
"melakukan ekspedisi ya, Kek? Maksud kakek kita akan keluar tempat ini dan mencari tahu keberadaan hewan-hewan itu, begitu kan?" tanyaku, Kakek Sasaki cuma tersenyum dan menanggapi.
"Ya begitulah, kita akan melakukan ekspedisi ini selama tiga hari. Hal ini dilakukan karena kakek khawatir dengan keberadaan hewan buas itu yang tidak pernah ada sebelumnya. Dan juga jumlah mereka jelas tidak sedikit, pasti ada sesuatu," jelas Kakek Sasaki dengan raut keseriusan di wajahnya.
Memang betul apa yang dikatakan Kakek Sasaki, jumlah anjing-anjing itu bisa dibilang melebihi batas normal. Dan lagi dulu mereka tidak pernah terlihat di sini, namun sejak kedatanganku tiba-tiba kawanan anjing itu berdatangan. Jelas sekali bahwa ada yang sudah merencanakan ini semua, dan juga aku ingin mencari dalang dari semua ini. Jelas-jelas dia bukan orang sembarangan. Tapi jika melakukan ekspedisi ini, aku takut anjing-anjing itu akan menyerang kami, belum lagi jumlah mereka yang tidak bisa diprediksi. Aku bingung ingin menentukan pilihan. Kalaupun mau tetap tinggal di sini yang ada persediaan makanan akan habis. Mau tidak mau aku harus memilih keluar dan menghadapi bahaya untuk keselamatan orang ramai, dari pada berdiam diri dan membiarkan semua orang mati kelaparan. Aku hanya bisa bertaruh,
"Aku sudah memutuskan untuk mengikuti ekspedisi ini, Kek," jawabku dengan penuh keseriusan.
"Baguslah, besok juga kita akan berangkat pagi-pagi sekali, jangan lupa untuk menyiapkan perlengkapanmu, nak."
Pembicaraanku dan Kakek Sasaki pun berakhir. Aku berjalan menuju ke kamarku lagi, dan menutupi tubuhku dengan selimut. Firasat buruk terus menghantuiku, perasaan tidak enak ini pasti berhubungan dengan ekspedisi yang akan kami lakukan besok. Tapi aku mencoba untuk berpikir positif. Disaat aku mulai tenang, perlahan aku menutup mataku.
****
"Grrrr!"
"GUK! GUK!"
Drap drap drap
"Hah hah hah ...."(Ngos-ngosan)
Seorang pria dikejar-kejar oleh kawanan anjing. Sangat lama dia berlari, namun terus dikejar. Lalu ia melihat sebuah pohon besar dan segera bersembunyi di belakangnya.
"Hah hah ... hampir saja aku terbunuh."
Dia merasa dirinya telah aman, tapi tiba-tiba!
GRAUKK!
Satu ekor anjing menggigit tangannya, pria itu menoleh dengan syok ke arah tangannya yang tergigit, alhasil tangannya layu dan tidak bisa digerakkan. Dia memukul anjing itu dengan tangannya yang lain, lalu kembali berlari. Darah mengalir dengan deras dari tangannya. Darah yang mengalir ke tanah menarik kawanan anjing itu kembali. Pria itu terus berlari sampai akhirnya dia tidak punya kesanggupan untuk berlari lagi, tubuhnya lemas akibat kehabisan banyak darah. Dia pun tergeletak, dan buruknya kawanan anjing mulai tiba dan mendekati pria itu.
"Ti-tidak! Jangan mendekat," ucap pria itu histeris. Dia berusaha untuk mengusir para anjing. Namun kawanan anjing itu langsung menyerangnya. Seakan tak berdaya menerima tangannya yang kembali tergigit, lehernya juga ikut tergigit, tubuhnya banyak luka. Tapi dia masih sadar dan merasakan sakit yang sangat luar biasa. Lalu salah satu anjing menggigit paha pria itu dan spontan dia berteriak histeris.
"Aaaaaaaaghhh!" Lalu ada seorang yang memanggilnya, spontan dia membuka mata dan melihat sekeliling tidak ada anjing lagi.
***
"Kau kenapa Ensuna-kun. Habis mimpi buruk ya?"
"Ensuna-kun?" Kembali Aya memanggil diriku yang masih syok, namun aku tidak merespon perkataannya, spontan Aya mengambil air dan langsung menyiram wajahku.
"Ah." Diriku tersadar, "A–aya-san mengapa kamu menyiramku dengan air?" tanyaku yang sudah tersadar.
"Salah sendiri dipanggil kamu malah gak jawab, udah gitu tadi teriak-teriak lagi," jelas Aya.
