MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Drama Di Kantin Rumah Sakit



Saat Venus dan Daffa tiba di depan rumah sakit. Kantin itu sudah di penuhi oleh banyak pengunjung dan hanya menyisakan satu meja saja.


Dengan cepat mereka berjalan untuk memperebutkan meja itu.


"Ladies first!" Seru Venus saat Daffa menghalangi jalannya duluan.


"No, Man first!" Balas Daffa.


Sebelum tiba di sini, Venus memang membuat aturan, jika Daffa bisa ikut tapi tidak boleh duduk semeja dengannya.


Venus memasang wajah cemberutnya, saat Daffa yang sudah lebih duluan mendapatkan meja itu.


"Dasar pria yang tidak mau mengalah terhadap wanita!" Gerutu Venus.


"Mau duduk gak sama gue!" Tawar Daffa pada Venus.


"Ogah, mendingan gue langsung bungkus aja ini makanan terus nyari tempat yang lainnya."


Ia pun melangkahkan kakinya ke kasir kantin untuk memesan makanannya sekaligus minumannya dan ia meminta untuk di bungkus saja makanannya.


Dan kasir kantin itu memintanya untuk menunggu selama tiga puluh menit lamanya karena banyaknya pengunjung yang masih berdatangan jadi waktu proses pembuatan makanannya memakan waktu yang sedikit lebih lama.


Venus yang tidak memilki pilihan lainnya hanya menganggukkan kepalanya. Ia melihat dari tempat kasir meja yang Daffa duduki sekarang, Daffa sedang menikmati minumannya dengan rasa tanpa bersalah.


"Huh, menyebalkan!" Gerutu Venus. Ia menggerutu sambil menunggu pesanannya siap. Harusnya ia juga bisa duduk dan makan santai juga di dalam kantin. Tapi kenyataannya ia harus makan di luar untuk mencari tempat agar ia bisa makan dengan tenang dan nyaman.


Venus pun masih berharap semoga saja ada meja kosong nantinya jadi ia bisa duduk dan mengcancle pemesanan agar tidak di bungkus.


Beberapa menitan kemudian harapan Venus pun akhirnya terkabul, netranya menatap pengunjung yang sudah beranjak dari kursi mereka.


"Mbak, pesenan aku tadi gak jadi di bungkus ya. Bawakan saja nanti di meja itu." ujar Venus sambil menunjuk salah satu meja yang paling pojok.


"Oke, Mbak."


Setelah itu Venus langsung duduk sambil melihat ke luar jendela. Di area pojok kantin rumah sakit itu, kita bisa melihat pemandangan area taman yang sangat indah. Banyaknya tanaman hijau dan beberapa fasilitas yang sudah di sediakan untuk kenyamanan para pasiennya sudah di sediakan dengan lengkap di sana.


Saat Venus mendengar suara kursi yang ada di sampingnya bergeser ia membalikkan badannya.


"Ngapain lo kesini?" tanya Venus dengan tatapan yang tajam.


"Gue bosen duduk sendirian di sana. Jadi mau numpang duduk di sini." jawab Daffa sambil menyesap minumannya.


"Bukan urusan gue kalau lo yang lagi bosen duduk sendirian. Yang gue mau sekarang, Lo itu angkat kaki dari sini!"


Bukannya Daffa langsung pergi dari meja Venus. Daffa malah memikirkan cara agar Venus tidak jutek lagi padanya.


Saat makanan dan minuman yang Venus pesan tiba di mejanya. Venus pun langsung menyantap makanannya tanpa memperdulikan kehadiran Daffa yang sedang bersamanya.


"Anggap saja Makhluk yang tidak terlihat sedang duduk." gumam Venus.


Tapi saat Venus selesai makan dan ingin menikmati minumannya, green tea latte miliknya. Tiba-tiba saja tangan Daffa duluan yang langsung mengambil gelas yang berisi green tea latte yang ada di hadapannya itu.


"Daffa, kembaliin minuman gue!" Seru Venus saat minumannya langsung di ambil alih oleh Daffa.


Bagaimana Venus tidak merasa kesal, sekarang ia sedang merasa kehausan di tambah minumannya langsung di serobot oleh Daffa dan harus berdebat lagi dengan Daffa membuat tekanan darahnya pun semakin naik.


Mata Venus pun langsung melotot, saat Daffa tidak langsung menaruh kembali minuman miliknya malahan dia langsung meminum minuman milik Venus lebih dulu dan setelah itu kembali meletakkannya di atas meja setelah berhasil mencicipi minuman milik Venus.


Rasa geram kesal, dan pengin nonjok semakin bercampur aduk di pikiran Venus saat ini.


"Lo pikir gue mau minum bekas lo tadi?" ucap Venus kesal.


"Iya lah, lo itu harus tetap minum daripada mubazir." sahut Daffa enteng.


Kini Venus sudah bersiap mengepalkan tangannya untuk bersiap menonjok wajah Daffa tapi ia masih berusaha untuk menahannya karena posisi mereka sedang berada di keramaian.


Venus pun tentunya tidak mau jika harus meminum minuman yang sudah di minum oleh Daffa, walaupun tadi Daffa baru menyesap minumannya sedikit. Dan Venus pun akhirnya mengalah, ia lebih memilih untuk memesan minuman yang baru dan memilih untuk mengabaikan Daffa.


"Kenapa lo malah pesan minuman yang baru lagi, Ve? Minuman yang tadi kan masih banyak?" tanya Daffa heran.


"Suka - suka gue lah, mau pesen minuman lagi atau nggak? Lagian gue bayar pake uang gue sendiri bukan lo yang bayarin kok?" sahut Venus jutek.


Suasana pun mulai hening sejenak.


"Ve, lo itu masih marah sama gue karena kejadian tadi pagi itu ya?" tanya Daffa tiba - tiba.


"Sudah tahu malah nanya." jawab Venus ketus sambil menikmati minuman jus mangga yang baru saja dia pesan.


Kali ini saat minuman yang baru di pesan Venus sampai ke mejanya. Venus buru - buru labgsy mengambillnya dan langsung menyesapnya agar tidak di ambil lagi oleh Daffa.


"Kenapa lo harus marah sih? Kan, itu cuma masalah biasa dan bisa kita selesaikan dengan baik. Lagian lo duluan sih, yang gigit tangan gue?"


"Gue gigit tangan lo juga ada alasannya. Karena tangan lo itu udah sembarangan pegang perut gue!"


"Itu kan reflek aja, Ve. Gue juga nggak sengaja juga kalau udah pegang perut lo karena posisi gue kan lagi tidur juga." balas Daffa tidak mau kalah. "Lagian juga, kenapa lo itu tiba-tiba tidur samping gue?" lanjutnya


Venus pun terdiam sejenak.


"Jadi, gue yang naik sendiri ke ranjang dia hingga berakhir tidur di samping dia?" tanya Venus di dalam hati sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Mungkin aja lo itu gak nyadar kalau lo itu udah tidur sambil jalan?" cetus Daffa.


Memang apa yang di katakan oleh Daffa barusan itu adalah kenyataannya. Mungkin saja, Venus sendiri yang sudah berpindah tidur sekasur dengan Daffa. Lalu memancing emosinya sehingga terjadilah kejadian yang terjadi tadi pagi.


"Terserah deh, lo itu mau percaya atau nggak? Yang penting, yang gue bilang itu adalah kenyataannya dan gue minta maaf kalau gue udah langsung cium bibir lo tanpa izin dulu,"


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.