One Night With A Pervert Cousin

One Night With A Pervert Cousin
Tujuh Puluh Empat



Jadi?


Aku masih menerka apa yang akan di pertunjukan Vianvaro disini.


Sudah 5 menit aku duduk di kursi tinggi ini yang berhadapan dengan meja bar. Dan pria yang membawa ku masih saja meneguk cairan anggur berwarna merah, aku tau minuman itu kadar alkoholnya rendah tapi tetap saja aku tidak suka melihat Vianvaro menegak jenis minuman mengandung alkohol. Apalagi dia adalah sumia ku sekarang.


" Cukup segelas saja! Aku tidak suka bau minuman" Kata ku dengan suara tegas. Kali ini aku tidak mau bertoleransi lagi.


Gelas itu baru saja menyentuh bibir nya dan ia menyunggingkan bibir nya yang ikut memerah karena warna anggur yang di minum.


" Apa kamu lupa! Alkohol ini punya jasa besar tentang kita! "


Alis ku naik sebelas, bagaimana bisa alkohol punya jasa tentang aku dan dia! Aku mendeham kecil mengerti akan maksudnya. " Ya kamu benar kalau saja saat itu aku tak gila minum alkohol yang langsung membuat ku teler lalu secara ajaib melupakan kebejatan mu mungkin saat ini aku masih betah melajang... Atau mungkin saja sudah menjadi istri Arland" Sahut ku membuat nya garis bibir nya rata lagi, bahkan ia mengeratkan pegangan nya di gelas bulat itu dan menegak langsung air itu. Mungkin aku salah menyeret nama Arland.


" Karna itu aku bilang minuman ini punya jasa besar kan! " Tutur nya dengan ringan.


Brak!


Hingga Ia meletakkan gelas kosong ke meja dengan sedikit kasar melonggarkan dasi yang merekat di lehernya. Rasanya ada sisi rasa suka ku kalau melihat nya cemburu dengan nama mantan yang disemat.


" Ya! Dan aku juga mau berterimakasih dengan minuman ini, bagaimana kalau aku juga meminum"


" Berani sentuh! Aku akan mengurung mu di asrama khusus ibu hamil"


Tangan ku langsung disingkirkan saat menyentuh leher botol  aku tergelak karena berhasil membuat nya marah.


" Aku juga ingin anak ku lahir sehat Vian! So! Kita nungguin siapa disini! ?? Aku bersedekap dengan udara ac yang memang rada dingin dan mata ini menjalar ke kumpulan pajangan botol botol disana. Suasana lampu yang terang sedikit membuat mata ku  Lalu kuedarkan ke sisi lain.  Ini sebuah bar yang seharusnya rame jam segini tapi ini tempat seperti di sediakan khusus untuk kami saja. Bahkan aku yakin seorang Bartender disana juga mulai bosan melihat pasutri yang seharunya pulang kerumah malah nyasar kesana dengan obrolan yang mulai garing.


" Sebentar lagi dia datang" Sahut Vian dengan tubuh menghadap kedepan. Jari nya memutar mutar garis gelas atas, suara yang seperti terendam parau dan memberi kesan kosong. Hingga didetik berikut nya aku bisa mendengar suara gesekan roda yang di dorong kuat dan kasar juga asa suara teriakan tertahan.


Aku langsung menoleh ke belakang.


Darah ini seperti baru saja berhenti


Di depan sana Leo sedang mendorong Deasy diatas kursi roda dan keadaan Deasy dilihat tidak secantik saat di acara barusan. Rambut nya acak acakan dan mulutnya di ikat oleh lakban hitam. Bahkan kulihat ada memar di jidatnya.


" Ini?? " Aku menoleh pada Vian. Minta diperjelaskan. Bahkan jiwa wanita ku berontak melihat Deasy diperlakukan seperti itu. Dia wanita yang sekarang tak punya daya berjalan dan sekarang apa yang dilakukan Leo maupun Vian padanya.


Deguman pintu disana ditutup kasar beriringan suara roda yang di dorong cepat lagi hingga dari jarak pandang tak jauh. Aku bisa melihat kembali mata indah Deasy di sana. Mata itu tajam melihat ku dengan penuh dendam menusuk bahkan seperti serbuan pisau yang mengiris iris.


