Dankin & Evero

Dankin & Evero
Cahaya Putih



Selepas pergi dari kediaman Tuan Begi Dankin kembali berjalan jalan kearah barat kota Spaure. Sebenarnya Dankin ingin ke arah utara tetapi itu terlalu jauh untuknya kembali ke rumahnya yang berada diselatan, belum lagi jika sudah tengah malam penduduk kota sudah banyak yang beristirahat.


Hal itu akan menyulitkannya untuk kembali kerumah mengingat pasukan penjaga akan lebih banyak dimalam hari. Jika Dankin ketahuan dan tertangkap oleh penjaga, Dankin akan dinterogasi dan berakhir dengan dikurung di penjara kota.


Wajar saja, sangat jarang bocah seusianya berkeliaran dimalam hari.


Dibarat kota Spaure lebih dekat dengan akses pintu rahasia yang dia buat sehingga setelah selesai dengan urusannya Dankin akan tiba ditembok atau pintu rahasia lebih cepat.


Setibanya Dankin dibarat kota, dia disuguhkan dengan hiburan Teater Jalan yang saat ini sedang berada dikota Spaure. Teater Jalan sendiri adalah pertunjukkan hiburan bagi Kerajaan Tresadior dan kerajaan lainnya. Mereka adalah sekumpulan orang yang terdiri dari berbagai latar belakang seperti bekas budak, gelandangan seperti Dankin, atau orang yang sekedar mencari kepuasan dalam hidupnya. Bahkan salah satu diantaranya ada yang berasal dari golongan pendekar yang namanya telah melegenda yaitu Pendekar Laut Selatan.


Tidak banyak yang mengerti akan jalan pikiran pendekar itu kenapa dia malah menghabiskan sisa hidupnya sebagai anggota Teater Jalan.


Dankin berdiri dan mencari tempat duduk disela sela penonton yang sudah mulai ramai datang dari berbagai kalangan. Banyak warga yang antusias dengan pertunjukkan tersebut dikarenakan Teater Jalan hanya akan akan berada di Kota Spaure selama 2 minggu.


"Hahahahaha...seluruh keluargamu akan kubunuh dalam satu malam". terlihat seorang pemuda menarik pedangnya dan mengarahkannya ke pemuda dihadapannya.


"Coba saja kalau berani!! Kau pikir aku takut dengan ancamanmu. Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan peta itu".


"Oh!! Kalau kau tidak menyerahkan peta itu maka kau dan seluruh keluargamu akan binasa termasuk kedua anakmu yang masih kecil". pemuda itu terlihat menahan amarah.


"Kau pikir kau bisa membunuhku?". pemuda itu menyunggingkan senyumnya.


"Sebentar lagi pasukan Kerajaan ini akan datang kemari. Raja Hanjo telah memerintahkan untuk membunuh semua ras keluargamu Steven. Hahahaha....". pemuda itu menyombongkan diri.


"Apa??? Kurang ajar!! Sungguh busuk kalian". pemuda itu terlihat menarik pedangnya tetapi sebelum sempat menarik pedang jantung pemuda bernama Steven itu ditusuk oleh lawannya. Darah segar mengalir dibibirnya.


"Membusuklah kalian dineraka!!! Hahahahaha...". pemuda itu tertawa keras.


"Prajurit!!". pemuda itu memanggil anak buahnya sembari menyarungkan pedangnya.


"Periksa semua tempat ini!! Cari peta itu sampai ketemu!!


"Baik Jenderal"


"Tidakkkk!!!". terlihat seorang wanita cantik memasuki panggung  pertunjukkan. Penduduk yang menonton pertunjukkan itu terpukau melihat kecantikan gadis itu.


" Wah cantik sekali gadis ini"


"Apakah dia sudah punya kekasih?"


" Bagaimana cara mendaftar Teater Jalan ini"


Dankin yang duduk menikmati pertunjukkan itu harap harap cemas seperti sedang memasuki dunia pertunjukkan tersebut. Matanya menatap kedepan seperti menyiratkan sesuatu yang mendalam. Namun dia sendiri tidak bisa menyimpulkan perasaan apa itu hingga suara disebelahnya membuatnya menegang.


"Bukankah ini mirip dengan cerita pembantaian Bangsawan Soya?".


"Aku pikir begitu".


"Apa jangan jangan ini kisah aslinya?". terlihat beberapa penonton disebelah Dankin terlihat sedang mengobrol disela sela pertunjukkan tersebut.


"Diamlah !! Suara kalian menganggu. Ini hanya drama pertunjukkan saja. Jangan kau anggap serius!!". pemuda disebelah mereka menegur beberapa orang tersebut.


Dankin sendiri larut dalam pemikirannya. Tentu saja obrolan beberapa orang disebelahnya membuat wajahnya tertunduk sedih. Setelahnya dia bangkit berdiri dan pergi menuju rumahnya.


Selama ini yang Dankin lakukan setiap malam adalah pergi menuju tempat bangsawan berada yang terlibat dan memegang posisi penting di Kerajaan.


Semua itu Dankin lakukan hanya untuk  mengorek informasi tentang tragedi itu. Namun tidak satupun informasi yang Dankin terima mengarah ke tragedi pembantaian keluarganya selama Dankin menyelinap di atas atap rumah bangsawan. Padahal penjagaan di rumah bangsawan sangat ketat.


