The Last Sacriface

The Last Sacriface
Bab 17 Pencarian Dan Negosiasi



Seorang perempuan, dari jauh, terlihat berlari terseok-seok. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri di tengah jalan bebatuan, tepat di hadapan Reina.  Gadis yang sedang menunggangi kuda itu akhirnya memutuskan untuk mendekat. Memeriksa kondisi perempuan asing yang terbaring di sana. Reina menduga, perempuan muda dengan rambut berwarna hijau olive itu berusia sekitar delapan belas tahun untuk hitungan alam fana. Bentuk wajahnya bulat dengan alis yang sedikit bertekuk di ujungnya. Kulitnya yang lembut, hampir menyerupai kulit Radeeva. Putih pucat.


 “Apakah dia masih hidup?” Radeeva memanjangkan lehernya, melihat Reina memeriksa denyut kehidupan di leher gadis muda itu. Tangan di sentak, Reina menoleh kepada dua pelindung yang sudah berdiri tepat dibelakangnya. Ia menganggukkan kepala, berniat membawa tubuh tak berdaya itu bersamanya. Radeeva hendak menolak. Akan tetapi, ia tak mendapat dukungan dari Bhinendra. Si Bhayangkara itu malah tidak mempermasalahkan tindakan sembrono gadis itu. Terpaksa, Radeeva menerima anggota baru dengan wajah yang masam.


“Mengurus satu perempuan gila saja sudah menciptakan banyak masalah. Kini malah jadi dua. Sungguh menyusahkan!” omel Radeeva berkacak pinggang.


Bhinendra menatap langit yang mulai kejinggaan, “Tampaknya kita harus bermalam di bawah sinar bulan lagi.”


Reina memahami apa yang Bhinendra sampaikan. Mereka tidak mungkin memaksakan diri melanjutkan perjalanan dalam kondisi seperti ini. Setidaknya, perempuan muda yang Reina bawa itu harus sadar kembali. Dan menceritakan sebab musabab dari pertemuan mereka yang tidak wajar itu.


"Sebaiknya kau serahkan perempuan tak berinisial itu padanya!" saran Radeeva kepada Reina, sambil


mendelik sinis ke arah Bhinendra. "Bukankah dia di sini sebagai pesuruh. Identitas perempuan itu belum bisa kita pastikan, teman atau lawan. Dari pada menjual nyawamu yang berharga pada kematian, mending nyawanya saja yang kita pertaruhkan ... Lagi pula, seorang Bhinendra memang seharusnya lenyap dari dunia."


Mata Reina hampir keluar dari rongganya. Ucapan Radeeva sungguh terdengar tega dan merendahkan. Reina tak sampai hati, meski Bhinendra memiliki status lebih rendah dari pangeran itu, tetap saja Bhinendra merupakan seorang bangsawan kelas tinggi yang patut dihormati. Selain itu, banyak hal telah Bhinendra lakukan untuk kerajaan mereka. Pria itu banyak berjasa, tetapi, mengapa Radeeva setega itu padanya?


Radeeva menjentikkan jari. Perempuan asing yang Reina papah itu pun melayang dan tergeletak tepat di atas kuda Bhirendra. Tanpa persetujuan sang Bhayangkara. Reina kehilangan kata-kata. Sikap seenak hati dan arogansi Radeeva benar-benar membuatnya geleng-geleng kepala. Reina mengalihkan pandangan, menatap Bhinendra yang masih berdiri di sampingnya. Air muka pria itu tak berubah, tetap datar dan sedingin es.


Tanpa memerdulikan pandangan iba Reina, Bhinendra pun menaiki kuda.  Ia bahkan mengikuti perilaku Radeeva, menjentikkan jari dan membuat Reina melayang, duduk di atas kuda. Dengan sekali hentakan, mereka pun menderu dalam derap langkah kaki kuda.


***


Di desa Penyinggahan, pak Mahmud dan pak Tatang tampak duduk dengan wajah kalut. Beberapa kali mereka berdiri, berjalan bolak-balik sambil menjengukkan wajah keluar jendela. Seolah menunggu seseorang datang dan bergabung dalam keresahan mereka. Hanya beberapa menit menunggu, beberapa siluet tampak dari kejauhan. Ada sekitar empat orang pria dewasa, yang salah satunya mereka kenal sebagai kepala adat desa, kakek Upa. Dan, tiga orang lainnya yang menjabat sebagai keamanan desa. Dua orang merupakan anggota POLSEK dan satu orang lainnya merupakan anggota tentara KORAMIL, sama-sama memiliki pangkat dan jabatan yang disegani di khalayak masyarakat.


