We And Problems

We And Problems
Chapter 52 : Peralihan



Seseorang yang tepat bagi Ree untuk mengambil alih adalah seseorang yang memiliki kekuasaan cukup tinggi dan ia yang dekat dengan Frigid. Tak lain adalah Yohanna itu sendiri.


Alasan Ree memilih Yohanna adalah karena ia tahu Frigid cukup akrab dengan saudara kembar itu, terlebih saat Frigid dan Servio bertengkar, terdapat Yohanna menunggu bersama Ree di depan ruang kepala akademi.


Liliana tidak memiliki alasan untuk menolak keputusan Ree, selama itu tidak lagi memberatkan Ree, ia akan tetap mendukung.


Mereka berdua pun memanggil Yohanna sebelum makan malam. Dimana keduanya mengajak Yohanna untuk berbicara di kamar Liliana dan menunjukkan surat dari Brina pada wanita bersurai pirang bergelombang itu.


Kedua tangan Yohanna nampak bergetar dan bola mata birunya terbuka ketika membaca surat dari Brina.


“Ree, apa ini benar?” tanya Yohanna tak percaya.


Ree mengangguk.


“Itu benar, informasi yang sepupu berikan tidak mungkin laporan palsu.” jawab Ree.


Yohanna menatap Ree tak percaya. Ia pikir selama ini hanya mereka yang tahu, meski Yohanna tidak mengerti kenapa Ree bisa tahu bahwa Frigid bergantung pada obat. Namun apa yang ia temukan saat ini merupakan kabar gembira bagi Yohanna yang mengetahui kenapa Frigid bisa hidup sampai saat ini.


Tiba-tiba Yohanna melayangkan pelukan yang sangat erat pada Ree. Sampai-sampai Ree sendiri kesulitan untuk bernapas karena pelukan yang disertai ucapan terima kasih penuh haru itu.


“Ree! Terima kasih! Tentu saja aku akan melakukan apapun itu untuk membantu Frigid. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian berdua, tapi hal ini merupakan salah satu harapan untuk menyelamatkannya.” ucap Yohanna penuh dengan rasa syukur dan bahagia.


Ree tidak begitu mengerti, ia hanya melakukan sesuatu yang ia pikir harus diselesaikan. Jika Yohanna sampai berterima kasih seperti ini, bukankah apa yang Ree dapatkan merupakan hal yang bermanfaat untuk orang lain.


Rasanya cukup melegakan.


“Hmm, tapi terdapat beberapa hambatan untuk mendapatkannya.” timpal Liliana.


Yohanna mengangguk mengerti sembari ia melepas pelukannya pada Ree.


“Kamu benar, tapi tenang saja. Aku akan mencari tahu lebih dalam kesulitannya agar bisa memecah masalah sedikit demi sedikit.”


Liliana dan Ree cukup lega mendengar ucapan putri kerajaan mereka satu itu. untungnya mereka bertemu dengan Yohanna yang memiliki karakter mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah untuk di ajak kerja sama dalam hal seperti ini.


Setelah pembicaraan mereka selesai, ketiga wanita itu memutuskan untuk pergi ke aula makan untuk makan malam.


Ree yang sedikit mendapatkan penghiburan hatinya itu mulai sedikit bernafsu makan, ia berniat untuk makan dan mengobrol ringan bersama Liliana dan temannya di meja makan yang sama. Hari ini mungkin cukup panjang ia jalani, namun Ree tidak ingin dirinya terpuruk terlalu lama. Bagaimana pun juga Ree akan tetap menjalani kehidupannya dan berusaha menjadi normal seperti manusia biasa.


Namun, nampaknya suasana hatinya menjadi sangat mudah berubah ketika Servio datang menghampirinya dan mengajak makan bersama di meja lain.


Dan hanya berdua saja.


Masih lekat di ingatan Ree ketika pria dihadapannya saat ini berlutut dan meminta maaf dengan cara yang menurut Ree sangat tidak pas. Ree sendiri menilai bahwa perbuatannya menolak permintaan maaf Servio adalah perbuatan jahat, namun itulah yang bisa ia lakukan.


“Aku hanya ingin makan bersamamu.” ucap Servio setelah keduanya duduk di meja tunggal yang ada di sisi aula makan. Meja tunggal itu jarang digunakan karena para murid lebih suka makan bersama di meja panjang. Namun, asrama juga menyediakannya bagi mereka yang kurang suka makan di tempat ramai.