Untuk ukuran anak seusianya sangat sulit lolos dari penjagaan yang ada disana apalagi Dankin sendiri bukan dari golongan pendekar. Namun semua itu didapat saat dulu Dankin masih menjadi anak bangsawan.


Dari pertemuan itulah Dankin mengetahui bahwa Kerajaan Tresadior memiliki berbagai Pasukan rahasia mulai dari Pasuka Alf bertugas untuk mencari informasi, kemudian ada Pasukan Teir bertugas untuk mengatur strategi, lalu ada Pasukan Dash bertugas sebagai pembunuh.


Tidak disangka dari hasil menguping pembicaraan ayahnya itulah Dankin bisa melakukan hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang sudah sangat terlatih.


"Tidak kusangka, hal itu akan berguna juga dikemudian hari". Dankin tersenyum tipis mengingat semua itu.


Dalam perjalanan pulang Dankin melihat aktivitas penduduk sudah mulai sepi dan banyak penduduk sudah mulai mengunci rumahnya.


"Aku harus segera mencapai gerbang kota sebelum penjaga menemukanku" Dankin segera mempercepat langkahnya.


Dankin lalu sampai di pintu rahasia itu dan melewatinya. Setibanya diluar tembok Dankin bernafas lega dan melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya. Dankin melewati jalan kecil itu lalu tiba di Jembatan Gravel.


"Sepertinya aku lapar lagi. Untung aku sudah memancing ikan dan mencari bumbu di hutan. Kalau tidak aku tidak bisa tidur malam ini".Dankin tersenyum senang saat akan memasak. Baginya memasak adalah penghiburan diri dari hal hal lain yang sampai sekarang terkadang masih sulit Dankin terima.


Wajar saja kehidupan sebagai seorang anak  bangsawan  membuatnya tumbuh menjadi anak yang kebutuhannya selalu dicukupi dan dilayani. Kemudian kehidupannya yang sekarang sangat bertolak belakang dengan apa yang dulu dia dapat. Apalagi dia sudah meanggung beban yang cukup berat dengan kehilangan orang orang yang dia sayang termasuk ibunya.


'Tidak apa apa. Suatu saat aku akan menjadi kuat dan menciptakan keadilan bagi semua orang' batin Dankin larut dalam pemikirannya.


Saat Dankin sampai ditangga untuk turun kebawah, Dankin melihat cahaya putih yang sangat menyilaukan didalam rumahnya hingga dia menyipitkan matanya. Cahaya itu memenuhi rumahnya yang terbuat dari kayu itu.


"Apa itu?" Dankin termenung dengan kejadian itu.


'Apa itu sihir?' batin Dankin yang tidak beranjak dari tebing atas yang ada tangga menurun kebawah sebagai akses Dankin keluar masuk.


Sampai sebuah suara  seperti benda jatuh diikuti suara manusia  mengejutkan Dankin dari ketermenungannya.


"Aduhhh....".


Dankin segera turun kebawah tebing disamping Jembatan Gravel lalu bergegas melihat yang sebenarnya terjadi. Dankin terkejut melihat seorang pemuda asing berumur sekitar 17 tahun ada didalam rumah sederhananya.


"Siapa kau?". Dankin terlihat cemas dan takut. Selama ini tidak ada orang yang menyadari Dankin tinggal dibawah jembatan karena lebatnya pepohonan diatas tebing.


"Mengapa kau dirumahku?". Dankin bertanya kembali sembari meneliti pemuda asing itu yang lebih tua darinya. Pakaiannya terasa aneh untuk penduduk Kota Spaure. Belum lagi kulit pemuda asing itu yang tidak terlalu putih tapi sedikit coklat menandakan dia bukan penduduk asli Kota Spaure.


Memang rata rata ada banyak pendatang yang keluar-masuk kekota Spaure. Biasanya pendatang itu dari kalangan pedagang atau pendekar dari kota lain ataupun dari kerajaan tetangga tetapi rata rata kulit mereka lebih putih dari pemuda asing dihadapannya. Dia sama sekali belum pernah bertemu pendatang seperti ini.


'Apa dia penduduk Rasian seperti yang aku dengar dulu dari ayah' Batin Dankin terlarut dalam pemikirannya sendiri.


Pemuda asing itu masih terkejut dan memeriksa sekitarnya. Kemudian pemuda asing itu menyadari ada anak kecil dihadapannya sambil menunjukkan muka yang sama terkejutnya dengan dirinya. Meski samar tetapi dia masih bisa melihat raut wajah anak kecil itu karena penerangan cahaya bulan.


"Hey aku bertanya padamu. Siapa kau? Mengapa kau ada dirumahku?". bocah kecil itu bertanya kembali


'Rumah?Dimana letak rumah yang disebutkan anak kecil ini'. batin pemuda asing itu sambil terheran heran.


"Hey!!Jawab!!". bocah kecil itu terlihat semakin kesal karena pemuda dihadapannya tidak menjawab daritadi dan malah diam sambil memperhatikan sekitar.


"Berisik amat sih lo, bocahhh!!."


"Ini gua dimana sih elah?"


Hayooo kok lo gua?


Terimakasih


Orhius