Begitu keempat orang itu tiba, mereka langsung duduk dan memasang wajah serius. Tanpa menunda-nunda waktu, pak Mahmud selaku kepala camat memulai pembicaraan. Dibantu dengan pak Tatang, beliau menceritakan kronologi kejadian yang mereka alami selama berada di villa pemilik perusahaan Jaya Coal. Dengan wajah yang pucat serta gerak tubuh yang terlihat gugup, pak Mahmud mengatakan bahwa keempat mahasiswa LSM itu telah menghilang secara misterius.


"Kami sudah meminta penjelasan dan tanggung jawab dari Pak Theo. Namun beliau tidak banyak membantu. Beliau meminta waktu untuk mencari mereka," ucap pak Mahmud sambil terus mengepal kedua tangannya.


"Benar. Beliau juga tampak sama bingungnya dengan kami," tambah pak Tatang menginterupsi. "Menurut kesaksian beliau, selama malam itu, beliau tidak keluar kamar sama sekali. Jadi, ketika keempat anak muda itu tidak ada di kamar mereka, kami semua sama-sama terkejut. Pak Theo bahkan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberbagai sudut perusahaan. Hutan terlarang pun tak luput dari pencarian...."


Pak Tatang mengatur napas dan menyeka keringat yang sejak tadi mengucur membasahi dahi tuanya. "Dan, seperti yang Bapak-bapak duga, pencarian kami terhenti pada penemuan jejak mereka di tengah hutan terlarang. Ada beberapa bercak darah dan bekas tubuh yang kami duga seperti bekas terjatuh dan terseret paksa."


Mereka semua terdiam. Alis mereka berkerut dan tampak pelik. "Kami akan melakukan pencarian lanjutan ke dalam hutan, dan menyisir tepi sungai Mahakam. Semoga saja mereka tidak tenggelam di dalamnya," ujar pak Wadiman selaku kepala POLSEK, yang diiringi anggukan setuju oleh wakil kepala POLSEK dan kepala KORAMIL setempat.


"Kami pun akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap hilangnya keempat orang itu. Bagaimanapun, Pak Theo tetap harus dicurigai atas kejadian ini," imbuhnya sambil mengusap dagunya yang sedikit brewok.


Kepala KORAMIL memutar tubuhnya dan menghadap kakek Upa. "Bagaimana pendapat kakek? Saya tau bahwa kakek memiliki pandangan lain tentang masalah ini."


Mereka serentak menatap kakek Upa. Mereka tahu bahwa kejadian ini pasti bersangkutan dengan hal-hal mistis yang tidak kasat mata. Ketiga anggota keamanan desa itu dulunya sempat tidak percaya. Namun, ketika mereka mengalami sendiri fenomena aneh yang diceritakan penduduk desa, mereka pun akhirnya mengakuinya. Ketiga orang itu pernah di bawa ke kerajaan gaib tersebut secara bersamaan.


Meski peristiwa itu hanya terjadi selama beberapa menit, akan tetapi mereka tidak bisa menganggap hal tersebut sebagai halusinasi semata. Mereka membawa bongkahan emas, seukuran ibu jari kaki manusia, hampir menyerupai potongan kunyit yang kuning menyilaukan. Di karenakan hal yang tidak masuk akal itu, sampai saat ini hanya mereka dan ketiga pengurus desa sajalah yang mengetahui cerita tersebut. Mau tidak mau, mereka dipaksa untuk mempercayai apa yang sebenarnya tidak pernah bisa mereka percayai.


"Benar dugaan Bapak-bapak. Mereka sekarang ada di alam sebelah. Datok sudah memberi tahu kepada saya perihal ini tadi malam. Ini semua berkaitan dengan permasalahan yang sedang


kita hadapi. Salah satu dari keempat anak muda itu akan dipilih untuk mencari keberadaan batu Somo. Dan, sebelum misi tersebut terselesaikan, mereka kemungkinan belum bisa kembali ke dunia kita." Kakek Upa menghirup tehnya dan kembali diam.


