Spirit Energy

Spirit Energy
BAB 20: Ahli Strategi 5/5



Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Harley dengan bangga menunjukkan paspor palsu yang baru dibuatnya kepada Fisa. Dengan paspor tersebut, mereka akan memiliki identitas yang berbeda dan lebih aman dalam menjalankan rencana mereka sebagai "keluarga." Fisa menerima paspor tersebut dengan perasaan campur aduk, disatu sisi dia merasa malu, tapi disatu sisi dia merasa senang, karena dia merasa bahwa rencana mereka semakin mendekati kenyataan.


Paspor palsu yang baru saja dibuat oleh Harley memang sangat mirip dengan paspor asli. Mereka memiliki semua ciri-ciri yang umumnya terdapat pada paspor asli, seperti:




Foto identifikasi: Paspor palsu memiliki foto wajah pemilik yang diambil dengan cermat, mirip dengan foto identifikasi yang biasanya ada di paspor asli.




Nama lengkap: Nama pemilik paspor palsu tertulis dengan jelas dan sama persis dengan nama yang ada pada paspor asli.




Nomor paspor: Nomor paspor pada paspor palsu juga sesuai dengan nomor yang tertera pada paspor asli.




Tanda tangan: Tanda tangan pemilik paspor palsu juga dicetak dengan presisi untuk mencocokkan dengan tanda tangan di paspor asli.




Tanggal lahir: Informasi tentang tanggal lahir pemilik paspor juga sama dengan yang ada di paspor asli.




Stempel dan tandatangan resmi: Paspor palsu dilengkapi dengan stempel dan tandatangan palsu yang menyerupai yang terdapat pada paspor asli.




Harley telah bekerja dengan sangat teliti untuk membuat paspor palsu yang meyakinkan, sehingga sulit untuk membedakannya dari paspor asli hanya dengan mata telanjang.


Dengan hati-hati, Harley memasukkan bahan cetak yang sesuai ke dalam mesin pencetak. Ia memastikan bahwa foto, nama, nomor paspor, tanda tangan palsu, tanggal lahir, dan informasi lainnya yang diperlukan telah dimasukkan dengan benar ke dalam program cetak yang telah dia siapkan sebelumnya.


Setelah semua persiapan selesai, Harley memulai proses pencetakan paspor palsu dengan mesin pencetak yang canggih tersebut. Suara berisik mesin pencetak terdengar selama beberapa saat, dan akhirnya, paspor palsu yang terlihat sangat mirip dengan paspor asli telah selesai dicetak.


Harley menjaga agar hasil cetakan tetap rapi dan berkualitas tinggi, sehingga paspor palsu tersebut tampak sangat autentik dan siap digunakan untuk tujuan tertentu sesuai rencana mereka.


Dengan paspor palsu yang sudah jadi, Harley, Jormac, dan Fisa siap untuk pergi ke Tokyo, Jepang. Mereka merasa sedikit gugup namun juga penuh semangat menjalani misi mereka. Semua langkah yang telah mereka rencanakan akan membawa mereka lebih dalam ke dalam dunia yang misterius dan berbahaya. Dalam perjalanan ke Tokyo, mereka bertiga harus siap menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang mungkin menghadang.


Sambil menunjukkan paspor palsu yang telah jadi, Harley juga menarik sebuah buku nikah dari balik laptopnya. Dia menunjukkannya kepada Jormac dan Fisa dengan senyum penuh arti.


"Kita harus benar-benar terlihat seperti keluarga," kata Harley dengan nada serius, meskipun senyumnya masih terlihat di wajahnya.


Jormac dan Fisa hanya bisa terkejut dan bingung oleh ide Harley ini.


Kemudian Jormac mengambil buku nikah yang disodorkan oleh Harley dengan hati-hati. Saat dia membuka halaman pertama, terkejut menghampirinya. Buku itu memang sangat mirip dengan buku nikah asli, bahkan hingga detail-detail kecil. Satu-satunya perbedaan yang mencolok adalah foto wajah dalam buku itu, yang jelas bukan mereka.


