai gurunya berbicara Evero menyela perkataan itu.
"Kemarikan tas saya pak".Evero mengulangi lagi perkataanya.
"Kamu....". gurunya menggantung kata katanya. Tidak habis pikir dengan muridnya yang entah kerasukan apa.
"Kemarikan tas saya pak" kini Evero menatap gurunya tajam. Sungguh Evero takut emosinya meledak dan tak terkontrol.
Dio yang menyadari hal itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri dua orang yang berbeda usia itu sebelum semuanya menjadi kacau.
"Ro!!. Lu apa apan dah? Kenapa lo kek gini? Kenapa lo ngelawan Pak Leo. Udah siniin tas lu!!." Dio menengahi dua orang manusia yang sedang berperang dingin itu.
"Bukan urusan lo" Evero menatap tajam Dio lalu beralih mengabaikannya dan beranjak pergi.
"Evero!!". bentak gurunya itu.
"Ro!!. Lo kok jadi nakal gini?" kali ini Dio membentak sahabatnya sambil menahan pergelangan tangan Evero.
Evero yang sudah memaksa pergi mematung ditempatnya. Dia berbalik dan menatap Dio tajam. Sangat tajam bahkan jika mata bisa melukai orang Evero sudah melukai sahabatnya itu.
"Lo ngomong apa? Coba ulang sekali lagi!". Evero bertanya pada Dio sambil menepis pergelangannya.
"Lo kok jadi nakal gi...".
Bughhhh.....
Dan yang terjadi selanjutnya adalah bencana yang Evero takutkan. Dan yang membuat bencana tak lain adalah dirinya.
Maaf kalau ada banyak typo.