
Setelah berhasil mengalahkan Astaroth, Denata dan teman-temannya merasa lega. Namun, mereka juga merasa bahwa perjalanan mereka belum berakhir. Ada banyak pertanyaan yang perlu dijawab dan misteri yang harus diungkapkan.
Dalam keadaan yang lelah dan penuh penasaran, mereka kembali ke pusat Kingdom of Nusantara, mencari jawaban dari NPC bijak yang mereka temui sebelumnya. Dengan informasi baru yang mereka peroleh dari pertempuran mereka melawan Astaroth, NPC tersebut membantu mereka memahami bahwa keberadaan Astaroth adalah akibat dari ketidakseimbangan antara kekuatan baik dan jahat di dunia game ini.
"Untuk memulihkan keseimbangan, kalian harus mencari tiga artefak suci yang tersembunyi di tempat-tempat yang penuh bahaya," kata NPC tersebut. "Hanya dengan mengumpulkan ketiga artefak tersebut, kalian akan mampu mengembalikan kedamaian dan keharmonisan ke Kingdom of Nusantara."
Denata dan teman-temannya setuju untuk melanjutkan pencarian mereka. Mereka berangkat ke tempat-tempat legendaris yang dijaga oleh makhluk-makhluk kuat dan ujian-ujian berbahaya. Pertama, mereka menuju Hutan Angin, tempat di mana artefak pertama dikabarkan tersembunyi.
Dalam perjalanan mereka, mereka dihadapkan pada tantangan seperti labirin yang membingungkan, jebakan mematikan, dan monster-monster ganas yang menjaga artefak. Denata dan timnya harus menggunakan kecerdikan dan keterampilan bertarung mereka untuk melewati semua rintangan tersebut.
Setelah melewati ujian yang sulit, mereka berhasil menemukan artefak pertama, yaitu Pedang Angin. Pedang ini memiliki kekuatan angin yang mampu membelah apa pun dengan cepat dan akurat. Dengan memiliki artefak ini, Denata merasa semakin dekat untuk memulihkan keseimbangan yang hilang.
Mereka kemudian menuju Gunung Api Abadi, tempat di mana artefak kedua, Kalung Api, diyakini berada. Gunung ini terkenal dengan kehangatan dan kekuatan api yang menyelimuti wilayahnya. Denata dan teman-temannya harus melewati aliran lava yang mematikan, gunung berapi yang meletus, dan mahluk-mahluk api yang melindungi artefak tersebut.
Dalam pertempuran yang sulit dan panas, mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka dan menemukan Kalung Api. Kalung ini memberikan kekuatan yang tak terbatas dalam memanipulasi dan mengendalikan api. Dengan mengumpulkan kedua artefak, Denata merasa semakin percaya diri dan semangat mereka semakin membara.
Namun, perjalanan mereka belum selesai. Mereka harus menghadapi ujian terakhir di Lautan Gelap, tempat tersembunyi di mana artefak terakhir, Keris Gelap, dipercaya ada. Lautan ini dipenuhi dengan badai
Denata dan teman-temannya tiba di Lautan Gelap dengan perahu kecil yang mereka sewa. Ombak yang mengguncang perahu menunjukkan betapa berbahayanya lautan ini. Mereka berlayar menuju pulau terpencil di tengah laut yang dikatakan menjadi tempat persembunyian artefak terakhir, Keris Gelap.
Setelah tiba di pulau itu, mereka melihat bahwa pulau itu terdiri dari hutan lebat yang tersembunyi di balik kabut tebal. Mereka melangkah perlahan, tetap waspada terhadap bahaya yang mungkin mengintai. Denata merasa ada kekuatan gelap yang mencekik di sekitar mereka, dan dia yakin Keris Gelap adalah sumber dari kekuatan itu.
Dalam perjalanan mereka, mereka bertemu dengan seorang pendeta tua yang tinggal di sebuah kuil tua di tengah hutan. Pendeta itu memberitahu mereka tentang legenda ajian sakti yang terkait dengan Keris Gelap. Ajian ini, yang dikenal sebagai "Ajian Dewa Hitam", memberikan kekuatan yang luar biasa kepada pemiliknya. Namun, ajian tersebut sangat berbahaya dan hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki niat baik yang kuat.