"Bagaimana kau bisa membuat ini sebegitu mirip?" tanya Jormac, masih terkejut dengan keahlian Harley dalam pembuatan dokumen palsu.


Harley hanya tersenyum dan menjawab, "Itu adalah salah satu keahlian terbaikku. Dalam dunia ini, kemampuan untuk menyamarkan identitas sangatlah penting."


Fisa merasa sedikit canggung dan malu saat melihat buku nikah palsu tersebut. Dia diam-diam menatap Jormac, yang tampaknya tetap tenang di luar, tetapi dia bisa merasakan ketegangan di dalam diri Jormac. Mereka berdua memahami bahwa ini adalah bagian dari peran mereka, tetapi tetap saja, situasi ini membuat mereka merasa gugup dan tidak nyaman. Fisa berharap semuanya akan berjalan lancar di Tokyo, Jepang, meskipun perannya sebagai istri Jormac cukup mengejutkan.


"Ingatlah, kalian berdua adalah suami istri dan aku adalah anak dari kalian berdua," Harley memberikan perintah kepada Jormac untuk menjalankan aksinya sebagai ahli strategi dan juga sebagai "istri" dari Fisa.


Jormac, meskipun merasa agak canggung dengan peran yang tidak biasa ini, mengangguk sebagai tanda persetujuan, lalu mulai menyusun rencana untuk pergi ke bandara. Dia tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, dan persiapan yang matang sangat diperlukan. Dengan penuh konsentrasi, dia memikirkan langkah-langkah yang harus diambil, mulai dari waktu keberangkatan, rute yang akan diambil, hingga cara memastikan agar tidak menimbulkan kecurigaan di bandara.


Dia tahu bahwa ini adalah bagian dari rencana mereka untuk masuk ke Tokyo, Jepang, dan mengambil alat yang mereka butuhkan. Dengan hati-hati, Jormac mulai mempersiapkan diri untuk berperan sesuai perintah dari Harley, sementara Fisa juga bersiap-siap untuk menjalankan perannya sebagai "suami" Jormac.


"Kuserahkan padamu, Jormac, aku juga akan berusaha sebaik mungkin sebagai istrimu," kata Fisa pada Jormac sambil menahan rasa malunya.


Padahal Jormac telah menghilangkan rasa gugupnya barusan, tetapi kini dia kembali merasa gugup setelah melihat muka Fisa yang memerah seperti tomat. Menurut Jormac, Fisa terlihat sangat imut dan menawan, membuat jantungnya berdebar tidak karuan.


Kemudian Jormac tersenyum ringan dan mencoba memberikan semangat pada Fisa. "Aku tahu kau akan melakukannya dengan baik, Fisa. Mari kita jaga agar semuanya berjalan lancar."


Fisa hanya bisa mengangguk sambil tetap merasa malu.


Sementara Jormac, dia merasa bingung dengan perasaan yang telah dia alami saat melihat Fisa dalam beberapa momen terakhir. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan suhu tubuhnya meningkat dengan sendirinya. Rasanya seperti dia sedang mengalami sesuatu yang baru dan berbeda.


Dia mencoba merenung sejenak, mengingat kembali kenangan dengan Laura Sean, dan dia mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Fisa memiliki kemiripan dengan apa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Meskipun masih bingung dan tidak yakin bagaimana harus menghadapinya, Jormac mulai menyadari bahwa ada perasaan yang berkembang di dalam dirinya, dan itu membuatnya semakin bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


Mungkin itu adalah tanda bahwa Jormac sedang mengalami perubahan dalam hidupnya. Dia tidak pernah mengharapkan bahwa sebuah misi akan membawanya pada perasaan seperti ini. Namun, dia harus tetap fokus pada misi mereka dan menjalankannya dengan baik. Jormac berusaha untuk tidak membiarkan perasaan ini mengganggu tujuannya, karena melibatkan perasaan ke dalam misi adalah sebuah kesalahan besar.


Mau bagaimanapun, Jormac berpikir kalau dia harus terus menjalankan tugasnya sebagai ahli strategi.