
Denata melanjutkan perjalanannya dengan anak panah Pasopati di tangannya, penuh harapan akan kekuatan baru yang dimilikinya. Namun, saat mencoba menggunakan energi Pasopati, dia menyadari bahwa penggunaan energi yang diperlukan jauh lebih besar daripada yang dia perkirakan. Tubuhnya terasa lemah, dan dia merasakan kelelahan yang tak terbayangkan sebelumnya.
"Kenapa aku begitu bodoh?" gumam Denata dalam hati, kecewa pada dirinya sendiri. "Aku terlalu gegabah mengira bahwa dengan Panah Pasopati ini, aku akan dengan mudah mengalahkan segala lawan."
Namun, tidak berputus asa, Denata mengumpulkan kekuatan terakhirnya dan melanjutkan perjalanan di dalam dungeon.
Denata melanjutkan perjalanannya di dalam dungeon, langkah demi langkah dengan hati yang penuh tekad. Di setiap sudut gelap dan lorong sempit, ia harus menghadapi berbagai monster yang ganas dan licik.
Setiap pertarungan di dungeon itu menjadi momen yang menegangkan. Denata berdiri tegap dengan panah di tangan, memperhatikan setiap gerakan monster yang mendekat. Monster pertama muncul, melontarkan serangan kejam ke arahnya. Denata dengan sigap menghindar dan dengan cepat meluncurkan anak panah yang tepat mengenai sasaran. Panah itu menghunus ke dada monster, menghancurkan jantungnya.
Tubuh monster itu jatuh dengan gemuruh di atas lantai dingin dungeon. Namun, belum sempat Denata bernafas lega, serangkaian monster lain muncul dari gelapnya lorong. Mereka menyerang dengan gigi, cakar, dan serangan energi yang mematikan. Denata bergerak lincah, menghindari serangan mereka dengan gerakan yang hampir tak terlihat.
Dia mengambil nafas dalam-dalam, fokus pada kekuatan Arjuna yang mengalir di dalam dirinya. Keterampilan memanahnya semakin terasah, anak panahnya meluncur dengan kecepatan kilat, mengenai sasaran dengan presisi yang luar biasa. Monster demi monster jatuh di hadapannya, seperti tangisan kemenangan memenuhi ruang dungeon itu.
Tetapi perjalanan ke boss monster belum berakhir. Denata melangkah maju dengan hati yang berdebar-debar, berusaha menjaga ketenangan dan fokusnya. Di ruangan terakhir, ada boss monster yang begitu besar dan menakutkan. Rambutnya berapi-api, dan matanya memancarkan aura kegelapan yang mengerikan.
Pertarungan melawan boss monster itu menjadi acara yang luar biasa. Denata meluncurkan anak panah demi anak panah, berusaha mencari celah untuk menyerang. Boss monster itu membalas dengan serangan yang mengguncangkan tanah dan menciptakan gelombang energi yang merusak sekelilingnya.
Denata terjebak dalam pertempuran sengit, menghindari serangan-s Serangan itu meluncur di udara, berputar-putar dengan kecepatan tinggi, mengarahkan anak panahnya dengan akurasi yang sempurna. Dalam momen yang menentukan, anak panahnya menembus dada boss monster dengan kekuatan yang mematikan.
Monster itu meraung dalam penderitaan dan kemudian runtuh dengan gemuruh. Ruangan itu kembali hening, tetapi kelelahan dan luka-luka tampak di wajah Denata. Dia terhuyung-huyung, berusaha menahan napas dan memulihkan energinya.
Namun, tak ada waktu untuk beristirahat. Denata tahu bahwa masih ada perjalanan yang harus dilakukan, tantangan yang harus dihadapi. Dia mengambil napas dalam-dalam, memperkuat tekadnya, dan melanjutkan langkahnya menuju petualangan berikutnya di dalam dungeon yang misterius dan penuh bahaya.
Denata menjelajahi lorong-lorong gelap di dalam dungeon yang tak berujung. Ia berhati-hati, menyusuri setiap lorong dengan waspada karena tahu bahwa bahaya bisa mengintai di setiap sudut. Lampu-lampu redup di sekitarnya menciptakan suasana misterius dan tegang.
Tiba-tiba, suara langkah-langkah yang berat terdengar dari belakang. Denata berbalik cepat, menarik panah dari busurnya, siap untuk menghadapi siapa pun yang muncul. Namun, alih-alih musuh yang diharapkannya, ia melihat sekelompok orang di hadapannya. Mereka terlihat seperti perompak dungeon, mengenakan pakaian kumal dan senjata yang berbahaya.