“Apa ini? Kenapa mereka makan berdua?” tanya Liliana tak habis pikir ketika melihat Servio mengajak Ree untuk pergi ke meja tunggal.


“Apa mereka sedang berkelahi? Suasananya sangat tidak nyaman.” timpal Yohanna yang ikut bersama Liliana.


“Akhir-akhir ini Ree juga kurang bersemangat dan sulit tidur.” Sambut Ghea.


Pemandangan Ree dan Servio mungkin membingungkan beberapa orang, namun berbeda dengan Alexander yang sebenarnya sudah mengetahui kebenaran antara Ree dan Servio. Ia hanya terdiam ketika melihat Ree dan Servio makan semeja.


“Alexander, kenapa kamu tidak makan makananmu?” tanya Frigid yang duduk di samping Alexander.


Frigid cukup dibuat heran dengan ulah temannya satu itu, hanya termenung memandangi Ree dan Servio makan berdua, sementara makanan di nampannya tidak tersentuh sama sekali.


“Ah, aku akan memakannya.” ucap Alexander setelah beberapa detik ditegur Frigid.


Suasana tegang yang dilihat oleh teman-teman Ree, bukanlah khayalan semata karena benar adanya di antara Ree dan Servio. Awalnya mereka berdua makan dengan tenang dan saling berdiam, hingga mata Servio seperti tertarik akan sesuatu pada diri Ree.


“Kenapa kamu tidak memakainya?” tanya Servio menyinggung jari manis kiri Ree yang tidak terdapat cincin pertunangan mereka.


Ree tersadar, ia selalu melepaskan benda itu ketika ia bersama teman-temannya dan juga Ree merasa selalu terbebani ketika mengenakan cincin emas dengan permata berwarna merah muda itu.


“Aku menyimpannya di lemari.”


Seingat Ree, tempat yang aman saat ini adalah lemarinya.


“Pakailah benda itu. Meski aku tahu kamu tak mau, tapi aku ingin kamu memakainya.”


Tidak terdengar seperti memaksa, Ree merasa kata-kata yang keluar dari mulut Servio sudah seperti ia yang biasanya. Ree tidak tahu bagaimana wajah pria itu saat ini karena sudah seperti pantangan bagi Ree untuk menatapnya.


*


*


*


“Yohanna, apa kamu mau teh?” tanya salah satu rekan sekamarnya pada wanita yang sedang membaca buku di meja belajarnya itu.


Wanita dengan rambut pirang bergelombang itu menoleh dengan semangat dan menyukai tawaran teman sekamarnya.


“Tentu! Terima kasih.” ucap Yohanna lalu melanjutkan bacaannya.


“Yohanna, nampaknya ada surat untukmu.”


Yohanna menghentikan kegiatannya dan menaruh bukunya di atas meja, teman sekamarnya belum membuat teh karena ada seseorang mengantar surat dari bawah ke kamar Yohanna. Wajah Yohanna berkerut keheranan karena bertanya-tanya tentang siapa yang mengirimnya surat. Terlebih tidak terdapat segel istana.


Namun, Yohanna tersadar kemudian akan sesuatu. itu bukan surat yang berasal dari istana, melainkan surat informasi yang sudah ia tunggu selama hampir tiga hari ini.


“Hey, nampaknya aku tak jadi meminum tehnya karena harus pergi.” ucap Yohanna lalu bergegas pergi ke luar kamar.


Siapa lagi yang Yohanna temui jika bukan Ree dan Liliana.


Akhirnya ketiganya berkumpul di taman depan asrama dan melihat sama-sama isi surat dari seorang suruhan Yohanna untuk menyelidiki kota yang terdapat obat tradisional Antiaris toxicaria itu.


“Seperti yang ia tulis, memang benar sistem pemerintahan di sana dikuasai oleh tuan tanah yang buruk dan korup. Ini membuat kesulitan dalam setiap kegiatan administrasi dan semacamnya.” jelas Yohanna.


“Hal seburuk ini tentu saja menghambat kemajuan. Ini tidak akan mudah karena malah berurusan dengan orang yang berkuasa.” timpal Liliana.


“Meski aku mengatakan untuk menyerahkan padamu sisanya, tetap saja kamu menunjukkan padaku. Padahal kamu tidak perlu repot-repot.” Ucap Ree tidak enak karena belum lama ini ia menyerahkan segala pekerjaan pada Yohanna.