Aku mengeratkan jari di lengan Vian terus meminta nya penjelasan.


"Kenapa dia disini? Dan apa yang terjadi dengan kepalanya?? Vian" Cekat ku semakin dalam.


Vian berputar kearah ku sebentar lalu menghadap kearah Deasy yang dalih melototi nya tajam.


Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai mendengung nyaring saat Vian turun dari sana. Aku juga tertatih mengikuti nya perlahan lahan turun dari kursi yang aku tempati. Dan yang kulihat sekarang adalah kedua nya saling menatap tajam seperti dua pisau tajam hanya saja mereka punya arah pembicaraan sendiri. Itu bukan tatapan perasaan tapi kebencian dan sorot keserakahan yang aku lihat dari mata Varo, bahkan ia menunduk mensejajarkan pandangan di mata Deasy. Mereka cukup dekat hanya saja udara nya bukan aura percikan yang membuat ku cemburu seperti sebelumnya.


" Praaak"


Suara gesekan lakban yang menutup mulut Deasy terdengar kasar. Itu pasti perih sekali. Tapi wanita itu cukup menutupi rasa sakit nya dengan terus menahan kemarahan disana. Terlihat ada serbuan nafas yang memburu.


" Aku selalu suka cara mu Varo. Kita selalu melakukan permainan ini kan. Sebelum kamu menghujamkan milikmu... "


" What The Hell!! "


Nafas ku tertahan dengan dengungan yang seperti berputar di telinga ku. Aku mengerti arah pembicaraan Deasy hanya saja ini lebih rasa sakit yang menampar ku. Siapa didunia ini yang akan menerima mendengar cerita percintaan pasangan mu di depan mata sendiri. Walau begitu aku mencoba menguasi diri otak kecil ku seperti memberi arah kalau ini hanya taktik Deasy. Mengingat bagaimana licik nya wanita ini.


Disana wanita itu tersenyum tipis dan menggerakan pupil matanya yang melebar cantik. Seolah menyiratkan bayangan di sana.


" Tapi aku tidak mengira kalau kamu akan membawa istri mu disini. Apakah kita akan bercinta di depan nya?? Hmmm... Kau tau Varo rasa sakit jeratan ini sangat bisa kuresapi


Wanita ini memejamkan matanya dan mendesir dengan nafas pelan yang mengalun.


Rasanya ingin sekali aku tarik Vianvaro untuk meminta penjelasan dan menuangkan kemarahan ku hanya saja tubuh ini tetap diam menonton adegan yang pelan pelan terasa sesak.


Vian menarik tubuh nya berdiri tegak seolah mengacuhkan apa yang Deasy sampaikan dan itu membuat riak lagi di mata hitam wanita itu, ia berdalih kearah ku dengan sorot kemarahan 180 derajat dari sorot nya ke Vian barusan. Aku sampai meremang menyelami tatapan Deasy yang menakutkan itu.


" Kau bahkan tak berharga dari pada sampah Deasy! Aku sama sekali tidak terpengaruh oleh mu" Kata Vian disana dengan nada ringan.


" Oh ya. Lalu apakah kamu berharga? Apa kamu lupa kamu itu seperti apa? Ck... Aku yakin dia bahkan tidak tau bukan kamu seperti apa!! "


Apa? Seperti apa maksud nya?


Aku ingin sekali menatap Vian hanya saja itu akan mudah dibaca Deasy. Aku sadar saat ini dia sedang mempermainkan situasi.


Vianvaro diam sejenak lalu menarik nafas.


" Apapun aku, aku tidak peduli dia menilai ku apa! Dia saat ini dia milikku"


aku meneguk saliva ku dengan cepat. Dan berkedip berkali kali. Bahkan kenapa saat ini alu jadi bimbang.


Lalu suara tawa Deasy pecah. " Aku ingat dulu kamu juga bilang begitu tentang ku! Kamu tidak peduli masa lalu ku dan berjanji akan hidup bersama ku selamanya.. Apa kamu lupa itu Varo... "


Kalimat itu lebih seperti mantera yang seolah ingin merasuki Vian. Bahkan jantung ku berdebar keras memikirkan kalimat yang aku dengar. Apakah benar dulu Vian mengatakan hal yang sama dan berjanji??


