My love is back

My love is back
Kembali ke Kantor



Warung pun tutup. Aku meminta Vina untuk datang lagi besok. Pembeli lebih suka dengan konsep sekarang dari pada prasmanan. Aku pun meminta Dika untuk mencarikan tukang masak baru untuk besok, begitu juga dengan Vina untuk mencarikan seorang untuk bekerja sebagai pramusaji. Aku tidak bisa menanganinya sendiri terlebih aku harus kembali ke kantor. Vina dan Dika pun pulang.


“Sayang, kamu yakin tidak akan bekerja di kantor?” tanya Kayla.


“Aku harus kembali ke kantor. Kalau tidak perusahaan yang didirikan oleh kakek nenekku akan bangkrut,” jawabku.


“Baiklah, aku yakin suamiku bisa menyelesaikan semuanya,” kata Kayla lalu mengecup pipiku.


Aku tersenyum. Ponselku berdering. Terlihat nama Fikram.


“Aku sibuk jadi tidak bisa datang untuk berbicara langsung,” katanya.


“Baiklah. Katakan,” jawabku.


“Aku melihat data perusahaan VK Group, ternyata ada yang bocor di bagian data keuangan. Itu sebabnya perusahaan turun,” jelasnya.


“Astaga, lalu?”


“Nanti aku beritahukan lagi. Sekarang aku ada pekerjaan lain,” katanya lalu menutup telepon.


Aku pun meminta Kayla untuk menunggu di rumah saja karena aku harus pergi ke kantor. Kayla tidak mau pulang ke rumah karena kasihan pada Clarisa yang harus terus kena angin karena pergi menggunakan motor. Dia hanya meminta izin untuk Vina yang menemaninya selama aku pergi. Karena tidak ada pilihan lain aku menyetujuinya.


Setibanya di kantor. Aku langsung naik ke lantai empat untuk menemui Bayu. Pada saat mencapai lantai dua, pintu lift pun terbuka dan Bunga yang sedang berada di hadapannya dengan membawa map. Dia begitu canggung hanya dengan melihatku..


“Kamu mau ke atas menyerahkan dokumen?” tebakku yang melihatnya membawa map.


Dia hanya mengangguk. Aku menyuruhnya untuk masuk sebelum tertutup lagi pintunya. Awalnya dia ragu, tetapi dia pun masuk lift juga. Tidak ada sepatah kata pun. Tapi itu bukan masalah besar bagiku. Pintu lift pun terbuka. Bayu langsung berdiri ketika melihatku. Dia sedikit terkejut karena aku tidak datang sendiri.


“Maaf aku hanya ingin memberikan ini,” ucap Bunga sambil memberikan map itu.


“Apa ini?” tanya Bayu.


“Surat pengunduran diri saya,” jawabnya. “Saya akan segera berkemas,” lanjutnya.


Bayu melihat ke arahku.


“Sudah banyak uang dan sudah tidak perlu bekerja? Lantas untuk apa kamu melamar kerja di sini kalau akhirnya kamu mengundurkan diri? Lagi pula kontrak kerjamu sudah habis, pergilah. Saya tidak membutuhkan pekerja sepertimu,” ujarku ketus.


Terlihat matanya berkaca-kaca meskipun dia menunduk, begitu juga Bayu yang ikutan menunduk melihatku marah.


“Bayu, berikan saja gajinya sekarang,” seruku.


“Tapi, pak ...,” ucap Bayu yang terdengar seperti akan menolak. Tetapi setelah melihat aku yang menahan emosi, dia langsung mengangguk.


“Pak komisaris ada di dalam?” tanyaku.


“Tadi ada tamu dan sekarang lagi keluar ...”


“Dengan Karmila?” lagi-lagi aku memotong ucapan Bayu. Bayu mengangguk kembali.


Kantor berarti tidak di kunci. Benar saja, pintu terbuka dan tidak di kunci. Kebiasaan ayah yang ceroboh seperti ini yang bisa menyebabkan kecurian data. Aku melihat banyak sekali laporan yang belum di tanda tanganinya. Aku tidak tahu apa saja yang ayah lakukan di kantor selama berjam-jam dengan kerajaan yang masih menumpuk seperti ini. Aku menghubungi ibu terlebih dahulu.


“Iya, nak. Ada apa?” tanya ibu.


“Syukurlah kamu mau bekerja di sana lagi, ayahmu ada di sana?”


“Tidak. Dia pergi dengan tamunya.”


“Tamu? Ayah tidak memberitahu ibu kalau dia akan ada rapat atau pertemuan lainnya. Kamu tahu siapa yang dia temui?”


“Tentu saja temannya, bu. Mereka mungkin sedang pergi mencari pengacara untuk perceraian ...”


