
"Tante ...."
"Eh! Eh! Astaga! Awas, Kyl!"
Bruk!
"Aduh!" gue langsung jatoh dari motor, pas si Kyli tiba-tiba aja lari ngehadang gue, waktu gue baru aja mau masuk gerbang rumah.
Tak ayal, demi menghindari si bocah sambleng itu. Gue pun langsung banting stang dan akhirnya malah nyungsep kek gini.
Bocah, setan!
"Kyl-"
Grep!
Huhuhuhuhu...
Gue baru aja mau ngehardik bocah ini. Sebelum dia malah tiba-tiba nerjang meluk gue sambil nangis tersedu-sedu, buat gue jadi nggak tega.
Ada apa, sih? Kenapa dia tiba-tiba melow gini? Bukan Kylian banget.
"Kyl-"
"Kyli? Nana?"
Lagi-lagi, belum sempet gue ngomong. Beberapa suara udah menginterupsi gue, sambil lari ke arah kita yang masih belum ngelepasin pelukan.
Pak Bian dan keluarganya. Tanpa banyak kata, Pak Bian pun segera ngeraih motor yang emang menimpa kaki gue, lalu menepikannya menjauh dari tempat gue.
"Astaga, Nana! Kamu kenapa, Nak?"
Kali ini Nyokap gue yang berseru heboh dengan suara yang syarat akan rasa khawatir. Nyokap pasti ngira gue abis kecelakaan.
"Kyl, lepasin dulu Tante Nananya," rayu Pak Bian saat anaknya masih aja nggak mau ngelepasin pelukannya, Sekalipun semua orang udah mau ngebantu gue buat berdiri.
"Nggak mau! Kyli nggak mau pisah sama Tante Nana. Pokoknya nggak mau!" sentak Kyli keras kepala, sambil mempererat pelukannya.
Astaga! Nih bocah kenapa, sih? Kok lebay gini? Kaya gue mau mati aja.
"Kyl, jangan gini dong. Papah mohon." Pak Bian malah terlihat frustasi di tempatnya. Buat gue makin bingung pada situasi saat ini.
Sebenarnya ini ada apa? Gue cuma jatoh dari motor doang kok. Kenapa mereka hiperbola banget sih?
"Kyli, kamu harus mulai belajar nerima Mamah."
Kepala gue pun sontak memanjang ke arah belakang tubuh Pak Bian, saat denger suara asing yang ikut menimpali di sana.
Eh, itu 'kan?
"Nggak mau! Pokoknya Kyli nggak mau ikut! Bella mau di sini aja sama Tante Nana!" Si Kyli masih keras kepala sambil memeluk gue erat banget sampe gue susah bernapas.
"Tapi saya Mamah kamu, Kylian. Kamu harus mau tinggal sama saya," rayu wanita itu.
"Nggak! Kamu bukan Mamah aku! Mama aku itu Tante Nana."
Eh? Maksudnya?
"Kyl, dia bukan Mamah kamu. Dia cuma tetangga kamu! Mamah kamu itu saya, Kylian. Saya yang melahirkan kamu!" jelas wanita itu lagi mulai kesal.
Terang aja dia kesel, orang anaknya nggak mau ngakuin dia. Pastilah dia marah.
"Dia Mamah aku!" teriak Kyli kenceng banget, buat gue hampir aja tuli karena teriakannya yang tepat di deket telinga gue.
Ampun deh bocah ini.
"Kyli!"
"Stop!"
Pak Bian tiba-tiba berteriak keras sekali. Sampe-sampe semua orang berjengit karenanya.
Pak Bian lalu bangkit sambil ngelirik mantan istrinya dan Kyli secara bergantian, dengan dada berombak-ombak kayak nahan emosi.
"Vero, kamu pulang aja," titahnya kemudian, masih mencoba menahan emosinya.
"Kyli, ke sini!" lanjutnya nggak boleh terbantahkan.
"Pah, Kyli-"
"Papah bilang, sini!" tegasnya sekali lagi.
Kyli pun langsung terdiam ketakutan. Namun, dia enggan menuruti ucapan ayahnya dan semakin menyurukan wajah di ceruk leher gue.
"Kyli!"
"Pak!" Akhirnya karena udah nggak tahan, gue pun kini memberanikan diri buat ikut campur.
Selain gue kasian sama si Kyli, gue juga capek terlibat dalam drama rumah tangga Pak Bian. Semakin lama tuh bener-bener mirip sinetron aja.
"Jangan paksa Kyli, tolong," mohon gue dengan sungguh-sungguh. Gue bahkan menatap matanya lekat-lekat.
"Tapi dia harus ikut saya hari ini. Karena minggu ini jatah saya untuk bersama dia." Bukan Pak Bian yang menimpali, tapi wanita itu.
"Tapi Kyli nya nggak mau."
"Dia bukan nggak mau. Hanya belum terbiasa saja. Karena itulah harus dipaksa, agar dia terbiasa bersama saya," terang si wanita buat hati gue langsung mencelos seketika.
"Dan hati Anda nggak sakit ngelakuin itu?" tanya gue nggak habis pikir.
"Kenapa saya harus sakit? Dia itu 'kan anak saya. Sudah seharusnya dia menerima saya sebagai ibunya," pungkasnya dengan jumawa.
“Kalo gitu Anda bukan ibu yang baik,"
"Maksud kamu?”
