
Larissa sudah ketar ketir sejak tadi ketika Jhosua memintanya untuk ikut dengannya. Namun semua di luar prediksi, pikiran larissa yang akan di hukum dan di pecat musnah tatkala asisten sang bos mengajaknya kesebuah cafe di seberang jalan.
Larissa menunduk sejak tadi, Sungguh ia merasa menyesali semua. Andai ia tau pria yang duduk di depannya ini adalah asisten sang di rektur yang wajib di hormati juga pasti ia akan lebih hati-hati.
"Apa lehermu tidak sakit menunduk terus... "Suara itu membuat larissa segera menegakkan tubuhnya. Ia harus ekstra lebih hati-hati mulai sekarang.
"Sejak tadi kau banyak bicara ya. .. kenapa mendadak jadi bisu seperti ini..? " Larissa meneguk salivanya, sejak tadi larissa sudah gugup dan sekarang mendapat sindiran seperti ini semakin tak berkutik saja.
Seorang pelayan datang membawakan makanan yang di pesan oleh Jhosua. Jhosua terus menatap gadis di depannya ini, ia bersendekap dada.
"Kau tau.. aku mengajakmu kemari karena apa? "Larissa menggeleng , ia tak tau apa tujuan Jhosua mengajaknya ke cafe ini. Tapi yang jelas sejak tadi firasat Larissa sudah buruk.
"Ti...tidak tau pak..."Cicitnya, dengan sedikit rasa ketakutan Larissa tetap menjawab.
"Ok... saya pesan dua porsi nasi goreng seafood kamu temani saya makan...
"Haahhh? "Larissa langsung menatap tanda tanya. Tidak mungkin kan Asisten pemilik perusahaan ini mengajaknya makan siang bersama? apalagi sama karyawan baru seperti dirinya.
"Ta..tapi saya sudah makan pak..." Perut Larissa memang sudah kenyang. Tapi jika boleh jujur ia sungguh mau dengan makanan di depannya ini. sebuah makanan yang pasti mahal dan dirinya tak akan sanggup untuk membeli.
"Tapi setidaknya kau hargai pemberianku.. aku memberimu makan bukan tanpa alasan.."
"Maksudnya pak?" Larissa cukup berani bertanya kali ini,sepertinya firasat buruk nya menjadi kenyataan.
"Makanlah dan habiskan.. karena kau harus lembur malam ini..." Tubuh larissa sudah lemas saja, baru mendengar kata lemburnya. Apa yang akan di lakukan nanti ntahlah?
"Kau harus habiskan makanan ini.. agar nanti kau tidak kelaparan" Larissa hanya mengangguk saja tanpa membantah kali ini. Ia pasrah saja toh memang salahnya karena sudah berani melawan orang seperti Jhosua. Walaupun gelarnya hanya seorang asisten tapi pria ini kaya dan banyak uang. Mau bagaimana pun orang kecil sepertinya tetap kalah.
Larissa akhirnya memakan nadi goreng seafood yang sejak tadi menggunggah selera itu. Keduanya makan dalam diam walau sesekali Jhosua mencuri pandang ke arah gadis di depannya ini.
Setelah makan siang bersama dan membuat perut Larissa seakan ingin meledak. Kini gadis itu berjalan mengikuti Jhosua dari belakang masuk kembali dalam perusahaan.
Pemandangan keduanya mendapat tatapan-tatapan dari para karyawan yang melihatnya. Tak terkecuali karyawan yang bernama Araa, seorang karyawan super judes dan julid yang bekerja beberapa bulan yang lalu di perusahaan besar itu.
"Enak banget tuh anak baru.. baru kerja tiga hari udah bisa deket sama pak Jhos..."Ucapnya ketus di sertai lirikan mata tajam.
"Emang kenapa kalo pak Jhos deket sama Larissa? iri??" Sahut Linda teman larissa seangkatan Araa. Gadis itu lebih membela Larissa karena Linda lah yang membawa Larissa ikut melamar bekerja disana.
"Iddihhh... siapa juga yang iri.. eh denger ya.. Masih cantikan gue kemana-kemana.. si Larissa mah gak ada apa-apanya.. " Araa jelas tak terima, ia harus menang dan tak terima kekalahan. Awal dirinya bekerja di perusahaan itu incarannya adalah Daniel dan Jhosua tapi sayang awal-awal bekerja Araa sangat jarang melihat Daniel ke kantor, hanya Jhosua saja yang aktif.
Araa memang mengincar kedua pria tampan itu karena sebagai wanita dia tak ingin hidup susah. Ia ingin hidup nyaman dengan harta yang berkecukupan, Ya cukup segalanya. Cukup bisa memberi rumah, cukup bisa memberikan dirinya mobil, dan cukup bisa memberinya harta. Anggap saja Araa ini adalah definisi wanita matre namun semua belum tercapai.
