The Extra'S Love

The Extra'S Love
Persiapan Ujian Tengah Semester



POV Sandy


Sepertinya Helen juga punya pacar. Sejujurnya, aku tidak mengira gadis olahragawan seperti dia akan jatuh cinta pada pria pemalu seperti Adrian. Namun, bertentangan dengan perkiraanku, ternyata Adrian lah yang menyatakan cintanya pada Helen. Aku benar-benar berpikir bahwa hal sebaliknya lah yang terjadi. Rasanya seperti ada kelahiran protagonis lain di alam semesta yang sama. Sayangnya, dia sepertinya berada di kelas 2d, jadi aku tidak punya cara lain untuk lebih dekat dengannya. Yah, pertama-tama aku harus mengurus hal-hal yang sudah masuk kedalam porsi ku terlebih dulu. Tidak perlu menggigit lebih dari apa yang bisa kita kunyah. Dan lagi, hubungan mereka tampaknya berjalan lancar, jadi aku tidak perlu terlibat.


Aku justru lebih khawatir tentang Hans. Meskipun, dia sudah mengembangkan rasa percaya dirinya dalam sebulan terakhir ini, dan juga menyukai Shinta, dia belum menunjukkan banyak perasaan cintanya ke padanya. Aku juga mendengar asumsinya tentang hubungan antara aku dan Arina. Bukankah itu berarti dia tidak bersama Hans sepanjang hari karena dia menyukainya, tetapi ingin aku dan Arina lah yang memiliki waktu berdua saja? Itu tidak baik, masalah percintaannya jadi tidak terlihat terlalu cerah jika dia tidak melakukan sesuatu. Lagi pula, tidak semua hal bisa aku lakukan untuknya. Seseorang dapat menuntun seekor kuda ke air, tetapi kuda itu harus meminum airnya sendiri.


Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan. Terkadang aku berjalan pulang dengan Arina dari waktu ke waktu, sambil membicarakan hal-hal konyol dan menggodanya. Aku juga mengenal Adrian secara langsung ketika kami semua makan siang bersama.


Sebentar lagi tiba waktunya untuk acara yang paling ditakuti oleh para siswa, ujian. Ya, ujian tengah semester untuk semester pertama sudah dekat. Karena itu, aku menghabiskan waktu di perpustakaan untuk belajar, sebelum pulang, setiap hari. Terus terang, aku lebih tidak menyukai ujian tengah semester daripada ujian akhir semester. Setelah setiap semester akhir kami mendapat liburan, tetapi setelah ujian tengah semester kami harus tetap ke sekolah keesokan harinya. Membuat kita mempertanyakan untuk apa kita harus belajar begitu keras. Aku mengatakan semua ini, tetapi jujur saja aku sebenarnya tidaklah buruk dalam belajar atau apa pun. Faktanya, aku sering masuk dalam 10 besar di kelas kami. Hanya saja aku orngnya sangat cepat bosan, jadi ketika aku harus membaca semuanya berulang kali untuk ujian, aku menjadi kesal.


Cukup mengomel tentang sistem pengujian. Aku merasa setiap siswa dapat menulis seluruh esai yang menjelekkan sistem pendidikan jika mereka mencobanya. Yang aku butuhkan saat ini adalah istirahat yang baik. Aku menghela nafas dan meninggalkan perpustakaan lalu berjalan pulang, hanya untuk belajar lebih banyak.


Dalam perjalanan pulang, aku melihat pasangan yang saling menggoda di sebuah kafe sambil menyuapi satu sama lain sambil tersipu.


Aaaah, sungguh pemandangan yang membuat mata perih. Aku merasa batrai staminaku terisi kembali secara maksimal. Baru-baru ini, aku kehilangan gula darah yang aku dapatkan ketika melihat orang lain saling menggoda dan tersipu, jadi pemandangan imut yang tak terduga ini benar-benar memberiku energi. Aku pikir aku bahkan bisa melakukan all-nighter sekarang.


****************************


POV Hans


"Ya, aku tidak akan masuk kerja selama sekitar satu minggu."