"Siapa kalian?" tanya Denata dengan suara bergetar, tetap waspada terhadap niat mereka.
"Kami adalah perompak dungeon, dan ini adalah wilayah kami," jawab pemimpin perompak dengan nada sombong. "Kami telah mendengar tentangmu, Denata. Kabarnya, kamu adalah seorang petualang yang cukup terampil. Kami ingin menguji kemampuanmu."
Denata memperketat pegangannya pada busur dan memandang mereka dengan penuh tekad. "Jika itu yang kalian inginkan, maka kalian akan mendapatinya. Aku tidak akan mundur."
Pertemuan itu terjadi di sebuah ruangan yang luas, dengan dinding-dinding yang terbuat dari batu kuno. Lampu-lampu redup yang tergantung di langit-langit menyinari pertarungan yang akan datang. Semua mata tertuju pada Denata dan kelompok perompak.
Pemimpin perompak itu mengangkat tangannya, memberikan isyarat untuk memulai pertarungan. Keempat rekannya siap beraksi, senjata-senjata mereka bersiap untuk menyerang Denata. Denata merasakan adrenalin mengalir dalam tubuhnya, siap untuk menghadapi tantangan ini.
Pertarungan dimulai dengan serangan pertama dari perompak pertama. Ia meluncur maju dengan cepat, mengayunkan pedangnya ke arah Denata. Namun, Denata dengan lihai menghindar, melompat ke samping dengan gerakan yang gesit.
Sambil terus menghindari serangan-serangan perompak, Denata mengevaluasi kelemahan musuh-musuhnya. Ia melihat celah-celah dalam pertahanan mereka dan mencari kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Tubuh Denata bergerak dengan lincah, melompat, menggelincir, dan menghindari serangan-serangan mematikan yang datang dari setiap arah. Dengan keahlian memanahnya, Denata mengambil anak panah satu per satu dari tabungnya dan melesatkannya dengan presisi yang tak tertandingi.
Anak panah pertama menghantam perompak kedua tepat di dada, membuatnya terdorong mundur dengan rasa sakit yang tak terelakkan. Anak panah kedua dan ketiga menghujam ke arah perompak ketiga dan ke
empat, masing-masing mengenai sasaran dengan akurasi yang mematikan.
Dengan rasa sakit dan kemarahan yang membara, Denata kembali meluncurkan anak panah terakhirnya. Anak panah itu melesat dengan kecepatan tinggi dan menghantam perompak terakhir tepat di dada, mengakhiri pertarungan dengan kemenangan bagi Denata.
Dalam senyap, tubuh perompak-perompak itu jatuh ke lantai dungeon satu per satu. Suasana tegang kembali melingkupi ruangan tersebut. Denata menghela nafas dalam-dalam, merasa lega setelah berhasil mengalahkan kelompok perompak tersebut.
Namun, Denata sadar bahwa tantangan-tantangan lebih berat masih menantinya di dalam dungeon yang luas ini. Ia mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan, menuju tujuannya yang lebih tinggi. Dengan tekad yang kuat, ia melangkah maju, siap menghadapi segala rintangan yang akan datang.
bersambung
sistem: hei kalian iya kalian yang lagi rebahan sambil nge Swift atau nge scroll novel ini jangan cuma baca doang like dong biar si author gak merasa karyanya gada yang baca
denata:wadaw galak amat sabar gak usah nge gas ya gak Thor
author: iya ntar yang ada pembacanya kabur.
denata: eh btw itu siapa Thor
author: eh
dengan kehendak author sistem kembali jadi partikel kecil
namun
denata: (mengarahkan busur dan anak panah ke author sambil tersenyum dengan anggun) itu siapa ya author sayang
author:*glek* sabar denata kalau aku mati ini komik bakal nge stuck
denata: iya juga yaudahlah traktir bakso aja.
batin author: belum juga digaji
denata: kenapa Thor( dengan suara imut)
author: gpp
denata:makanya baca like comment and sh are biar author bisa traktir denata yang tampan dan imut ini bakso
Karakter she alan
denata: ngemeng lagi sekali Thor belum di siapin pasopati nya
glukk
KABOOOOORRRR UNTUK KESELAMATAN KITA SEMUA BURU LANJUT KE EPS SELANJUTNYA BIAR SELAMET SEBELUM KENA PASOPATI
jleb pasopati tepat mengenai author (ini jiwa kedua author)