Noushafarin

Noushafarin
Bab 9



Anjani tergesa-gesa menuju dapur. "Dimana Arin?" tanyanya pada Mbok Yem.


"Di belakang Nyonya, membersihkan peralatan ngepel."


Anjani melesat menuju tempat yang disebut Mbok Yem.


"Arin." panggilnya sambil mengatur napas.


Gadis itu mengernyit melihat Nyonya Mudanya tersengal-sengal.


"Ada apa Nyonya?"


"Tolong antarkan flashdisc ini ke Nakula. Tadi aku lupa menitipkannya pada Mama."


"Saya?"


"Iya, saya ada urusan yang tak bisa ditinggalkan. Sekarang juga saya harus pergi."


"Tapi..."


"Tolonglah, yang lain tak bisa meninggalkan pekerjaannya." Anjani memelas.


"Iy-iya Nyonya, saya kesana sekarang."


"Sopir kantor sudah dalam perjalanan."


"Iya Nyonya, saya siap-siap sekarang."


Arin merapikan peralatan bersih-bersihnya, kemudian segera bersiap untuk pergi ke kantor Nindya Karya.


Sementara itu, di dalam ruangan Sadewa, Mama Kandi sedang mengamati putranya makan dengan tidak semangat.


"Apakah makanannya tidak enak?"


Sadewa mendongak dan menatap Mamanya dengan tersenyum. "Makanannya enak kok Ma."


"Lantas, kenapa begitu caranya makan?"


"Oh, ini." Sadewa bingung memilih kata-kata. "Sepertinya aku sariawan." kilah pemuda itu.


"Kenapa tidak bilang? Mama kan bisa bawa obatnya."


Sadewa tersenyum lembut melihat wanita yang telah melahirkannya itu.


"Tidak apa-apa Ma, masih bisa kutahan."


Mama Kandi menarik napas kasar. "Apakah kau kecewa pada Mama soal kekasihmu, Della?"


Sadewa menggeleng. "Tidak Ma. Aku yang minta maaf karena tidak mendengarkan nasehat Mama." kata pemuda itu sambil menutup kotak makannya.


Pemuda itu tersenyum dan pindah untuk duduk di samping Mamanya. Ia meraih tangan wanita paruh baya itu dan mengecup punggung tangan Mama dengan penuh sayang.


"Maaf tidak jadi anak yang dengar-dengaran."


Mama Kandi mengusap kepala anaknya dan menatap pemuda itu dalam-dalam. "Belajarlah dari kesalahan dan jadilah bijak."


Sadewa hanya tersenyum mendengar nasehat itu.


"Dan berhenti mengganggu Arin." imbuh Mama Kandi membuat Sadewa terbelalak tak percaya. "Kenapa kau senang mengerjai dan memarahinya?"


"Aku..."


Pemuda itu tak melanjutkan kalimatnya karena Mama Kandi langsung menarik telinga kanannya.


"Aduh Ma, sakit." Sadewa mengusap telinganya setelah Mama Kandi berhenti.


"Makanya, jangan keterlaluan."


Dasar pengadu! Awas kau ya Arin! gumam Sadewa masih sambil mengusap telinga.


***


Arin sedang berjalan menuju lift, tugasnya mengantar flashdisc telah selesai. Ia harus bergegas pulang untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba tubuhnya terpelanting bersamaan dengan tatikan keras pada lengan kirinya. Tanpa menoleh pun ia sudah bisa menebak siapa yang senang sekali menyeretnya seperti ini. Dan Arin pun sudah hapal benar aroma parfum Tuan Mudanya ini.


Ada apa lagi sih? Ingin rasanya Arin membentak Sadewa.


"Sss, sakit Tuan." dan yang terucap hanyalah rintihannya.


Sadewa mendorong Arin ke dalam ruang tangga darurat. Kenapa aku membawa Arin kesini lagi? Sadewa bingung setelah keduanya sudah berada di dalam.


Tempat ini, lagi??! Arin kebingungan melihat ruangan itu kemudian menatap Sadewa. Namun ia segera menunduk mendapati Tuan Mudanya sedang menatapnya dengan intens.


Sadewa terperangah, tadi dia tak memerhatikan penampilan Arin. Dan saat tiba ia baru melihat cantiknya wajah Arin dengan rambut dikepang seperti itu. Beberapa anak rambut berjatuhan di kedua sisi wajahnya, memberi nilai tambah pada Arin.


"Tuan Muda!" Arin menaikkan intonasi suaranya.


Sadewa mengerjap. "Kau berani membentakku?"


"Maaf Tuan, tapi saya sudah beberapa kali memanggil Tuan." jawab Arin menunduk.


Tuan Muda itu tersadar, jadi dari tadi aku melamun.


"Ehmm!" Sadewa berdehem menetralkan kecanggungannya. "Kau benar-benar suka mengadu ya."


"Maksud Tuan?"


"Kau mengadu pada Mama kalau aku sudah memarahimu kan."


"Maaf Tuan, tapi Nyonya bahkan belum berbicara pada saya sejak kemarin siang."


"Berhentilah berbohong!"


"Dan berhenti membuat tuduhan-tuduhan palsu, Tuan Muda!" Arin tak lagi dapat mengendalikan emosinya. Ia bahkan mendorong tubuh Sadewa yang menghadang di pintu.


Arin bergegas keluar saat Sadewa menahan tubuhnya yang limbung agar tidak jatuh. Baru beberapa langkah menuju lift, Sadewa kembali menarik tangan Arin.


