THE MIRACLE

THE MIRACLE
2| Dinner



"Nau, udah sampai. Bangun Nau," ucap Devano yang kini berada cukup dekat dengan wajah Naura, menepuk pelan pipi Naura.


Tak ada jawaban dari Naura, membuat Devano tak kehabisan akal.


"Naura sayang, bangun yuk. Udah sampai nih," ucap Devano yang kini membisikan di telinga Naura persis.


Masih tak ada jawaban, membuat Devano akhirnya memiliki ide untuk mengeletiki perut Naura.


"Erghhh..." gumam Naura kala merasa tidurnya terganggu.


"Akhirnya bangun juga. Udah sampai Nau," ucap Devano yang masih pada posisi yang sama.


Naura merenggengkan otot-otot tubuhnya, mengucek matanya perlahan. Betapa terkejut dirinya kala mendapati Devano yang begitu dekat dengannya, jarak antara mereka kira-kira hanya 10 cm.


"K-kamu... M-mau ngapain?" tanya Naura gugup, berusaha memundurkan kepalanya.


"Bangunin kamu lah," ucap Devano santai, tanpa memundurkan wajahnya.


"O-oh," jawab Naura yang masih gugup lantaran wajah Devano yang terlalu dekat dengan wajahnya.


"Kok gugup gitu?" tanya Devano terkekeh, seolah memancing Naura.


Naura membulatkan matanya, sebelum akhirnya menggelengkan kepala sebagai tanda jawaban darinya.


"Takut aku cium ya?" ledek Devano yang kini terkekeh lantaran kedua pipi Naura kini telah mengeluarkan semburat merah sempurna.


"Cieee, blushing." goda Devano yang kini menoel pelan dagu Naura, membuat Naura membulatkan matanya lantaran tingkah Devano yang begitu aneh hari ini.


Devano sebelumnya sama sekali tak pernah menggoda Naura seperti ini, bisa dikatakan ini adalah kali pertamanya membuat Naura blushing lantaran ucapan sepelenya.


"Ini ngga mau turun?" tanya Devano yang kini melihat Naura tengah berusaha membenarkan posisi duduknya.


"Hm, ayok turun." jawab Naura menutupi rasa canggung sekaligus gugup yang tengah ia rasakan.


Baru saja Naura ingin membuka pintu, Devano langsung menahan tangan Naura.


"Kenapa?" tanya Naura heran.


"Tunggu dulu," ucap Devano yang langsung keluar begitu saja, membuat Naura menatapnya heran.


Devano segera berlari kecil mengeliling mobil, membuka pintu untuk Naura lalu mengulurkan tangannya dan membungkukan badannya. "Silahkan turun sayang,"


Naura terkekeh melihat aksi Devano, pasalnya ia tak pernah seromantis ini. Devano jarang sekali membuka kan pintu untuk Naura, membuat Naura terkekeh melihat aksinya saat ini.


"Dih, malah ketawa. Buruan woi, pegel nih bungkuk gini." oceh Devano yang kesal lantaran Naura malah tertawa.


"Iya-iya, bawel banget dah." Naura menaruh telapak tangan kirinya ditangan Devano, kemudian beranjak keluar dari mobil.


Devano segera menutup pintu mobil lalu menguncinya, kemudian dengan cepat ia melepas genggaman Naura dan langsung merangkulnya begitu saja tanpa seijin Naura.


Naura tersontak kaget dengan tingkah Devano yang begitu random hari ini, membuat ia kembali mengulas senyum kecil yang mampu Devano lihat secara diam-diam.


"Semoga pilihan gue ngga salah No," batin Naura.


"Semoga yang gue pilih udah bener, gue bakal selalu bikin loe ketawa terus Nau. Tenang aja, kali ini gue ngga akan kehilangan lagi." batin Devano yang merasa senang lantaran senyum yang Naura lukis di bibirnya.


Devano dan Naura melewati beberapa meja pengunjung, menjadikan mereka sebagai pusat perhatian di tempat tersebut. Mereka sendiri sudah terbiasa, hal itu lantaran Devano yang merupakan putra seorang konglomerat ternama yaitu Dewandoro's Company.


"Selamat malam pak Devano, ada yang bisa kami bantu?" tanya Staff restaurant tersebut di tempat kasir.


"Malam, saya mau booking satu meja ya, seperti biasa." jawab Devano yang memesan meja.


"Baik pak, silahkan langsung ke sana saja. Nanti saya akan kirim pelayan untuk melayan," jawab staff tersebut dengan ramah dan juga sopan.


Tanpa berlama-lama, Devano dan Naura segera menaiki lantai dua. Mereka menuju tempat makan khusus, menampilkan pemandangan outdoor yang begitu indah. Walaupun outdoor, namun tempat tersebut tetap terlihat elegan, mewah, dan romantis.


Terdapat beberapa meja disana, namun sama sekali tak ada orang lantaran Devano memang telah membooking tempat tersebut.


Devano menarik salah satu kursi, mempersilahkan Naura untuk duduk.


"Makasih," ucap Naura sembari melukis sebuah senyuman indah.


Devano mengangguk, sebelum akhirnya ia ikut duduk di hadapan Naura yang kini tengah terfokus melihat pemandangan dari tempatnya terduduk.


"Mau pesan apa?" tanya Devano kala ia melihat seorang pelayan tengah menghampiri mereka.


"Kayak biasa," jawab Naura yang dijawab oleh anggukan dari Devano.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut dengan ramah.


"Saya pesan beef and steak nya dua, ice greentea 1, sama ice lemon tea 1." jelas Devano sembari memberikan buku menu.


"Baiklah, ditunggu ya pak." jelas sang pelayan yang kemudian beranjak menjauh dari tempat Naura dan Devano.