Dengan bantuan pendeta tua, Denata dan teman-temannya mulai belajar tentang Ajian Dewa Hitam. Mereka diberi pelatihan intensif tentang mantra dan gerakan yang diperlukan untuk menguasai ajian ini. Setiap anggota tim mereka diberi tugas khusus untuk menguasai keahlian tertentu dalam ajian, seperti kekuatan penyembuhan, serangan elemental, atau perlindungan.
Setelah berbulan-bulan latihan dan pengasahan kemampuan mereka, Denata dan teman-temannya merasa siap untuk menghadapi ujian terakhir mereka di pulau itu. Mereka menuju ke gua tersembunyi di lereng gunung di tengah hutan, tempat Keris Gelap diyakini tersembunyi.
Di dalam gua, mereka dihadapkan pada serangkaian ujian dan perangkap yang rumit. Mereka harus menggabungkan keahlian ajian mereka dengan kecerdikan dan keberanian mereka untuk melewati setiap ujian dengan sukses. Mereka berhadapan dengan monster-monster ganas dan jebakan mematikan yang menjaga artefak tersebut.
Tak lama kemudian, Denata menemukan ruangan rahasia tempat Keris Gelap berada. Ketika dia mengangkat keris itu, dia merasakan energi hitam yang kuat merasuk ke dalam dirinya. Namun, karena latihan yang intens dan kemampuan ajian yang mereka kuasai,Denata mampu mengendalikan energi hitam yang merasuk ke dalam dirinya. Ia merasa kekuatan yang tak terbayangkan mengalir melalui tubuhnya saat ia memegang Keris Gelap. Namun, Denata segera menyadari bahwa kekuatan ini harus digunakan dengan bijaksana dan dengan niat yang murni.
Dengan hati-hati, Denata dan teman-temannya keluar dari gua dan kembali kepada pendeta tua. Mereka menceritakan tentang penemuan mereka dan meminta petunjuk mengenai cara menggunakan Keris Gelap dengan benar. Pendeta tua memberikan nasihat bijaksana kepada mereka, mengingatkan bahwa kekuatan yang besar juga membawa tanggung jawab yang besar.
Denata memutuskan untuk menggunakan Keris Gelap hanya dalam keadaan darurat dan dengan niat yang baik. Dia berjanji untuk melindungi kerajaan dan orang-orang Nusantara dari segala ancaman yang mungkin muncul. Teman-temannya setuju dengan keputusannya dan berjanji untuk mendukungnya dalam menjaga keseimbangan yang rapuh di Kingdom of Nusantara.
Kembali ke pusat kerajaan, Denata dan teman-temannya disambut dengan sukacita oleh penduduk setempat. Mereka menceritakan tentang petualangan mereka dan bagaimana mereka berhasil mengumpulkan tiga artefak suci yang legendaris. Berita ini menyebar cepat, dan rakyat Nusantara menjadi bersemangat dengan harapan baru.
Namun, kegembiraan mereka tidak berlangsung lama. Sebuah kegelapan tiba-tiba melanda kerajaan. Pasukan iblis yang dipimpin oleh panglima jahat mencoba merebut kembali artefak dan mengambil alih Kingdom of Nusantara. Denata dan teman-temannya menyadari bahwa perjuangan mereka belum berakhir.
Dalam pertempuran epik yang mengguncangkan kerajaan, Denata memimpin pasukannya menggunakan kekuatan Keris Gelap. Ia mengayunkan keris dengan kekuatan ajian yang luar biasa, menghancurkan barisan pasukan iblis dengan kecepatan dan ketepatan yang menakjubkan. Bhagas, dengan tamengnya yang kokoh, melindungi pasukan dari serangan musuh, sementara Arga menghujani mereka dengan panah-panah sakti.
Angga memanggil kekuatan penyembuhan untuk menyembuhkan luka-luka pasukan mereka, sedangkan Twerfan menggunakan sihir-sihirnya untuk mengacaukan formasi musuh. Dalam pertempuran yang panas, pasukan Denata berhasil memukul mundur pasukan iblis dan mengalahkan panglima jahat.
Denata dan teman-temannya merayakan kemenangan mereka, tetapi mereka juga menyadari bahwa perjuangan mereka untuk menjaga keseimbangan belum berakhir. Mereka tahu bahwa kekuatan jahat akan selalu mencoba merebut kembali artefak dan mengancam kerajaan.
Dengan tekad yang kuat, Denata dan teman-temannya membentuk kelompok penjaga kerajaan. Mereka berjanji untuk menjaga artefak