Bahkan pusat perhatian ku ikut goyah.


" Hm kapan aku bicara seperti itu! Mungkin otak mu sudah bermasalah... "


Uhuk..


" Apa kalian sudah selesai bicaranya?? Aku tidak mau ikut bagian nostalgia kalian" Tutur ku setengah ingin menekan kearah Vian.


Ada Rasa kecamuk yang aku sampaikan. Dan aku tidak mau terlalu lama mendengar atau pun mengetahui lagi tentang masa lalu mereka. Ini akan berpengaruh buruk untuk hubungan ku dengan Vian kelak.


" Oh.. Apa harusnya kamu cukup dengarkan saja Fayza! Aku yakin kamu akan bisa menilai bagaimana dia sebenarnya... "Sergah Deasy setengah berdecih.


Aku mendekati Vian dengan spontan" Seperti katanya apapun dia aku adalah miliknya saat ini.


Milik nya! Dan aku akan menerima apapun dia, mengerti kamu!!! "Kalimat itu spontan dengan rasa amarah yang terselubung dan suara hati yang ingin aku sampaikan. Liur yang aku teguk terasa mengganjal di tenggorokan. Bahkan aku menaikan dagu ku menatap tajam pada Deasy memperlihatkan pengaruh ku padanya.


Disana Deasy menggertakkan giginya dengan tangan mengepal dan memukul mukul pegangan kursin roda itu.


" Emosi yang kompleks sayang... Jangan terpadaya olehnya!! " Kata Vian ditelinga ku. Jemarinya lalu mengusap sisi anak rambut dan menyelipkan nya di sela telinga ku.


" Jelaskan langsung kenapa dia dibawa kesini?? " Tanya ku pada Vian. Aku benar benar marah dengan nya.


" Kau dengar itu! Istri ku bilang ia ingin tau kenapa kamu di bawa kesini" Vianvaro malah mengulangi perkataan ku bahkan mata nya tak beranjak dari sorot ku yang menuntutnya.


Suara nafas Deasy yabg terdengar bergemuruh dan pukulan tangan nya kembali terdengar mengisi ruangan. Ia seperti enggan membuka suara.


" Yang membawa Albigail ke sini adalah dia! Dan dia juga yang menjebak Joseph"


Itu kata keluar dari Leo yang sedari tadi mungkin sudah jengah menyaksikan kami bertiga yang tersulut emosi masing-masing.


Aku melihat kearah Leo dia tampk tergagap apalagi saat Vian ikut melihat kearahnya


" Aku hanya mengatakan yang harus nya Nyonya ketahui! Deasy hanya akan membuat suasana panas" Tutur Leo membela diri kemudian ia melihat keudara dan menunduk seperti merasa ia cukup lancang membuka suara tapi bagi ku itu lebih baik.


" Menjebak Om Joseph? Itu kamu Deasy??? Jadi apakah yang menculik ku itu bukan Joseph tapi kamu??? "


Kali ini aku melihat kearah Deasy. Mengingat bagaimana tersiksa nya terbakar di bawah matahari di lautan lepas seorang diri terapung apung di atas perahu menunggu ajal dan keajaiban. Darah ku seolah mendesir keatas. Bahkan ia menggunakan orang lain untuk meloloskan diri?? Dan itu adalah Paman nya Arland!!! Ada orang lain harus menebus kesalahan nya. Orang lain harus kehilangan nyawa karena dia!!Rasanya pasokan udara yang aku hirup menipis. Dan disana dia tersenyum, jelas sekali kulihat ia tersenyum. Demi apa??


Aku langsung menerjang Deasy mengumpat dan melontarkan kemarahan. Bahkan aku tak begitu memperhatikan siapa yang menyekal ku menjauhkan cakar ku untuk menggores wajah mulusnya. Merontokan rambut indah nya. Dan menghentikan kuku ini untuk mencolok matanya.


" Sudah sudah.. Stop Fay.. Stop. Ingat kandungan mu... "


" Tidak... Dia wanita iblis.. Vian. Bahkan Om Joseph harus kehilangan nyawanya karena dia kan... Dia harus mempertanggung jawabkan nya" Cecar ku kali ini melontarkan pada Vian bahkan aku kesal ia menghentikan amukan ku.