Kini tersisa Naura dan Devano yang tengah sibuk dengan aktifitas nya masing-masing. Tak lama, sebuah ponsel milik Devano berdering, spontan membuat Naura menoleh begitu saja.


"Angkat bentar ya?" ijin Devano yang langsung mendapat anggukan dari Naura.


"


Halo, ada apa?" tanya Devano dengan sopan.


"......"


"Hentikan semua pencariannya! Tidak usah dilanjut lagi, saya sudah tidak ingin tahu tentang keberadaannya." jawab Devano setelah mendengar penjelasan yang cukup panjang dari seberang sana.


"......"


📞Call Off


"Siapa?" tanya Naura yang merasa penasaran, entah ada angin apa yang membawanya begitu penasaran.


"Jake," jawab Devano sembari menaru ponselnya di atas meja.


For your information, Jake adalah anak buah Devano sekaligus asisten Devano yang telah lama bekerja dengannya. Usia Devano dan Jake yang hampir sepantaran, membuat mereka terkadang terlihat seperti seorang sahabat.


"Kamu lagi nyari orang? Siapa?" tanya Naura yang kembali penasaran.


"Eee.... Itu, customer kabur bawa uang perusahaan." jawab Devano berbohong.


Bukan Devano ingin berbohong, hanya saja ia terpaksa melakukannya lantaran tak ingin merusak segalanya. Ia juga tak ingin melihat Naura kembali terpuruk kala mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Terus gimana? Ada masalah ya di perusahaan kamu?" tanya Naura yang terlihat khawatir.


"Gitu deh. Ngga papa kok, bawa kaburnya juga cuman sedikit." jelas Devano yang hanya membuat Naura mengangguk, kemudian terfokus mengalihkan pandangannya pada cakrawala malam.


"Sorry Nau, gue terpaksa bohongin loe. Gue ngga mau loe terpuruk lagi," batin Devano yang kini tengah memperhatikan gerak-gerik Naura.


Devano menatap Naura begitu intens, entah sejak kapan ia mulai tertarik pada sahabat kecilnya itu. Ia sudah tahu seluruh sifat maupun kebiasaan Naura, membuatnya tak lagi sulit untuk mengetahui dan memulai hubungan yang akan serius, seperti saat ini.


"Kamu kenapa?" tanya Naura heran lantaran Devano menatap dirinya begitu intens, ditambah dengan senyum yang mengembang saat ini.


Devano tak menggubris ucapan Naura, ia terfokus pada pikirannya yang tengah memikirkan dan merancang banyak hal bersama Naura setelah mereka resmi menikah nanti.


"Nano?" tanya Naura yang kemudian menepuk pelan lengan Devano yang bertumpu pada meja.


"Eh! Kenapa Nau?" tanya Devano tersontak kaget.


"Kamu yang kenapa? Kok senyum-senyum sendiri gitu? Ada yang salah ya sama aku?" tanya Naura.


Devano menggeleng, membuat Naura mengerutkan kedua keningnya. "Terus kenapa?"


"Lagi mikirin masa depan sama kamu," ucap Devano yang lagi-lagi membuat kedua pipi Naura memerah.


Devano tertawa puas melihat kedua pipi Naura yang kini mulai memerah sempurna. Secara spontan, Devano mencubit kedua pipi Naura.


"Yah, blushing lagi kan." celetuk Devano yang membuat Naura merasa kesal lantaran terus digodain olehnya.


"Nyebelin banget sih!" kesal Naura yang kini memalingkan wajahnya, enggan menatap Devano.


"Jangan ngambek sayang, nanti ngga lucu lagi dong kalau ngambek." bujuk Devano yang tak mendapat respon dari Naura.


"Chubs, jangan ngambek chuubs." kini Devano menggunakan panggilan yang ia berikan pada Naura, kala mereka masih beranjak remaja saat itu.


"Eh, aku udah ngga chuuby ya! Jangan manggil gitu lagi!" kesal Naura semakin bertambah lantara aksi jahil Devano yang tak berhenti.


"Aish,makin ngambek dia." gumam Devano yang masih mampu terdengar oleh Naura.


"Tau ah!" kesal Naura yang beranjak menuju ujung ruangan, duduk di tepi rooftoop dan memandangi bintang-bintang gemerlapan.


"Nau, tungguin," ucap Devano yang tak digubris olehnya.


Baru saja Devano ingin bangkit, seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka.


"Ini pak pesanannya, silahkan dinikmati."


"Terimakasih." jawab Devano yang kemudian berlari kecil menghampiri Naura, setelah pelayan beranjak pergi.


"Nau, masih ngambek ya?" tanya Devano yang kini berjongkok di samping Naura.


Naura malas merespon ucapan Devano, ia tengah menikmati dinginnya angin malam sekaligus gemerlap bintang di angkasa yang begitu indah.


"Naura sayang.... Jangan ngambek dong," ucap Devano menggoyangkan pelan tubuh Naura, seperti anak kecil yang tengah membujuk dibelikan mainan. Namun, lagi-lagi tak ada respon dari Naura, membuat Devano berdecak kesal.


"Nauraaa!" teriak Devano yang masih juga tak mendapat respon dari sang pemilik nama.


"Aku cium nih kalau masih ngga mau jawab!" ancam Devano, membuat Naura hanya melirik sesaat kemudian kembali memandang langit-langit yang tengah ditaburi bintang-bintang.


"Oh, ngeremehin nih?" tanya Devano yang lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Naura.


"Naura, udah dong jangan ngambek. Aku cium beneran nih kalau masih ngga mau jawab!" ancam Devano yang masih tak mendapat jawaban dari Naura.