"Tapi, bagaimanapun kita harus tetap melakukan pencarian sesuai prosedur yang ada. Kita tidak mungkin berpangku tangan begitu saja meski tahu kronologi yang sebenarnya. Tak kan ada yang


mempercayai cerita ini. Orang-orang di luar sana pasti menganggap pembicaraan kita ini adalah omong kosong dan takhayul," timpal pak Mahmud menelan saliva, masih berusaha untuk menenangkan diri dengan meremas tangan. Semua orang mengangguk-anggukkan kepala, seolah sependapat dengan penuturan yang dilontarkan pak Mahmud barusan. Suasana itu mendadak senyap. Mereka seakan tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


"Begini saja ...." celetuk kakek Upa dengan helaan napas, "... Pencarian tetap dilakukan, sembari


pihak keamanan memberikan informasi kepada keluarga yang bersangkutan, saya akan meminta bantuan pada Datok untuk mengontrol keadaan.  Kita hanya bisa berharap dari pihak kerajaan gaib untuk memberikan solusi, agar tidak terjadi keributan besar di kampung kita ini."


Semburat harapan seketika muncul di wajah orang-orang yang mengelilingi sang kakek. Mereka seakan-akan mendapatkan mata air di gurun pasir yang gersang. Gagasan kakek Upa melegakan pernapasan mereka yang tercekat. Bagaimanapun, hilangnya keempat pemuda-pemudi itu pasti akan memberikan dampak buruk pada reputasi desa. Terlebih jika masalah tersebut sampai ke media informasi terkemuka. Bisa dipastikan tak akan ada kata tenang dalam hari-hari mereka ke depannya.


***


Mata gadis asing itu perlahan terbuka. Ia bangkit, sedikit kepayahan, dan melihat sekitarnya dangan tatapan bingung. Ia mundur ketakutan, melihat sosok tegap Bhinendra berdiri dengan wajah dingin di depannya.


“jangan takut! Dia tidak berniat jahat.” Wajahnya saja yang memang seperti itu. Tambah Reina dalam hati.


Gadis itu tetap diam mengamati. Pandangannya terhenti pada sosok Radeeva. Ia tertegun sejenak, kemudian menarik napas. Berdiri tegak dan dengan tata krama yang berlaku sesuai standar


kerajaan, gadis itu berlutut memberi hormat. Ia mengenali Radeeva sebagai pangeran kedua kerajaan. Tindakan gadis muda itu tidak ayal membuat ketiga orang lainnya saling melempar pandang.


"Bagaimana kau bisa mengenalinya sebagai pangeran kedua? Lalu, siapa dirimu?" tanya Reina dengan rasa penasaran yang tinggi.  Gadis di seberang matanya tersenyum dan menjawab, "sebelum saya menjelaskan, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya adalah putri bungsu Pembesar Abyudaya, Candani Bayanaka...."


Ia menghela napas, "... Tidak terlalu sulit mengenali beliau. Selain warna rambut khas keturunan kerajaan, saya juga menebak dari sikap beliau yang cenderung santai. Bagaimanapun beliau pasti bukan Putra Mahkota. Menurut berbagai sumber yang saya ketahui, Putra Mahkota menderita suatu penyakit yang


mengharuskannya selalu berada di dalam ruang lingkup kerajaan. Dan, dari dua penerus kerajaan, hanya pangeran kedua lah yang senang berpetualang dan bersifat bebas."


Reina tanpa sadar menyunggingkan senyum. Ia tampak kagum dengan analisis yang diberikan Candani. "Benar sekali! Kau memang cerdas!" puji Reina yang tidak peduli dengan wajah masam Radeeva.


Bhinendra yang sejak tadi diam, kini membuka mulut, "apa buktinya jika kau adalah putri bungsu Pembesar Abyudaya?"


Fokus mereka kini teralih pada pemuda bermata emerald itu. Meski tampak selalu bersitegang dengan Bhinendra, akan tetapi kali ini Radeeva sependapat. Ia tanpa ragu meminta pembuktian pada Candani. Alih-alih ragu, Candani justru menatap balik kedua pria itu dengan penuh keyakinan. Ia mengeluarkan tanda pengenal keluarga bangsawan Bayanaka dari balik sihir


berwarna putih kehijauan. Sebuah plakat yang berbentuk anggrek, terbuat dari batu mulia -berlian ungu- yang juga memiliki sebuah untaian emas bertuliskan Bayanaka.