“Jangan sembarangan kamu! Masa ayah akan melepaskan ibu dan memilih wanita itu? Dia ingin bercerai denganku dan mengambil semua hartaku begitu?” sahut ibu yang memotong perkataanku.


“Bu, dengarkan dulu. Mereka menginginkan aku bercerai dengan Kayla, bukan mau bercerai dengan ibu.”


“Ibu tetap tidak terima, Kayla sudah memiliki anak darimu, darah dari keluarga ini mengalir di tubuh Clarisa. Cucuku.”


“Iya, bu. Aku tahu.”


“Baiklah ibu akan meminta penjelasan dari ayah nanti. Kayla ikut bersamamu? Kenapa tidak diam di sini saja sementara kamu bekerja di sana?”


“Tidak, bu. Dia ada di rumahnya. Sudah dulu ya bu, ada perkerjaan di sini.”


Ibu pun menutup teleponnya. Aku lanjut menghubungi ayah memberitahukan bahwa aku akan kembali bekerja di perusahaan. Aku meminta file keuangan beberapa bulan terakhir kepada Bayu. Tidak membutuhkan waktu lama, Bayu memberikannya file cetak.


Aku menggelengkan kepala. Sepertinya ayah langsung menandatangani ini tanpa di baca terlebih dulu. Ayah menghabiskan sampai ratusan juta untuk dana produksi barang baru. Tidak seharusnya pengeluaran sebanyak itu kalau pendapatan lebih rendah. Aku kembali meminta tolong pada Bayu untuk mencarikan file ketika perusahaan dipegang oleh Sherlin. Semua aman sampai Sherlin masuk penjara. Ayah datang dan menerobos masuk.


“Merasa paling berkuasa kamu di sini? Aku yang memegang perusahaan ini!” bentak ayah.


Aku melemparkan berkas-berkas yang sedang aku pegang padanya.


“Lihat kerjamu yang asal-asalan! Kau terlalu sombong dengan jabatanmu hingga kau tidak memikirkan dampaknya bagi perusahaan. Kalau hanya ingin merusak perusahaan lebih baik pergi! Kau bilang kau bekerja? Seperti itu kau bilang bekerja? Nama perusahaan kita rusak karena ulahmu!”


“Apa yang dia bicarakan Bayu? Kesalahan apa yang sudahku perbuat?” tanya ayah pada Bayu.


Bayu memberitahunya apa saja yang sudah terjadi. Ayah hanya terdiam dan melihat berkas-berkas yang dilemparkan tadi.


“Ini pasti ulahmu kan? Kau yang ingin melihat perusahaan hancur karena aku tidak memberimu restu bersama wanita murahan itu?” marah ayah yang tidak terima kalau dia bersalah.


Aku meminta Bayu untuk mengeluarkan ayah dari ruanganku. Tetapi Bayu tidak bisa mengatasinya sendirian. Dengan terpaksa aku menghubungi Robi untuk datang. Setelah Robi datang, ayah tidak banyak tingkah seperti sebelumnya dan keluar ruanganku yang di ikuti oleh Robi dan Bayu. Aku melihat amplop coklat yang tadi ayah bawa, lalu aku membukanya.


“Dasar pria tua!” ucapku begitu melihat isi amplop itu yang berisikan tentang surat perceraianku dan Kayla.


Aku merobek kertas itu lalu membuangnya. Aku melanjutkan pekerjaanku. Aku mengeluarkan beberapa karyawan karena tidak akan cukup untuk menggaji mereka di saat perusahaan seperti ini. Dengan terpaksa aku memakai uang tabunganku untuk membayar mereka. Aku meminta Bayu untuk mengambilkan sample camilan baru. Dia pun membawa dua sample camilan baru di perusahaan VK Group. Aku mencobanya. Rasanya terlalu strong. Olahan dari kacang dengan rasa nusantara tetapi penyedap rasanya terlalu kuat.


Aku pergi ke lantai satu yang mana itu adalah tempat produksi. Aku memanggil kepala produksi lalu memperbaiki komposisinya. Hingga dapat komposisi yang pas. Tidak terasa hari cepat berlalu. Ini hari yang panjang. Aku melihat ponselku ada panggilan tidak terjawab dari Kayla. Aku langsung menghubunginya. Kayla tidak menjawab. Aku meneleponnya lagi. Akhirnya dia mau menjawab teleponku.


“Maaf sayang, begitu banyak pekerjaan di sini. Aku tidak mendengar suara deringnya,” kataku.


“Enggak usah berbasa-basi lagi, jangan cari aku!” sahut Kayla.


“Apa maksudmu?”


Kayla langsung menutup teleponnya. Astaga, dia marah hanya karena aku tidak menjawab teleponnya. Masih saja seperti anak kecil sudah punya anak kecil juga. Aku langsung melajukan motor, bergegas untuk pulang.