
"Perkenalkanlah dirimu pada saudara-saudaramu," perintah Beelzebub, membuat Luciferd seketika bangkit dan beranjak dari pangkuan sang Ratu.
Luciferd mendapati kehadiran enam pemuda iblis, yang tengah menatap serius kepadanya. "Aku ...." Ia sontak menunduk, merasa cemas saat berdiri dihadapan mereka. "Aku ... Louis Gran—"
"Luciferd!" Beelzebub tiba-tiba beranjak dari kursi singgasananya, berjalan menghampiri Luciferd. "Jangan gunakan nama lamamu. Buanglah nama itu, nama yang hanya akan membawamu terjerumus dalam kesialan," tambahnya, lalu berdiri tepat disamping Luciferd.
Luciferd sempat menoleh cemas kearah sang Ratu, akan tetapi ia kembali menunduk. "Lu ... Luciferd," ucapnya.
Azazel kemudian membungkuk, meletakkan sebelah tangannya didepan dada, dengan sebelah tangan lainnya yang terentang kearah samping. "Selamat datang Luciferd. Aku adalah Azazel, putra sulung yang Mulia Ibunda," ujar Azazel.
Seorang pemuda iblis yang berdiri disamping Azazel pun turut melakukan hal yang sama, membungkuk seakan memberi penghormatan pada Luciferd. "Aku Behemoth, putra kedua yang Mulia Ibunda. Semoga kita bisa menjadi saudara yang baik," ucapnya.
Kemudian, seorang pemuda lainnya yang berdiri disamping Behemoth, segera melakukan hal yang sama. "Leviathan, putra ketiga yang Mulia Ibunda," ujarnya.
Salah seorang pemuda iblis yang berdiri disamping Leviathan, seketika membungkuk dan berkata, "Akulah Mammon, putra keempat yang Mulia Ibunda."
Pemuda iblis selanjutnya pun membungkuk dihadapan Luciferd. "Astaroth, putra kelima yang Mulia Ibunda," katanya.
Dan yang terakhir, sang pemuda iblis yang terus memberikan tatapan tajam kearah Luciferd, perlahan membungkuk. "Asmodeus. Putra bungsu yang Mulia Ibunda sebelum adanya dirimu," kata pemuda iblis tersebut.
Sang Ratu sontak bertepuk tangan. "Bagus! Aku sangat senang melihat keharmonisan kalian dihadapan Luciferd. Meskipun beberapa diantara kalian, merasa tidak senang dengan kehadirannya," sambung Beelzebub.
"S—semoga kita semua bisa akrab. Aku sangat senang mempunyai banyak saudara," ungkap Luciferd, namun dibalas keheningan oleh seluruh pemuda iblis tersebut.
Beelzebub sekejap mendengus. "Baiklah, cukup sampai disini perkenalannya." Ia lalu menatap satu-persatu wajah seluruh pemuda iblis itu. "Behemoth," himbaunya spontan.
"Siap, yang Mulia Ibunda," balas Behemoth.
"Hari ini aku menugaskanmu untuk mengurusi Luciferd. Bawa dia ke kamar yang telah disediakan untuknya," perintah Beelzebub.
"Baik, yang Mulia ibunda." Behemoth yang berbadan besar dan tegap, seketika berjalan menghampiri Luciferd. "Mari, aku antar kekamarmu," ucapnya, seraya menggengam tangan Luciferd yang nampak mungil bagi pemuda iblis tersebut.
Luciferd akhirnya berjalan melangkahkan kakinya bersama Behemoth. Ia pun sempat menolehkan wajahnya kearah belakang, melihat bagaimana sang Ratu tetap menunjukkan senyuman kepadanya. "Dia bahkan jauh lebih baik dari ibu kandungku sendiri," batin Luciferd.
Sesaat kemudian, Behemoth membawa Luciferd tiba disebuah kamar yang nampak luas, dipenuhi banyak ornamen-ornamen yang sangat mewah, serta sebuah ranjang yang besar dan elegan.