Candani memberikannya kepada Radeeva, yang


kemudian di gilir secara bergantian oleh Reina dan Bhinendra. Setelah puas meneliti dan tidak menemukan suatu kejanggalan pada tanda pengenal itu, Radeeva pun mempertanyakan bagaimana sampai perempuan muda itu berada di kawasan hutan terpencil ini. Candani yang kembali menyimpan plakat anggrek tersebut, menerima sebuah roti dari Reina, kemudian menceritakan kronologi yang ada.


Ia bersama kakak laki-lakinya, berencana ke ibu kota. Mengunjungi istana utama Swastamita karena perintah Maha Raja. Di tengah perjalanan, mereka dicegat oleh segerombolan orang yang berpakaian serba hitam. Memiliki keahlian sihir yang lebih tinggi dari mereka berdua. "Tentu saja kami kalah telak. Kakak, dengan sisa tenaganya mendorong saya. Pergi sejauh mungkin melewati portal. Setelah itu, saya tak ingat apapun lagi.  Begitu terbangun, saya sudah berada di sini bersama kalian semua."


Candani menjeda sejenak. Menjilat bibirnya yang terasa kering dan melanjutkan, "maka dari itu, saya memohon bantuan kalian untuk menyelamatkan Kakak!" Perempuan muda itu berlutut dan menundukkan tubuhnya, hampir


menyentuh tanah. Ia tidak bergerak walaupun Reina dan Radeeva memerintahkannya berdiri tegak. Radeeva tampak semakin kesal. Ia hampir mengumpat dan menyibak rambut panjangnya yang tergerai hingga acak. Sedangkan Reina, ia melirik ke arah Bhinendra yang masih acuh tak acuh, duduk bersedekap dengan mata yang


terpejam.


"Saya mohon! Saya akan memberikan apapun yang kalian minta." Candani terisak. Ia banjir dengan air mata.


Reina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tatapan bingungnya tak juga di sambut oleh kedua rekan seperjalanannya. Radeeva bahkan mendesis, membuang muka. Seakan memberi isyarat untuk tidak ikut campur dalam polemik yang ada. Bhinendra masih stagnan. Tak ada yang menggubris permohonan Candani.


Reina berjalan pelan mendekati gadis yang masih bersujud itu, meraih tangannya dan berusaha menegakkan tubuh Candani kembali. Namun, perempuan bernetra hijau keruh itu malah memeluk kaki Reina dan semakin mengiba. Reina menjadi gelagapan, tidak tega dan serba salah. Pada akhirnya ia memutar otak, melepaskan rangkulan Candani dan mendekati Bhinendra.


Reina duduk di samping pria bersurai hitam pendek tersebut. Menghela napas panjang dan dalam, kemudian berbisik lembut, "Bhi...." Ia sedikit takut tapi, tetap berusaha membujuk pria paling keras kepala seantero alam itu. Alih-alih


luluh, membuka mata pun sepertinya ia enggan.


Dikarenakan tak adanya tanggapan dari Bhinendra, Reina pun beralih ke Radeeva. Ia berusaha membujuk sehalus mungkin. Menekan rasa kesalnya atas argumen Radeeva yang suka


seenak hati. Pada akhirnya, Reina pun lelah.  "Baik, jika kalian tidak membuka hati untuk menolongnya, maka biar aku saja yang melakukannya." Reina berdiri sambil berkacak pinggang, Menatap kedua rekannya dengan rasa kesal yang hampir membuncah.


Radeeva menoleh, geram dan hampir mengatai Reina dengan sebutan dungu, tukang ikut campur dan perempuan naif. Namun niat hatinya tertahan, Bhinendra lebih dulu mewakilinya berucap, "apa kau serius?" Reina mengangguk penuh keyakinan.


Bhinendra bangkit seiring dengan berdirinya Candani. Pria dengan tatapan dalam dan tajam


itu menghampiri gadis muda di depannya. "Jika kau ingin kami menyelamatkan Kakakmu, maka kami akan melakukannya. Asal kau bersedia memberikan panah dan busur Sadrah Sukma."