
Chapter 22
Wanita itu sedikit termenung setelah mendengar perkataan dari Astaroth. Ya itu sangat wajar karena Negara Jepang adalah salah satu Negara paling terkenal di Dunia, namun Lian atau Astaroth tidak tahu akan negara ini.
Itu sangat tak masuk akal. "Huft..." Ia sedikit memompa nafasnya untuk mempertahankan kesabarannya.
"Oh ya, kalau boleh tahu siapa Namamu Nona?" Tanya Lian kepada Wanita yang ada di depannya.
"Namaku Inori Ayane. Panggil saja Ayane, Lian."
Inori Ayane adalah seorang wanita berusia 19 Tahun, ia sangat cantik bagaikan bidadari yang mana ia memiliki rambut hitam pekat yang menggambarkan malam penuh bintang yang menyelimuti dunia.
Tidak hanya itu, kulit seputih susu dan tubuh sempurna yang tidak ada duanya.
Melihatnya saja, laki-laki pasti menganggap bahwa Inori Ayase adalah perempuan yang sangat cantik atau bahkan perempuan tercantik yang pernah mereka lihat. Namun berbeda dengan Astaroth.
Ia tidak melihat wanita hanya dari penampilan nya saja, ia juga melihat Wanita dari sisi yang tak dapat di pahami oleh laki-laki biasa.
"Hm... Ayane, jadi apa yang harus aku lakukan untukmu?" Tanya Lian kepadanya
"Tidak ada, namun sepertinya kau juga butuh bantuanku sekarang ini. Betul kan?" Tanya Ayane yang sedikit tersenyum
"Heh? Apa?" Astaroth sedikit bingung dengan apa yang di maksud Ayane.
Ayane yang melihat ekspresi bingung Lian, ia hanya bisa menghela nafasnya dan menjelaskan apa yang ia maksud "Rumahmu adalah di Indonesia, sedangkan sekarang kau berada di Negara Jepang, apalagi kau ini bahkan tak tahu apapun dengan negara ini."
"Sehingga kau juga tak punya apapun di sini, kenalan atau bahkan rumah. Jadi itulah yang ku maksud."
Mendengar yang di katakan Ayane, Astaroth pun paham.
"Hm... Aku paham, jadi apakah aku boleh menumpang ke rumahmu untuk sementara?" Tanya Astaroth
"Itulah yang aku maksud, dan tentu saja kau boleh menumpang karena ada kamar kosong di rumahku. Jadi bagaimana? Apakah kau mau?" Tawar Ayane kepada Lian
Mendengar hal itu, Astaroth sedikit menyipitkan matanya. Dan setelah itu, Ia menerimanya dengan pasti "Ya."
Setelah itu Ayane tersenyum, dan ia mulai mempercepat mobilnya untuk membawa Lian ke rumahnya.
Hingga setengah jam setelahnya, akhirnya mereka sampai di daerah pedesaan di kota Okinawa yang mana wilayah Okinawa sendiri berada sangat jauh dari ibu kotanya yaitu Tokyo.
Lalu terlihat, Mobil Ayane berhenti di sebuah rumah yang cukup megah namun tak terlalu. Ia pun keluar bersama dengan Lian. "Jadi ini rumahmu?" Tanya Lian kepada Ayane
"Benar, ayo masuk."
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah, terlihat juga di dalam rumah Ayane yaitu berada di ruang tamu. Itu terlihat begitu indah dengan dekorasi-dekorasi yang terpasang di dalamnya.
Merupakan perpaduan yang cukup sempurna.
"Kau tunggu di sini, aku akan menyiapkan kamar-mu." Ucap Ayane yang segera pergi meninggalkan Lian sendiri di ruang tamu.
"Baiklah, oh ya apakah kau tinggal di sini sendiri?" Jawab dan tanya Lian kepada Ayane yang sedang membersihkan kamar Lian.
"Benar." Jawab Ayane
Lalu Lian mulai melihat - lihat ruang tamu, dan saat itu Lian mulai merasa ada yang aneh terhadap rumahnya itu. Kemudian Ia mulai melihat sebuah lukisan wanita yang terpasang di atas dinding.
'Hm....?'
Karena penasaran, Ia mulai menyuruh System untuk menganalisis nya. 'System, analisis lukisan ini. Sepertinya ada suatu rahasia yang tersimpan di dalamnya.'