“Apa yang kamu bicarakan!? Ini bukan masalah satu orang, namun ilmu pengetahuan. Tentu saja kamu wajib tau karena kamu pertama yang mengusulkan padaku.” Omelan Yohanna membuat Ree terkekeh geli karena memang benar ini bukan berarti ia melakukan untuk satu orang saja melainkan suatu ilmu yang layak untuk diketahui banyak orang.


“Tapi bagaimana kamu akan mengurus pejabat itu?” tanya Liliana.


Yohanna menoleh pada Liliana.


“Apa kamu mengenal seseorang atau akrab dengan putra mahkota atau semacamnya?” tanya Liliana penasaran. Ree sendiri cukup penasaran pada putri kerajaan mereka satu itu.


Yohanna nampak menyeringai. Tentu saja ia kenal satu orang.


“Aku tidak akrab dengan kakakku yang menjadi putra mahkota itu. namun saudara kembarku memiliki kekuatan yang cukup besar, meskipun ia terlihat bodoh.” Yohanna menatap seorang pria yang berjalan bersama Alexander dan Maglina itu untuk berlatih pedang di sore hari sebelum mereka makan malam. Liliana dan Ree pun mengikuti arah pandangan Yohanna.


Itu benar, untuk seorang putri seperti Yohanna mungkin pengaruhnya tak cukup besar. Itu berbeda jauh dengan saudara kembarnya, yaitu Yohan yang terlahir sebagai laki-laki. Jika Yohan meminta suatu wilayah pada ayahnya besar kemungkinan akan diberikan.


Rasa sakit terlahir sebagai seorang perempuan, cukup Yohanna simpan dalam hatinya dan ini semua tak lain untuk menyelamatkan temannya yang berharga dari orang-orang yang ingin memiliki hidup temannya itu.


“Tapi, bagaimanapun juga Ree. Tidak aku sangka akan sampai sejauh ini kamu bertindak dan menemukan solusi bagus, meskipun semuanya berawal dari masalah.”


Entah Ree harus senang atau sedih ketika mendengar ucapan Liliana yang juga ada di antara omelan serta pujian itu.


“Apa yang kamu bicarakan, itu adalah ulahmu yang diam-diam menyelidikinya.” ucap Ree.


Liliana hanya tersenyum, ia melakukannya karena tidak ingin ada orang di dekatnya terjerumus ke hal-hal terlarang dan berbahaya. Ree sudah seperti teman berharga bagi Liliana.


Menatap kedua teman satu akademinya, Yohanna hanya tersenyum. Dalam hati ia juga kagum akan dedikasi Ree serta Liliana. Jujur saja, perasaan Yohanna sangat kaget serta bahagia dapat menemukan solusi yang selama ini hampir ia relakan begitu saja. Yohanna mengesampingkan rasa ingin tahunya pada hubungan Ree dan Frigid, namun satu hal yang sama dari mereka berdua adalah niat baik. Terlebih Yohanna tidak ingin membiarkan hidup Frigid berada di atas telapak tangan Agnesia.


Tak akan ia biarkan Frigid melangkah ke negeri itu.


*


*


*


Ree merasa akhir-akhir ini meskipun masalah yang datang cukup besar, namun hatinya terasa ringan ketika ia meminta Yohanna untuk melanjutkan penelitian obat Frigid. Ree tidak tahu menahu sedalam apa hubungan Yohanna dan Frigid, namun jika dipikirkan kembali, tidak semua permasalahan itu bisa diselesaikan seorang diri.


Akan ada saatnya dimana orang lain harus turun tangan.


Satu hal menjadi pengingat Ree saat ini adalah situasi dirinya yang seolah berada di dalam lumpur hisap. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menariknya keluar. Ree tidak tahu, karena ia tidak berteriak meminta tolong dan sibuk ingin melepas diri di dalam lumpur itu.


Akankah satu-satunya jawaban adalah sampai dimana Ree akan tenggelam seutuhnya?


Ree tersentak kaget, karena lamunannya membawa pikirannya ke hal-hal buruk.


“Padahal masih di akademi, bisa-bisanya aku melamun.” sungut Ree.


Barulah di detik kemudian Ree tersadar bahwa ada bayangan seseorang di hadapannya. Pemilik bayangan itu bukanlah orang yang asing untuk ditemui di lorong akademi yang menuju ruang senat.


Nampaknya Frigid baru kembali dari ruang senat dan ingin pergi ke ruang kepala akademi dengan membawa beberapa berkas di tangannya malah tak sengaja berpas-pasan dengan Ree setelah sekian lamanya.


