
Ada apa dengan nya? Apa yang terjadi padanya? Pertanyaan pertanyaan itu seakan memenuhi pikiran ku. Aku menepuk bahunya agar dia kembali dari lamunan nya. Setelah dia kembali, dia menatap ku dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapan matanya terlihat sangat satu dan seperti tak memiliki tujuan hidup.
Hal apa yang membuat nya hingga seperti apa. Aku tak tega melihat nya begitu. Aku mencoba menghibur nya sebisa mungkin. Tak bisa berharap banyak, karena aku sendiri tak tau bagaimana cara menyembuhkan luka. Aku harap bisa sedikit membantu, dan ternyata ini berhasil walaupun tak bisa juga dikatakan sukses. Kini aku bisa kembali melihat senyum nya yang tadi sempat hilang.
Kini tatapan nya sudah tak lagi kosong, raut wajahnya pun sudah tak sesuram tadi. Tanpa ada aba-aba dia langsung memeluk ku dengan sangat erat, seperti tak ingin aku pergi. Entah aku juga menerima pelukan itu, ada getaran yang tak bisa ku jelas kan sekarang ini.
Cukup lama kami berpelukan, hingga dia melepaskan pelukan itu dan meminta maaf untuk perbuatan nya. Aku tak mempermasalahkan nya karena aku juga menerima pelukan itu. Dia tanpak jauh lebih baik setelah nya, dan aku merasa lega akan nya.
Kita memang asing yang tak mengetahui satu sama lain, tapi takdir lah yang membuat kita saling terkait. Hingga tanpa sadar pun aku juga sudah terbiasa dengan kehadiran nya walaupun itu hanya dengan waktu yang singkat.
Setelah semuanya tampak jauh lebih baik, aku menawarkan untuk mengantarkan pulang. Dia menyetujui nya tapi dengan syarat dia yang mengendarai motor ku, dan aku pun setuju saja. Kami pulang dengan langit yang sudah gelap, apalagi dengan langit yang mendung.
Jalanan juga masih basah, seperti nya lagi hujan akan mengguyur kota ini lagi. Tapi kita sangat menikmati suasana malam ini. Aku juga tak tahu bagaimana bisa aku merasa dekat dengan nya padahal kami belum lama mengenal.
Kami pun sudah sampai di tempat dia tinggal, dan aku baru tahu ternyata dia bukan lah orang asal sini. Dia sama seperti ku yang tinggal di kost an yang seperti asrama yang banyak aturan nya. Tapi kost tempat nya tinggal jauh lebih sederhana di bandingkan dengan tempat ku tinggal selama ini.
Aku berkendara tak mengebut seperti biasa. Aku ingin menikmati suasana malam ini yang menurut ku berbeda dengan malam biasanya. Aku kembali merasa rindu pada mereka. Kekosongan itu nyatanya tak bisa terisi dengan sempurna. Selalu ada celah untuk rindu itu menyusup.
Aku menyakinkan diri ku sendiri agar jauh lebih kuat menghadapi segala kenyataan. Kadang luka itu kembali terbuka tanpa ada sebab, tapi kembali lagi dengan apa yang menjadi tujuan kita. Aku benar-benar ingin segera berdamai dengan masalalu. Aku lelah dengan semua hal ini.
Sesampainya aku di kost, aku di sambut oleh mbak jesy dan seorang pria yang berpenampilan rapi. Mbak jesy menatap ku dengan penuh tanya, tapi dia membiarkan ku untuk menyelesaikan nya dahulu. Aku sudah tahu ini pasti akan terjadi cepat atau lambat.
Pria yang berpenampilan rapi itu adalah orang kepercayaan kakek ku. Aku memang tak begitu tahu, tapi jika dalam suasana seperti ini aku tahu orang ini pasti urusan kakek ku. Tak butuh waktu lama aku bisa menebak apa maksud dari tujuan nya datang kesini. Pasti tidak lain membujukku untuk kembali tinggal bersama kakek.
Memang kakek tak pernah memaksa ku untuk kembali ke sana, tapi dia akan selalu mencoba membujukku tanpa bosan. Ini sudah ke sekian kalinya suruhannya datang. Tapi aku akan selalu dengan pendirian ku yang tak akan pernah goyah.
Setelah menyampaikan maksud dan tujuan nya, pria itu langsung pamit undur diri. Aku pun menghela nafas kasar. Selalu saja kakek tahu dengan kondisi ku. Ketiak kondisi ku memburuk kakek pasti menyuruh orang kepercayaan nya untuk membujukku kembali. Tapi namanya juga aku, pendirian ku lebih kuat dari pada bujuk rayu kakek.