"Aku ada ujian sebentar lagi. Jadi aku butuh waktu untuk itu."


"Ya"


"Aku pasti akan kembali setelah seminggu."


"Ya"


"Terima kasih atas pengertian."


"Fiuh." Aku menghela nafas sambil meletakkan ponselku dari telingaku.


Aku masih merasa sedikit cemas saat berbicara dengan orang yang tidak aku kenal dengan baik. Setidaknya sekarang aku tidak gagap lagi. Sambil memikirkan hal ini, wajah seorang gadis melayang ke dalam pikiranku.


Beberapa minggu terakhir ini hubunganku dengan Shinta agak mandek. Tentu saja kami berhubungan baik dan bahkan saling menyapa jika kami berpapasan di lorong, dan kadang-kadang bahkan makan siang bersama, tapi hanya itu saja. Aku sama sekali tidak bisa menjadi kekasihnya. Bagaimana aku harus membuatnya jatuh cinta padaku? Haruskah aku langsung mengaku? Tapi aku merasa bahwa hal itu hanya akan berakhir dengan penolakan instan.Haruskah aku menyerah begitu saja?


"Plakk!" Aku menampar wajahku dengan kedua tanganku.


Aku sudah kehilangan satu kesempatan karena kepengecutan ku. Tidak mungkin aku akan membiarkan yang ini terlepas dari tanganku juga. Siapa yang tahu apakah aku akan berada di kelas yang sama dengannya besok? Dengan tekad yang sudah diperbarui, aku siap memberikan segalanya ketika aku menyadari, ini bukan waktunya untuk memikirkan cinta. Aku harus belajar untuk ujianku.


Aku mengenakan ikat kepala putih dan terus belajar sampai larut malam.


*******************************


POV Helen


“aaah, Adrian kenapa sekarang kamu keluar rumah ?” aku cemberut.


"Helen,kamu juga harus belajar untuk ujian tengah semester"


"Tapi belajar akan membuat kita memiliki lebih sedikit waktu untuk bergaul satu sama lain."


"Jika kamu tidak belajar, kamu mungkin akan gagal."


"Bahkan jika aku duduk untuk belajar, aku hanya akan memikirkanmu dan tidak akan bisa belajar. Selain itu, kupikir aku akan mampu menghadapi ujian bahkan tanpa belajar."


"…"


Aku menatapnya dengan mata sedih terkuat yang bisa kubuat.


"Baiklah." Dia menghela nafas, "Bagaimana kalau kita belajar untuk ujian bersama?"


Tunggu, itu ilegal. Tidak, itu mungkin benar-benar jenius.


"Wow, aku seharusnya sudah memikirkannya sebelumnya."


"Di mana kita harus belajar."


Eh? Apakah ini caranya bertanya apakah dia bisa datang ke rumahku? Bukankah perkembangan ini terlalu cepat? T-tapi kalau itu Adrian…


"Um… kita bisa pergi ke rumahku. J-jangan khawatir orang tuaku tidak-"


"Kurasa kita harus pergi ke restoran keluarga atau kedai kopi." Dia memotong ucapanku.


Dan akhirnya kami pergi ke kafe dekat sekolah.


Aku memesan espresso dan Adrian hanya memesan secangkir kopi.


"Apakah tidak apa-apa jika kita memesan sesuatu untuk dimakan juga? Kita bisa belajar setelah makan kan?"


Dia menatapku dengan serius, dan berkata, "Baik, tapi cobalah untuk cepat, oke?"


"Baik" aku pergi ke depan dan memesan cheesecake untuk diriku sendiri.


Adrian sudah membuka bukunya. Dia merasakan tatapanku dan mendongak.


"Jika kamu gagal, kamu harus melakukan kelas tambahan. Bukankah itu lebih buruk daripada hanya belajar sekarang?"


"…" Ya. Dia benar. Aku harus belajar dengan serius daripada mencoba menghindarinya.


Aku putuskan, bahwa aku harus SERIUS belajar mulai sekarang.


.


.