Apa ini, kenapa Ree tak bergerak sedikitpun persis seperti apa yang orang dihadapannya lakukan.


“Bagaimana lukamu?” tanya Frigid tiba-tiba memecah hening diantara mereka berdua.


Luka? Yang mana? Ah! Benar. Kalutnya batin Ree karena terkejut mendengar pertanyaan yang menanyai kabar dari mulut Frigid hingga ia menunjukkan sendiri telapak tangan kanannya pada Frigid yang berdiri sekitar 1 meter di hadapannya.


“Sudah mengering dan baik-baik saja.” Jawab Ree canggung dan mempertanyakan kenapa ia melakukan ini. ia pun menurunkan tangannya dan berulang kali merutuki tingkahnya yang kikuk.


Mata Frigid seolah tertarik akan sesuatu yang lain setelah memastikan luka Ree sudah sembuh.


Ree nampaknya menyadari benda yang diperhatikan Frigid membuatnya kaget sendiri.


Cincin tunangannya, lupa ia lepaskan. Padahal Ree sendiri sudah sangat berusaha agar pertunangannya tidak diketahui. Jika begitu tanpa dibilang pun, semua orang bisa tahu bahwa yang ia gunakan adalah cincin tunangan.


Bagaimana ini? apa Ree yang harus buka suara dan segera pergi? Masalahnya Frigid tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya dan membuat Ree canggung. Pria itu terus menatapnya tanpa bicara dan membuat Ree ingin melempar pria itu keluar jendela karena suasana yang dibawa sangat tidak enak.


“Ree.”


Kali ini pihak ketiga yang tidak diharapkan kehadirannya datang menyapa Ree.


Ah, kenapa dari sekian orang harus Servio yang muncul dari belakang Ree. Sampai-sampai kehadirannya membuat Ree merinding karena takut. Tak memakan waktu lama untuk Servio bisa menghampiri Ree dan berdiri di samping wanita itu.


Di mata Frigid mungkin interaksi antara keduanya sudah biasa karena sebelumnya memang demikian adanya. Namun, bukan berarti Frigid tidak peka.


Ia tahu bagaimaan Ree itu dan seperti apa Servio. Mungkin bagi orang lain terlihat biasa, namun kepekaan matanya tak bisa menutupi bahwa terdapat perasaan tak nyaman yang Ree nampakkan.


Nampaknya hampir Frigid melupakan apa yang harus ia lakukan saat ini. berkas yang di genggamannya masih belum ia serahkan ke kepala akademi. Frigid tersadar dan melanjutkan langkahnya, akan tetapi setibanya di samping Servio tanpa melirik ia nampak ingin mengatakan sesuatu pada pria itu.


“Servio perhatikan tingkahmu.” ucapnya singkat lalu pergi tanpa ingin mendengar maupun melihat reaksi orang yang ia tegur itu.


Ree mendengarnya dengan jelas dan menatap wajah tak nyaman Servio akan ucapan yang baru Frigid keluarkan itu. Maksud perkataannya membuat Ree termenung, apa yang sudah terjadi pada Frigid dan Servio.


“Kenapa kamu mencariku?” tanya Ree setelah lama berdiam.


Servio yang nampak kesal itu merubah raut wajahnya menjadi bingung.


“Tentu saja untuk bertemu denganmu.” jawab Servio santai.


Mana mungkin jawaban itu membuat hati Ree senang mendengarnya.


“Tinggalkan aku. Aku sedang tidak ingin diganggu.” Ree memutar arah tujuannya.


Meninggalkan Servio tanpa ingin berlama-lama berada di samping pria itu.


*


*


*


Deru mesin uap yang membuat kereta bergerak itu memenuhi seluruh stasiun, dimana salah satunya terdapat kereta yang berbeda dari biasanya karena mengangkut orang-orang penting kerajaan. kereta itu memiliki lambang berbeda dari lambang kerajaan Pulchra, tak lain lambang itu merupakan kerajaan Agnus.


“Tidak terasa hampir sebulan saya di sini.” ucap Syricie saat kereta yang ia tunggu sudah tiba.


“Anda sudah melakukan pekerjaan anda dengan baik.” timpal Smith yang memang di tugaskan untuk mengantar Syricie.


“Tentu saja semua akan saya laporkan pada Yang Mulia setiba saya di sana.”


Ya, Smith mengerti karena itu tugas utama dan alasan terbesar hadirnya Syricie di Pulchra. Tidak ada hal lain selain mengamati Frigid.


To Be Continued.