[Analisis di mulai.... Selesai.]
'Jadi apa?'
'Aku tidak peduli dengan Harganya. Yang ku butuhkan rahasia yang tersimpan di dalamnya.'
[Aah begitu, ya memang ada beberapa rahasia yang tersimpan di lukisan ini. Yaitu tentang si pembuat lukisan ini]
[Sepertinya si Pelukis menggunakan sebuah sihir untuk menggambarnya. Masih ada jejak-jejak sihir yang terdapat di dalam lukisan itu, walaupun sudah berumur ribuan tahun]
Saat mendengarnya, Lian tersenyum tipis. 'Sesuai yang ku duga, di dunia ini ada orang-orang yang mampu menggunakan energi sihir dari sinar bulan.'
'Dan sepertinya aku tahu misi apa yang kau maksudkan ini setelah mengamati lukisan ini. System coba kau tampilkan lagi misi itu.'
Lian saat ini berada di dalam titik temu, dan ia memerintahkan system untuk menampilkan misinya itu.
[Tentu]
[Misi: Temukan Rahasia di rumah Inori Ayane dan Maksud Lain dari Inori Ayane
Hadiah: 1000 Poin
Waktu: 3 Hari.]
Sebuah misi yang cukup menarik, itulah yang bisa di simpulkan oleh Lian. Misteri-misteri yang terkandung dalam misi ini pasti akan membawa dampak bagi dirinya sendiri. Itulah yang di pikirkan.
Kemudian Ayane datang dan memberitahu bahwa kamarnya sudah siap. "Lian, kamarnya sudah siap..." Ia melihat Lian melihat lukisan wanita yang terpajang di ruang tamu.
Ia pun penasaran "Apakah kau penasaran?"
"Ya, darimana kau mendapatkan ini?" Tanya Lian kepada Ayane
"Hmmmm... Aku mendapatkannya dari nenek moyangku, itu adalah benda warisan dari zaman dulu. Apakah penjelasanku cukup?" Jawab dan jelas Ayane kepada Lian.
"Ya. Itu sudah lebih dari cukup." Ucap Lian yang tersenyum tipis
Saat mendengar penjelasannya dapat di mengerti, Ia menghela nafas lega. Setelah itu, Ayane bertanya kepada Lian "Apakah kau sudah makan? Jika belum akan ku masakkan sesuatu."
"Boleh. Sudah lama aku tidak melakukannya..." Jawab Lian yang keceplosan.
Di dunia sebelumnya saat dirinya masih menjadi Raja Astaroth, ia tak pernah makan ataupun minum karena baginya itu bukanlah sesuatu yang penting. Ia tak perlu makan karena dirinya kuat karena energi sihir yang tak terbatas dalam tubuhnya.
"Ha?" Hal itu membuat Ayane sedikit bingung
"Tidak ada, hanya bergurau. Tolong beri aku makan, Ayane" Ucap Lian yang membenarkan.
Kemudian Ayane pergi menyiapkan makanan. "Baiklah ayo kita ke ruang makan."
Ayane mengajak Lian ke ruang makan beserta dengan dapurnya juga. Tidak hanya itu, Ayane juga memerintahkan Lian untuk menunggu dan duduk di kursi makan.
Setelah menunggu beberapa menit, makanan telah siap. Sepertinya Ayane memasakan sesuatu yang enak untuk di makan, itu tercium dari baunya yang cukup memanjakan hidung.
Sangat enak. "Apa ini?"
Sebuah ayam panggang yang di bumbui oleh resep rahasia keluarga Ayane secara turun temurun. Seperti itulah yang di pikirkan Lian saat mencobanya.
"Enak sekali..."
Ayane hanya memandangi Lian yang dengan lahap memakannya. Ia juga tersenyum seakan ia puas dengan ekspresi betapa lahapnya Lian memakan masakannya itu. "Apakah kau tidak makan?" Tanya Lian kepada Ayane
"Aku sudah makan, tak perlu kau pikirkan..."
Mendengarnya, Lian melanjutkan makannya dan tiba-tiba saat suapan terakhir... Lian merasa sangat pusing. "Apa ini...?"
Dan akhirnya Lian pun pingsan tanpa sebab, saat itu juga terlihat Ayane nampak tersenyum jahat, itu terlihat sekilas dari pandangan Lian sebelum dirinya pingsan.