Terdapat dua pelayan yang telah menanti disamping ranjang, sepertinya diperintahkan Beelzebub untuk terus melayani Luciferd selama tinggal didalam istana.
"Luciferd, beristirahatlah terlebih dahulu. Aku akan kembali lagi nanti," kata Behemoth, sebelum akhirnya ia bergegas meninggalkan kamar Luciferd.
Luciferd yang masih menatap kearah pintu, merasa ketar-ketir saat mendapati kehadiran dua gadis pelayan cantik dan seksi yang tengah berdiri dibelakangnya.
Salah seorang gadis pelayan lansung berjalan menghampirinya. "Tuan Luciferd, jangan khawatir. Kami adalah pelayan yang akan selalu melayani segala kebutuhanmu," ujar gadis pelayan tersebut.
"B—benarkah?" Luciferd memberanikan diri menoleh kearah belakang, meski wajah terus bergetar-getar. "K-k-kalian tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kan?" tanyanya penuh curiga.
Seorang gadis pelayan lainnya seketika berjalan menghampiri Luciferd. "Tuan Luciferd. Apapun yang anda minta, akan kami penuhi. Selain itu, kami tidak akan melakukan apa-apa," jawabnya.
Mendengar jawaban itu, membuat Luciferd sedikit lega. Ia kemudian berjalan menghampiri salah seorang gadis pelayan, menatap kearah pelayan itu, lalu menggenggam kedua telapak tangannya dengan erat. "Siapa namamu?" tanya kembali Luciferd.
"Aku Tina," jawab sang gadis pelayan, yang kedua telapak tangannya tergenggam erat oleh Luciferd.
"Tiinaa ...." Luciferd perlahan menoleh kearah seorang gadis pelayan, yang berdiri disamping Tina. "Kamuu?" tanyanya.
"Aku Julia," jawab gadis pelayan tersebut.
"J—Juliaa ... nama yang bagus. Tina juga bagus," puji Louis dengan polosnya.
"Terimakasih, Tuan Luciferd," ungkap kedua pelayan secara serempak. Mereka nampaknya senang setelah mendapat pujian dari Luciferd.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halaman belakang istana.
Terlihat Behemoth yang sedang berdiri seraya melipat tangannya dibalik punggung. Ia berdiri sejarak beberapa meter dihadapan Luciferd yang telah membentuk kuda-kuda, sambil memegang sebilah pedang. "Tunjukkanlah padaku, sejauh mana teknik pedangmu," pinta Behemoth.
Luciferd pun menatap serius kearah Behemoth, selagi gagang pedang tergenggam erat oleh kedua tangannya. "B—Behemoth. Sepertinya aku bukanlah lawan yang sepadan untukmu," katanya.
Behemoth sekejap mendengus, tak sabar menanti serangan pertama yang akan ditunjukkan Luciferd. "Jangan khawatir. Aku akan berusaha menahan seluruh kekuatanku. Kau hanya perlu menggunakan pedang itu dengan benar," balasnya.
Luciferd a.k.a Louis Grantarte, bocah mungil yang masih berusia tujuh tahun itu, diharuskan menghadapi Behemoth, sang iblis yang sangat ditakuti kekuatan sihir kegelapannya.
Behemoth merupakan putra kedua Beelzebub, yang dimana kekuatan sihir kegelapannya jauh dibawah Azazel, putra sulung sang Ratu.
Rambut perak panjang bergelombang, badan kekar atletis serta dua tanduk runcing yang menempel dikepalanya, menjadi penghias ketampanan wajah Behemoth.
Jika rakyat iblis tak mendapati kehadiran Azazel, maka mereka akan mengagungkan kekuatan sihir Behemoth. Itulah penggambaran kekuatan sihirnya, yang bisa dikatakan takkan mampu menyaingi sihir kegelapan milik Azazel.
Behemoth diketahui pernah memimpin pasukan kerajaan iblis sebagai komando utama peperangan, dua kali menggantikan Azazel yang bertugas sebagai pengawal Beelzebub.
