Charm Wife Man

Charm Wife Man
Chapter 59 - Likes If There's a Ruckus



No matter how good Aslan was at getting in there but still He had no choice but to retreat.


The file in his hand now must also be given to the President Director and must he hand it over himself.


so later if there is a question from Steve, he can immediately explain the contents of the file.


Aslan gulped his own saliva violently, his right hand clenched tightly until it finally lifted up to knock on the door of the room.


Tok tok!


"Come in" said Steve.


A knock on the door that made his conversation with his wife so stopped.


Nadia also tidied up her skirt that was too up, however she must look polite in front of her men the husband.


Aslan then walked into the room, with his heart pounding incoherently.


While Nadia who saw her ex-husband enter this room was ordinary, there was not the slightest feeling that affected her heart. She had completely numb to the man, now Nadia only saw Aslan as Steve's employee, nothing more.


"Aslan, come in, what's up?"


"Excuse me sir, sorry to interrupt your time, this is your evaluation file for yesterday's event."


Give it to me, sit down first."


"Thank you, sir." Aslan glanced at Nadia at a glance, but the woman continued to stare at Steve.


The report made by Aslan had some things wrong, so Steve asked for confirmation of the correct data.


Throughout their meeting Aslan was like losing his pride in front of Nadia, he seemed to continue to beg Steve so as not to get the man's anger over the mistakes he made.


"This file stays here, the repair is emailed," Steve said, ending their conversation. Now Nadia has to go home to pick up her son.


Steve wanted to take Nadia down, which is why he ended his discussion with Aslan.


"Good Old, I'll send it to you soon."


"Good, you can get out."


Aslan bangkit dan menundukkan kepalanya memberi hormat sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu.


Diluar sana Aslan langsung membuang nafasnya dengan kasar, kini bukan hanya satu tangannya yang terkepal kuat, tapi kedua tangannya sekaligus.


Di dalam sana Entah kenapa dia merasa baru saja dipermalukan oleh Steve, pria itu seolah benar-benar ingin menunjukkan posisinya yang sebagai bawahan. Dan itu sungguh membuatnya marah.


Kurang ajar, aku tau sekarang kamu sudah bersama Nadia. Tapi aku dan Nadia memiliki Zayn, dan Zayn tidak akan pernah membuat kami benar-benar berpisah. Batin Aslan.


Pertemuan itu justru membuat dia tidak bisa diam saja diperlakukan seperti ini. Aslan mulai menyusun rencana untuk membalas semua rasa sakit hatinya.


Tapi Aslan tidak sadar, jika sejak tadi gerak-geriknya sudah dipantau oleh Jacob.


Aslan mungkin akan mengambil 1 langkah untuk menyakiti Nadia dan Steve, tapi Jacob tidak akan pernah membiarkan hal itu, dia akan mengambil 2 langkah dihadapkan Aslan untuk mencegah.


"Aku paling suka kalau ada keributan seperti ini," gumam Jacob, lalu tertawa sendiri. Sekarang malah dia yang nampak seperti pria gila.


Jacob bahkan sudah memasang penyadap suara di dalam ruangan Aslan, jadi dia bisa mendengar semua rencana licik pria itu.


Dengan senyumnya yang masih terukir lebar, Jacob kemudian memanggil beberapa karyawan untuk segera menyebar undangan pernikahan sang Tuan.