" Sssssssst.. Sssssst bukan dia.. Dia hanya mempengaruhi Joseph. Pelaku nya memang Joseph!! "


Aku mendelik sesaat saat tubuh ku di guncang dan mencerna kalimat Vian.


" Ayolah.. Istri mu ini hanya tidak terima kematian paman kekasih kesayangan nya. Aku yakin itu alasan ia ingin menyerang ku" Koar Deasy di pojok sana yang dijauhkan Leo dari jangkauan ku. Bahkan kurai rodanya dipalingkan kearah berlawanan.


" DIAM! A*JING!! "jerit ku kesal.


" Jadi apa gunanya dia disini!!! Apa sebenar nya yang ingin kamu sampaikan Vian!!! " Teriak ku murka pada Vianvaro.


" Stttt sttt jangan marah marah Fayza. Aku akan menjelaskan nya. Tenangkan dulu diri mu..."


Aku menarik nafas panjang dan membuangnya lagi.


Kulihat disana Leo kembali menutup mulut Deasy dengan lakban dan erangan Deasy dalam bekapan kembali terdengar. Kulirik Vian dengan masih emosi yang belum mereda dia terlalu bertele tele dan aku semakin kesal.


" Aku menawan nya! Kamu tau dia yang membuat Albigail mengincar ku! Ini tujuan nya dan aku perlu jaminan agar bisa melawan Albigail!! "


Aku masih tidak mengerti. Jaminan apa yang Vian sampaikan. Lalu melawan Albigail?


" Leo! Bawa di ke dalam sana" Perintah Varo pada Leo dan pri itu segera menuruti nya.


" Aku masih tidak paham.. Katakan semua nya Vian. Tanpa ada yang ditutupi" Kata ku menarik baju nya dengan kasar.


Mata Vian turun kebawah kearah tangan ku yang masih mencengkram baju nya, walau ini tak sopan tapi aku tak peduli.


" Okey! Aku tau darah Varo mengalir di bayi kita dan itu membuat kamu juga tiba tiba bertindak kasar. But aku menyukai nya sayang... "


Aku semakin menarik baju nya" Jangan membual lagi Vian. Aku minta penjelasan mu!!! "


Ia malah tertawa kecil lalu pelan pelan menarik jemari ku yang mencengkram kemeja nya dan memilin nya dalam tangan nya yang lebar dan mencium punggung tanganku. Itu sukses membuat ku sedikit meredakan emosi walau masih zona kesal.


" Antonius dulu adalah kekasih Ibuku!! Dia pernah sering mengunjungiku waktu kecil. Di pikir aku ini adalah anak nya dari hubungan nya dengan Ibu ku. Sebenar nya bukan!! "


Vian berhenti sejenak untuk menarik nafas. Seperti nya ia cukup sulit mengumpulkan waktu untuk menyampainya padaku. Matanya yang coklat madu ikut berpusat kearah ku dengan dalam. Dan aku terlalu syok untuk menyelami matanya yang dalam itu.


" Mungkin Jessica mengelabui nya untuk menguras harta Antonius. Dia memanfaatkan ku! Dan akhirnya dia tau kalau aku bukan anak nya. Karena itu dia sangat membenci ku!! "


Vian tertawa kecil jemari nya mengusap sela tangan ku dengan lembut.


" Bahkan ia ingin menggunakan Arland untuk membuat ku tidak bahagia!! Kau tau dia rela menjual perusahaan nya untuk sekedar membeli saham di V.E dan mengarahkan Arland agar merebut kamu dari ku dan itu hanya alasan sakit hatinya di masa lalu!!! "


Alis ku mengerut mendengarnya. Aku baru tau sekarang dan itu memang menggelikan.


" Apa kamu berharap aku dan Arland itu kakak adik??? "


Aku menggeleng cepat. Aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau jalan nya seperti itu.


" Lalu! Apa maksud mu tentang jaminan Deasy ada disini!! APa hubungan semua nya dengan Albigail??? "


Vian menegakkan badan nya dengan mata setengah berkeliaran. " Ya aku tau semua rahasia dia dan hal yang harus tak dia tahu sudah ia ketahui. Semua nya karena Deasy! Deasy yang membongkar nya! So!! Aku saat ini incaran Albigail" Sahut Vian lalu ia malah tersenyum tiga jari.