"Oh iya maaf," jawabku dengan singkat dan kembali melamun dan merenungkan mimpi tadi.
"Kamu habis mimpi buruk apa, sampe teriak-teriak gitu." Kembali Aya bertanya kepadaku, namun kembali juga diriku tidak merespon perkataan Aya. Hal ini membuat Aya naik pitam, dan spontan mencubit bahu kiriku.
"Atettetet!" erangku kesakitan. "Kenapa kamu mencubit bahuku?" tanya diriku yang habis dicubit. Cubitan nih cewe rasanya lebih sakit daripada digigit anjing yang di dalam mimpiku.
"Ya kamu sih, aku ngomong gak kamu dengerin," ucap Aya dan langsung memalingkan wajahnya. Aku berpikir apa aku membuatnya marah? "Sekarang juga jawab, tadi kamu mimpi apa?" Aya bertanya tentang hal sama lagi, aku ragu ingin menjawab. Aku tidak mau dia mengetahui mimpiku ini, yah walaupun hanya mimpi sih. Tapi melihat wajahnya yang sangat ingin mengetahuinya, aku pun jadi tidak tega untuk tidak memberitahunya. Tapi kembali aku takut dia mengetahuinya, namun aku akan tetap memberitahunya.
"Be-begini sebenarnya aku tadi mimpi--" Belum selesai aku berbicara, ada orang yang tiba-tiba mengetuk pintu kamar membuat pembicaraan aku dan Aya terhenti. Spontan juga Aya membuka pintu, dan ternyata orang itu adalah Kakek Sasaki. Kayaknya sih ingin segera berangkat untuk ekspedisi, pasti dia datang ke sini mau menemuiku.
"A-yah, kenapa ke sini?" tanya Aya kepada Kakek Sasaki. Kakek Sasaki tersenyum entah kenapa sebelum menjawab pertanyaan dia selalu terseyum, mungkin ini yang dinamakan orang murah senyum.
"Begini ayah ingin mengajak Nak Hajime, apa dia ada di dalam, atau ayah mengganggu kalian ya?"
"Tidak kok, Yah. Ayah mau mengajak Ensuna-kun emangnya mau diajak kemana?" Aya bertanya sebuah pertanyaan yang sulit. Tapi Kakek Sasaki tidak bisa berbohong kepada putrinya diapun jujur.
"Kami akan melakukan ekspedisi untuk mencari keberadaan makhluk buas yang ada di luar desa ini. Tenang aja, karena ada Ketua Matsuyama dan prajuritnya yang akan menemani kami," jelas Kakek Sasaki panjang lebar. Hal ini tentu saja tidak disetujui oleh Aya apalagi mendengar adanya hewan buas.
"Ti-tidak boleh Ayah! Kalian tidak boleh pergi. Aku takut Ayah kenapa-kenapa." Jelas saja sebagai seorang anak untuk mengkhawatirkan ayahnya.
"Tapi Aya. Ini semua ayah lakukan demi keselamatan kamu dan orang-orang desa ini. Maka dari itu kami harus membasmi mereka secepat mungkin. Dan juga ada Nak Hajime yang menemani, dia sangat tahu mengenai hewan ini dan beberapa kelemahan mereka." Kembali Kakek Sasaki menjelaskan agar Aya tidak khawatir. Aya juga mulai merasa tenang dan berkata,
"Baiklah Ayah boleh pergi, tapi jaga diri baik-baik, jangan sampai terluka ... Ensuna-kun jaga ayahku ya. Aku percaya sama kamu." Kata-kata Aya membuatku tersipu.
Aku dan Kakek Sasaki langsung membawa perlengkapan-perlengkapan kami dan segera pergi. Aya mengucapkan 'sampai jumpa lagi' dan melambai dengan air mata yang tak tertahan. Aku membalas lambaiannya, serta tidak tega untuk meninggalkannya. Walaupun ini cuma sebentar tapi pastinya aku akan sangat merindukannya. Dan Aya juga pasti akan sangat rindu dengan Kakek Sasaki.
Di depan gerbang kami bergabung dengan pasukan Ketua Matsuyama. Dengan aba-aba darinya kami semua segera keluar Desa dan beberapa prajuritnya ditugaskan untuk bersiaga di Desa. Ketua Matsuyama menyuruh prajuritnya untuk segera menutup gerbang dan spontan prajuritnya menutup gerbang. Pertama kami akan pergi ke sekitar gunung yang jaraknya lumayan jauh. Tanpa membuang waktu lagi kamu semua langsung bergerak untuk menuju ke gunung itu.
BERSAMBUNG ................