"Karena ibu yang baik pasti bakalan ngerasa tersiksa, jika melihat anaknya tersakiti."
****
"Tante Nana, mau ya jadi mama aku?"
Gue mendesah lelah saat untuk kesekian kalinya, Kyli menanyakan pertanyaan yang sama ke gue. Namun, belum bisa gue jawab. Bukan nggak bisa sebenarnya, tapi gue bingung aja mau jawab apa. Soalnya... apa ya?
Dibilang nggak mau terima, gue udah terlanjur baper sama Bapaknya. Tentu saja itu buat gue otomatis ngarep. Cuma... dibilang mau pun gue... gimana ya? Jujur gue belum siap nikah. Apalagi langsung punya anak. Parahnya anaknya macem si Kyli lagi. Makin ragu aja kan gue.
Bukan karena gue benci si Kyli atau nggak mau nerima kehadiran dia. Gue cuma takut nggak bisa jadi ibu yang baik buat dia. Itulah sebabnya, gue masih belum bisa mutusin apapun.
"Kyl? Jangan mulai deh. Tidur sono! Tante capek nih. Bacain kamu dongeng hampir tiga buku, eh... kamunya malah nggak mau tidur. Tante juga udah ngantuk tau,” keluh gue ngehindarin obrolan yang sensitif ini.
"Kenapa Tante nggak mau jadi Mamanya Kyli, sih?"
Ya begitulah. Bukan Kyli namanya kalau menurut. Sepanjang apapun ucapan gue, tetep aja si Kyli ini ngembaliin topik ke arah yang sama terus menerus dan buat gue jengah setengah mati.
"Ck, kamu sendiri kenapa ngotot banget pengen Tante jadi mama kamu? Padahal kamu ‘kan udah punya Mama. Cakep lagi kaya artis hollywood. Kenapa kamu nggak minta Emak Bapak kamu rujuk aja. Biar kalian bisa bareng lagi?"
Gue mengabaikan sakit hati atas ucapan gue sendiri, Ketika ngebayangin ucapan gue barusan bener-bener terjadi. Tiba-tiba saja gue ngerasa seperti bunuh diri dengan mengusulkan satu solusi, yang sebenarnya buat hati gue sakit banget.
Asli. Gue emang nyesek ngebayangin itu. Cuma ya mau bagaimana lagi? Gue terlanjur kepo, kenapa anak ini nggak mau nerima mamanya sendiri dan malah milih orang lain jadi mamanya? Kan aneh ya?
Di mana-mana juga, anak kecil itu pasti mau dan ngedukung orang tuanya bisa terus bersama, biar nggak punya tiri-tirian. Cuma, si Kyli malah nggak mau dan kayaknya dia beneran nggak ikhlas kalo emak bapaknya rujuk. Pokoknya... anak ini emang aneh sih menurut gue.
"Kyli nggak suka wanita itu," jawab Bella sekenanya.
"Gimana kamu bisa bilang nggak suka, kalo kamu sendiri nggak pernah mau buka hati buat dia dan tinggal bareng mama kamu? Kamu bahkan baru ketemu dia sekarang ini ya 'kan? Belum pernah bener-bener deket sama dia? Jadi gimana bisa kamu bilang nggak suka cuma dari pandangan pertama aja?"
Gue rasa gue emang udah gila, karena diri gue ini seperti beneran ngedukung cowok yang gue sukai ke pelukan wanita lain. Kayak nggak bakalan nangis darah aja kalo itu benar-benar kejadian. Parah 'kan?
Ada yang lebih gila dari gue?
"Kyli emang baru ketemu langsung dia sekarang, Tante. Cuma... sebenernya...." Nggak kayak biasanya. Kyli kayaknya punya beban berat sekali saat ini buat jujur. Padahal... biasanya juga asal ceplos.
Kenapa, sih, Dia?
"Kyl?"
Gue pun mencoba mendesak Kyli buat jujur, karena gue udah terlanjur penasaran.
"Nggak apa-apa, Tan.” Sayangnya, si Kyli kayaknya emang nggak mau jujur. Dia malah ngejawab kayak gitu, bahkan langsung membalikkan badan dan munggungin gue. Jujur aja, gue langsung kecewa seketika.
Saat ini kita emang tengah bersiap buat tidur di kamar gue, karena Kyli nggak mau pulang ke rumahnya. Dia ngambek sama kedua orang tuanya, makanya dari tadi ngeribetin gue terus.
Oke, mari kita skip yang itu. Sekarang back to Kylian, yang sepertinya dalam mode jual mahal. Dia nggak mau berterus terang akan perasaanya.
Akan tapi... gue udah penasaran banget nih. Gimana dong? Bisa-bisa gue mati penasaran kalo si Kyli nggak mau buka mulut. Hanya saja buat memaksanya pun, gue mana tega.
Lagian gue juga nggak punya hak buat ngelakuin itu. Soalnya gue 'kan bukan siapa-siapanya, jadi mana berhak gue ikut campur. Kecuali...
Ah, iya! gue punya ide.
"Ekhem. Kyl?"
Kyli nggak ngasih jawaban.
"Tante tau kamu belum tidur ya, Kyl. Nggak usah pura-pura gitu.” Gue nyoba mancing dia lagi. Tapi, si Kyli tetep nggak ngejawab.