
~alvaro
Jangan ragu di kala aku bungkam. Untuk mencintaimu, aku tak mau berucap. Karena kamu adalah syair yang membuatku senantiasa gugup.
Jika nanti cinta dan rindu tak terdengar di telingamu lagi, percayalah doaku akan setia memeluk jiwamu hingga malam yang menyendiri.
Sungguh ironis padahal ramai kota, rindu yang haus menjelma fatamorgana, terbayang manis senyummu yang jauh di sana.
***
Jika siang tidak kau dapati matahari cerah, sebab awan mendung jadi penghalang.
Jika malam ini tidak kau dapati cerahnya lampu kota dan taman, sebab kau tak di sampingku.
***
Cahaya kota yang telah lama ditinggal, kini telah memanggil pulang.
Kuharap kau juga demikian, setelah lama berpetualang Kembalilah ke pelukan berdua saja, sayang.
Tuhan menjagamu dari aku yang diam-diam mencintaimu.
***
Entah, ini hujan yang keberapa di bulan november.
Sejak kepergianmu yang meninggalkan berjuta sesak di dada, juga isak yang tak pernah kulewati ketika hendak menuju lelap.
***
Sajak takkan pergi, sajak takkan terlelap sajak akan setia berdiskusi dengan nurani ketika rinai sepi dan takkan membiarkan tuan dan puannya tersesat ditelan pekat malam.
***
Cukup rindu saja, hanya rindu, jangan temu, nanti segalaku sulit menyudahinya.
***
Sudah larut dengan kenangan sudah surut oleh genangan.
***
Tak pandai aku merangkai sajak , hanya pandai menyimpan rasa.
Bicaraku kaku, namun rinduku semakin utuh.
Tak apa. Aku masih kuat menyimpannya.
***
Aku menulis puisi tentang sepi, sejak hatimu tak kenal aku lagi, sejak seluruhku kau tinggal pergi.
***
Semenjak hatiku kau patahkan, aku lupa bagaimana caranya bahagia.
***
Yang tersisa dari hubungan ini adalah penyesalan, sejumlah air mata, dan sedikit kerinduan.
***
Genang hujan di telapak tangan, adalah doa yang basah di lantai malam, jiwa yang menangis merasa kehilangan, mengharap sebuah kepulangan.
***
Duhai sepi, puisikan aku, aku ingin ******* perasaanku sendiri, di antara kata kata yang patah oleh sebuah kepergian.
***
Aku yang tak pandai menjagamu, atau kamu yang sudah bosan bersamaku?
***
Hujan datang tak mengenal waktu, seperti rindu, jatuh di dadaku bertalu-talu, tak tau malu.
Pada hal yang kunamakan rindu, aku mempunyai banyak air mata, dan doa doa yang kuterbangkan setiap waktu, untukmu.
Asal kamu tau aku itu ingin selalu bersamamu pada saat sekarang dan selamanya.
***
Cinta adalah bahasa yang digunakan oleh semua orang, tapi hanya bisa dimengerti oleh hati.
***
Kamu tuh terkadang seperti secangkir kopi, menghangatkan di saat dingin sampai menyentuh batinku.
***
Bila kangen dapat dijadikan sebuah buku, aku tak akan mampu menghitung jumlah halamannya.
***
Satu hal yang tak aku suka tentang cinta: semakin aku menyangkalnya, semakin dia membuatku jatuh cinta.
***
Salah satu alasan kenapa sebuah hubungan berakhir adalah karena berhenti melakukan hal yang dilakukan ketika pertama kali bertemu.
***
Seseorang yang mencintaimu tidak akan membiarkan kamu meneteskan air mata.
***
***
Kegagalan cinta bukan berarti kehidupan cintamu gagal, melainkan sebuah fase pembelajaran agar kehidupan cintamu berhasil.
***
Mendamba cintanya membawa bahagia dan mulia, diperbudak cinta kepada manusia seringkali jadi sengsara dan hina.
***
Cinta sejati tidak datang kepadamu,tetapi harus datang dari dalam dirimu.
***
Cinta sejati itu tak akan terpisah karena jarak, tak akan berubah karena waktu, dan tak akan hilang hanya karena amarah.
***
Cinta itu bukanlah matematika, tidak ada yang pasti, selain kita yang memastikan di dalam diri kita sendiri.
***
Jika kamu tulus mencintainya, jangan pernah hiasi matanya dengan air mata, telinganya dengan dusta, dan hatinya dengan luka.
***
Ketika jatuh cinta, jangan berjanji tak saling menyakiti, namun berjanjilah untuk tetap bertahan, meski salah satu tersakiti.
***
Bunga dan lebah mengajarkanku bagaimana cara memberi dan menerima dalam satu kata bahagia.
***
Jika hatimu tak mampu lagi menanggung beban sendirian, biarkan air mata melakukan tugasnya.
***
Kau akhiri kisah ini begitu saja, segala yang luar biasa dalam hubungan kita menjadi tidak ada artinya.
***
Kalau saja kau mengerti perasaanku saat ini, aku ingin sekali bisa membencimu.
***
Mengapa sikapmu tiba tiba berubah? kau sengaja menghindar, atau memang ingin meninggalkan.
***
Lama lama aku mulai terbiasa tanpamu, sendiri telah mengajarkanku banyak hal, tak peduli segalamu misalnya.
***
Perihal hubungan kita yang patah, bukan cinta yang salah, tapi kita yang sama sama tak mau mengalah.
***
Mengapa kenangan kerap datang saat hujan? saat pelukan hilang, dan rindu rindu beterbangan, sedangkan air mata adalah musim yang mengekal di telapak.
***
Aku patah, segala upayaku mempertahankan hubungan kita sedikit pun bagimu tak berarti apa apa, entahlah.
***
Aku sudah mempercayakan hatiku kepadamu, tapi kamu tak pernah menganggap aku ada, aku kecewa.
***
Aku kembali menjadi kepingan hati, tersebab kau lukai berkali-kali, apakah cinta hadir untuk mencipta nyeri?
***
Dingin ini, adalah pelukanmu yang hilang, tanpa meninggalkan apa-apa.
***
Kamu tidak tau seberapa dalam kesedihan ini, yang kamu tau hanya senyumku yang selalu ada tiap kali aku kau pandangi.
***
Andai waktu berjalan mundur, aku akan kembali ke hatimu, dan perlahan membiarkan cinta melepaskan dirinya.
***
Mengapa hujan cepat berhenti? Padahal air mataku masih ingin bercerita tentang kesedihan yang tak sudah sudah ini.
***
Aku pernah merasakan yang seperti ini, jauh darimu, kehilanganmu, dan rasanya masih sama, sakit sekali.
***
Bila ada hati yang sanggup mencintai dua jiwa secara bersamaan, mungkin kamulah orangnya.
for MENTARI