"Aku belum selesai berbicara padamu." Sadewa berkata sambil menarik tangan Arin. Karena tak siap, tubuh Arin menabrak tubuh Sadewa dan terlihat seperti berpelukan.


"Sadewa!!!" hardikkan seorang wanita membuat keduanya sontak menjauhkan tubuh. Karena kerasnya dorongan tangan pemuda itu, Arin menabrak dinding dan jatuh.


Mama Kandi melangkah dengan cepat, ia membantu Arin berdiri.


"Bukankah tadi sudah Mama bilang? Berhenti mengganggunya!"


"Tapi dia ini pembohong Ma, dia suka sekali mengadu." Sadewa membela diri.


"Kalau yang kau maksud adalah perkataan Mama di ruanganmu tadi, maka kau salah besar. Bukan Arin yang bercerita, tapi Anjani. Iparmu itu melihatmu menyeret Arin kemarin." Mama Kandi terlihat benar-benar marah pada putranya.


"Ayo Arin, kita pulang sekarang." ajak Mama Kandi tanpa melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu.


Sadewa hanya terdiam dengan tangan mengepal melihat kepergian kedua wanita itu. Ia tak membantah lagi, karena takut akan membuat Mama semakin marah padanya.


Sejak kemarin ia sudah emosi, hati dan otaknya dipenuhi kemarahan, kebencian dan kekecewaan. Melihat Arin ia jadi melihat tempat untuk melampiaskan semua emosinya.


"Arghhh!" Sadewa meninju udara kemudian membalikkan badan.


Di depannya, seorang OB yang bername tag Udin sedang berdiri sambil membawa beberapa peralatan dan sebuah ember kosong.


Mimpi apa aku? Ketemu Tuan Muda lagi. Instingnya mengatakan ia harus pergi dari sana. Karena tak mungkin meneruskan labgkah menuju tujuan tanpa melewati Sadewa, Udian memilih berbalik kembali ke ruangan khusus OB.


"Berhenti, bawa kemari ember itu!" perintah Sadewa.


"Jangan Tuan." pinta Udin sambil berjalan semakin cepat. Terdengar suara orang berlari, refleks Udin pun berlari sekuat tenaga.


"Berikan ember itu!!!"


"Tidak Tuan. Jangan!" seru Udin sambil terus berlari. Pintu ruangannya telah terlihat. Udin membuka pintu seakan mendobraknya, membuat beberapa OB, OG dan seorang koordinator mereka menjengit.


"Apa-apaan kau Udin?!" hardik koordinator itu.


Udin tak menjawab, ia berjalan terus ke tengah ruangan. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka dengan kasar.


"Aku bilang berikan ember itu!"


Semua orang di ruangan membelalakkan mata melihat Sadewa datang dengan napas terengh-engah dan wajah penuh kemarahan.


"Tidak Tuan." sekuat tenaga Udin menggelng, ia bahkan memeluk embernya. "Bulan ini gaji saya sudah dipotong dua kali untuk mengganti ember yang Tuan pecahkan." Udin memelas.


"Berikan saja kataku!" Sadewa tak peduli keluhan Udin.


Udin menatap koordinatornya, laki-laki yang ditatap menggangguk. Maksudnya agar Udin menyerahkan ember itu. Dengan perlahan Udin menyerahkan ember dalam pelukannya, Sadewa segera merampasnya dengan kasar.


Kemudian ia membanting ember yang terlihat baru itu sekuat tenaga. Tak berhenti sampai disana, ia pun menginjak-injak ember tersebut sampai pecah berantakan. Beberapa OG sampai menutup mata dengan tangan, ngeri melihat pimpinan mereka melampiaskan kekesalan pada sebuah ember.


Sadewa terengah-engah setelah puas merusak ember tadi. Sedang Udin menatap nanar pada peralatan kerjanya itu. Ia sedih bukan karena meratapi nasib embernya, namun karena gajinya akan dipotong lagi untuk mengganti kerusakan peralatan kerja.


Udin menarik napas dengan susah payah, dadanya sesak. Berkurang lagi uang pengobatan emak.


Sadewa pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apa-apa. Ia membanting pintu saat menutupnya.


Beberapa rekan OB mendekati Udin yang terduduk lemas di lantai masih sambil menatap embernya.


"Sabar ya." ucap seorang rekan sambil menepuk pundak Udin.


"Jadi selama ini Tuan Sadewa yang memecahkan embermu?" koordinator itu ikut mendekati Udin dan menatap pemuda itu dengan iba.


"I-iya Pak." jawab Udin lesu.


"Kali ini sa...."


"Kamu!!" koordinator itu tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba Sadewa muncul kembali dan memanggil Udin sambil menunjuk dengan jarinya.


"Ikut ke ruangan saya!" perintahnya lagi.


Udin menatap koordinatornya dengan ketakutan. "Tolong saya Pak, saya tidak mau dipecat. Saya perlu uang untuk beli obatnya emak."


"Aduh, bagaimana ini?" Si koordinator pun terlihat bingung. "Sudah, cepat ikut saja dulu. Kalau kenapa-kenapa saya akan bicara dengan orang HRD."


Udin hanya bisa mengangguk pasrah dan berjalan menyusul Sadewa. Sesekali pemuda itu menoleh ke belakang dan melihat rekan-rekannya yang berjubel di pintu mengantar kepergiannya menuju ruangan Sadewa.


Emak...doakan anakmu ini mak. Supaya Udin lolos dari keganasan singa jantan kurang makan ini.


***