.
.
.
Jika para karyawan mengira Larissa senang bisa berdua dengan asisten tampan itu. Jauh dari kenyataannya, kini Larissa sedang berkutat dengan laptop di depannya.Duduk di lantai disertai meja kecil disana. Ya, sebelumnya pria itu sudah mengatakan jika Larissa di traktir makan siang ada alasannya. Sempat penasaran dengan apa alasannya kini Larissa sudah mampu menjawab semua, Jhosua memberi hukuman pada gadis berusia dua puluh dua tahun itu untuk mengerjakan tugas yang seharusnya Jhosua kerjakan.
Jhosua yang tak ada jadwal meeting hari itu berniat menyelesaikan tugasnya yang begitu menumpuk. Di tambah lagi Daniel belum bisa efektif karena kondisi Nayra yang belum terlalu pulih. Tapi mengingat tadi pagi ada yang mencari perkara dengannya akhirnya Jhosua pun punya ide cemerlang yaitu dengan cara menghukum gadis itu mengerjakan pekerjaan nya.
"Pak..." Larissa yang mulai pegal itu memanggil Jhosua ingin meminta di beri keringanan. Larissa menoleh ke arah sofa dimana pria itu duduk santai dengan ponsel di tangannya.
Larissa mulai mengacak-acak rambutnya kesal, ia tak suka di abaikan seperti ini apalagi oleh seorang lelaki.
"Pak... boleh saya keluar ya.. tugas saya juga banyak loh..."Jhosua hanya diam tak memberi respon apapun.
"Sumpah ini orang nyebelin banget pengen deh gue tampol tuh muka sok kegantengan" Batin gadis itu kesal.
"Pak...Pak Sua...."Jhosua yang sejak tadi diam kini bereaksi. Pria itu menatap Larissa dengan alis terangkat sebelah.
"Apa Tadi kamu bilang?
"Pak Sua..."Jhosua memejamkan matanya, gadis ini benar-benar menyebalkan.
"Dengar ya Laris.. Panggil aku Pak Jhos.. Bukan pak Sua .. kau mengerti?
"Ih.. bapak aja manggil saya Laris.. nama panggilan saya tuh Rissa pak.. bukan Laris.." Gadis itu protes, tak terima dengan panggilan itu. Enak saja dirinya punya nama bagus malah di panggil Laris, di pikir barang apa.
"Kamu protes saya panggil Laris, tapi kamu sendiri manggil saya dengan sebutan pak Sua.. aneh..." Jhosua berkacak pinggang menatap tajam gadis yang sejak tadi tak mau kalah berdebat dengannya.
"Iihh.. bapak tuh katrok banget sih.. Panggilan Sua itu gaul tauukk.. ala-ala korea gitu.. kayak salah satu member Kpop Seventeen.. ada tuh yang namanya Jhosua adik-adiknya manggil kak Sua..keren kan??
"Gak usah banyak bicara kamu mending kamu se..."Pria itu tak melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba seseorang membuka pintu dan muncullah sosok Daniel di sana.
Jhosua diam begitupun Larissa yang terkejut dengan hadirnya seorang pria yang begitu asing dimatanya
"Siapa dia? sejak kapan kau berani membawa seorang perempuan ke ruangan mu.." tatapan mata datar dan tajam itu langsung tertuju ke salah satu gadis yang berada disana.
"Karyawan baru.. Dia membuat ulah dan saya hanya memberinya hukuman Tuan.." Daniel mencoba percaya saja tanpa banyak protes.
"Ya sudah.. Aku hanya ingin bilang jika aku pulang duluan..."
"Baiklah Tuan Hati-Hati....."Tanpa menjawab apapun Daniel berlalu pergi begitu saja.
Orangnya sudah hilang tapi pandangan Larissa masih ke arah pintu. Sepertinya pria tadi adalah bosnya, Tampan , Datar dan terkesan dingin. Jadi Julukan Ceo dingin itu bukan hanya ada di novel-novel tapi dunia nyata juga ada.
"Tak perlu terus menatapnya, Bos sudah punya istri.. " Suara itu membuyarkan lamunan Larissa.
"Apa? Su.. sudah beristri?
"Iya.. Dan istrinya sangat cantik lebih cantik darimu..." Bibir larissa mengerucut, ucapan pria ini sangat menyebalkan. Larissa diam lagi, padahal tadi dia sudah tertarik eh ternyata suami orang.
"Ganteng sih.. tapi kalo udah beristri? Ogah aah..
.
.
.
TBC.