Selama dua kali perannya sebagai panglima perang itulah, kerajaan iblis dua kali berturut-turut memenangkan peperangan melawan kerajaan langit, yang dikuasai oleh para Dewa.
Bahkan Behemoth-lah yang menjadi penyebab kematian Dewa perang Warriyorz, sang jenderal yang menjadi andalan utama para dewa saat perang berkecamuk.
Beelzebub sampai menyebutnya sebagai "Panglima yang terbaik diantara yang terbaik." Hal itu didasari atas taktik jitu Behemoth dalam mengontrol seluruh pasukan perangnya.
Selain menjadi ahli strategi di medan perang, Behemoth juga memiliki kedua sayap yang mempunyai kemampuan unik. Bila salah satu bulu dari kedua sayapnya gugur, maka bulu tersebut dapat menjelma sebagai dirinya. Itu adalah kemampuan pasif Behemoth yang sangat-sangat ditakuti oleh seluruh lawannya.
Dua tanduk runcing Behemoth pun mampu mengeluarkan pancaran sihir kegelapan selain kedua telapak tangannya, dan hanya Behemoth seorang yang memiliki kemampuan itu diantara anak-anak Beelzebub yang lain.
Behemoth tak memiliki senjata, hanya insting bertarung yang mumpuni yang dapat ia gunakan sebagai senjata andalannya. Ia juga memiliki kalung berbentuk bola-bola hitam, dan sepasang cincin berlian hitam yang sangat berguna bagi penetrasi kekuatan sihir kegelapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jangan membuang banyak waktu. Kau sedari tadi hanya berdiam diri saja disana," tegur Behemoth, mendapati Luciferd belum jua melakukan sebuah pergerakan.
"B—bagaimana jika aku melukaimu? Atau sebaliknya?" tanya Luciferd.
Pertanyaan itu, justru membuat Behemoth menyungging senyum, lalu berkata, "Kalau begitu biar aku yang menyerangmu duluan."
(Zwuush)
Luciferd pun sontak terkejut saat mendapati Behemoth melesat menghampirinya secepat mungkin. Akan tetapi, ia tetap mencoba mengayunkan pedangnya, selagi pemuda iblis tersebut semakin mendekat dan terus mendekat.
(Fyuhh)
(Slerb~)
Yang terjadi diluar dugaan. Behemoth seketika terhenti, saat angin yang dihempaskan pedang Luciferd mampu menggoreskan luka di bahu kirinya. "M—mustahil. Kekuatan ayunan pedangnya sangat luar biasa. Sepertinya aku terlalu meremehkan anak itu," puji Behemoth, sebelum akhirnya ia perlahan turun menapakkan kakinya keatas tanah.
"M—maaf!" Luciferd sontak menunduk cemas dihadapan Behemoth.
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan." Behemoth perlahan menempelkan telapak tangannya pada goresan luka dibahu kiri, membuat cincin berlian hitam yang tengah dikenakannya tiba-tiba bereaksi. "Aku baik-baik saja," tambah Behemoth.
Luciferd sontak tercengang, menyaksikan bagaimana luka yang menggores bahu kiri Behemoth seketika menghilang, karena reaksi sihir dari cincin berlian tersebut. "K—kau punya ilmu sihir yang luar biasa, Behemoth!" pujinya.
"Ya. Kau juga punya kemampuan pedang yang sangat luar biasa, Luciferd." Behemoth perlahan berbalik, lalu menelengkan wajahnya kearah samping. "Latihannya cukup sampai disini. Yang Mulia Ibunda sudah menanti kita di ruang makan," ucapnya, lalu berjalan meninggalkan Luciferd.
"M—maakaan?" Luciferd nampak masih menganga. Ia tetap berdiam diri seraya menyaksikan Behemoth semakin menjauh dari pandangannya.
"Ayo Luciferd!" sorak Behemoth.
"B—baiikk!" Luciferd akhirnya bergegas menyusul kepergian Behemoth.
~Tbc