.


"Aaah, aku sangat lelah." Kataku sambil merentangkan tanganku. Aku sangat fokus sehingga aku bahkan tidak memakan kue keju yang sudah berada di atas meja.


"Haruskah kita berhenti untuk hari ini? Sudah hampir dua jam sekarang."


"Ya" Saat itu sebuah ide muncul di benakku, "Umm, Adrian?"


"Ya?"


"Bukankah aku pantas mendapat hadiah karena sudah belajar dengan benar?"


"Tapi bukankah aku sudah berjanji kita akan berkencan setelah ujian selesai?"


"Tapi itu jika nilai kita baik dalam ujian."


"Lalu apa yang kau inginkan sekarang?"


"Suapi aku kue itu."


**********************


POV Adrian


Apa yang baru saja dia katakan? Menyuapinya di depan umum? Telingaku memerah hanya dengan membayangkannya.


"Apakah kau tidak mau?"


Aaagh. Bagaimana aku bisa mengatakan tidak ketika dia berbicara seperti itu kepadaku dengan wajah yang imut?


Aku mengambil sepotong kue dengan sendok dan membawanya ke dekat mulutnya.


"Aaaam. Mmm ini benar-benar enak. Adrian, kau juga harus makan"


"…" Aku tidak bisa menjawab tepat waktu karena aku dibekukan oleh wajah imut pacarku.


"Adrian?"


Sebelum aku bisa mengerti apa yang terjadi, sesendok kue sudah dimasukkan ke dalam mulutku juga. Aku mengunyah kue itu dan menelannya.


"Bagaimana. Enak, bukan?" Katanya sambil menyeringai.


Pacarku menyuapi ku makan dengan sendok yang sama.


"Y-ya" aku berbohong. Sebenarnya aku tidak bisa merasakan apa-apa.


Aku tersipu begitu keras sehingga aku berani bersumpah wajahku akan melewati sinyal lalu lintas merah.


Aaaaaaaaa. Pacarku sangat imut sehingga aku tidak sanggup menanganinya. Jantungku berdegup sangat kencang sampai sampai aku bisa mendengar debarannya, kurasa itu tidak dibuat untuk beban semacam ini.


Sejujurnya, setiap kali aku bersamanya, aku merasa seperti akan mati karena keimutan yang berlebih. Bahkan sebelumnya, menolaknya sangatlah sulit. Bukannya aku tidak ingin menghabiskan waktu bersamanya, aku akan baik-baik saja meskipun aku tidak banyak belajar, tapi jika dia gagal dalam ujiannya karena aku, aku akan merasa sangat bersalah.


Akhirnya, aku berhasil membuat beberapa kata keluar dari mulutku.


"B-bukankah itu ciuman tidak langsung?"


"Ya, bagaimana?"


Apa maksudmu bagaimana itu? Kau hampir membunuhku dengan serangan jantung. Untungnya hanya ada beberapa orang di kafe dan kami tidak membuat banyak keributan, jadi tidak ada yang menyadarinya.


"Yang jelas. Aku sudah mendapatkan hadiahku, terima kasih"


"Sama-sama" jawabku dengan suara kecil.


"Bagaimana kalau kita belajar seperti ini setiap hari?"


Setiap hari? Aku tidak berpikir hatiku akan mampu menanganinya.


"A-aku rasa itu bukan ide yang bagus."


"Tapi kalau kita tidak belajar bersama, aku tidak akan bisa berkonsentrasi."


"Haah" aku menyerah. Tidak mungkin aku bisa menolaknya ketika dia mengatakannya seperti itu. "Oke, tapi kamu harus berjanji padaku bahwa kau akan belajar dengan benar dan tidak bermain-main."


"Okeaay"


"Sekarang ayo kita pulang."


"Tapi kita masih harus menghabiskan dulu kuenya." Dia membuka mulutnya seolah mengharapkan sesuatu.


Jadi, kami menghabiskan sekitar setengah jam berikutnya untuk saling menyuapi satu sama lain, dan tersipu seperti orang bodoh.