Little Witch And Her Books

Little Witch And Her Books
Chapter 18 : Istirahat Sebentar



Di dekat Arena besar akademi.


Dalam jarak jauh, dua laki-laki berjalan mendekati ruangan arena sambil bercakap-cakap.


Ada yang berambut pendek dan mata yang berwarna biru terang, penampilannya santai dengan wajah yang oval. Sedangkan satunya dengan mata kuning dan rambut coklat lurus, dia memiliki badan yang tinggi. Mereka berdua merupakan siswa kelas 2.


"Oh, ada yang sedang bertarung." Laki-laki dengan wajah santai mendongak ke arah tertentu.


"Siswa kelas 1?" Laki-laki tinggi itu bersuara ketika melihat kawanan Levina. "Apa yang sedang dia lakukan disana?"


"Batu ... apa yang menarik dengan batu itu sampai dia memungutnya. Aku tidak mengerti siswa-siswa zaman sekarang." Laki-laki dengan wajah santai itu menggelengkan kepalanya.


"Kurasa dia sedang membersihkan arenanya." Laki-laki tinggi berbicara ringan.


"Mengapa dia melakukan hal bodoh itu?"


"Mungkin ... Siswa itu tidak tahu, kurasa itu wajar-wajar saja."


"Ha, semua orang di sekolah ini tahu kalau arenanya akan kembali semula seperti biasa. Itu sudah disampaikan saat awal sekolah. Hanya orang-orang bodoh yang melakukan itu."


Laki-laki santai itu menengok lagi, dia terkikik. "Kebetulan ada muncul satu disini."


Pandangannya kembali seperti semula. Suaranya acuh tak acuh, "Tidak begitu penting. Ayo lanjutkan jalannya."


Mereka berdua kembali melanjutkan langkahnya. Laki-laki santai itu membuka mulutnya membentuk seringai.


"Event kali ini sangat menarik. Aku tidak sabar menunggunya. "


***


Bunyi gaduh terdengar kala siswa dari Akademi Altair berbenah diri, sudah waktunya untuk pulang.


Koridor-koridor yang sepi diisi dengan kumpulan anak-anak yang keluar dari kelasnya, ada yang menuju ke lapangan untuk berlatih, ada yang ke kantin, dan ada juga yang langsung kembali ke asrama mereka.


Mereka menuju tujuannya masing-masing.


Salah satu dari anak tersebut adalah seorang perempuan dengan rambut hitam lurus yang jatuh seperti air, dengan mata biru gelap. Wajahnya terlihat tenang, dengan seragam Altair yang terpasang di tubuhnya, yaitu kemeja putih yang ditutupi Blazer coklat gelap, sementara itu bawahannya berwana hitam.


Sepatunya, bebas-lah.


Si rambut hitam itu berjalan lebih lambat daripada siswa-siwa lainnya.


Levina merasa tidak enak.


Dengan wajah masam, dia berjalan bungkuk menuju luar sekolah.


"Hari yang melelahkan."


Bahkan mengingat bukunya hanya memberinya sedikit energi. Menuju ke perpustakaan, dia akan membaca sekaligus beistirahat secara bersamaan.


"Vina!" Dari belakang, seseorang berlari ke arahnya, kemudian perempuan rambut hitam yang dipanggil berbalik.


"Allya. Apa yang membawamu kesini?" tanya Levina dengan pelan.


Allya berjalan ketika sampai di samping Levina.


"Tidak ada yang penting. Aku berpikir untuk mengajak mu ke suatu tempat, seperti kantin? Tapi ...," Allya menghentikan kata-katanya dan menatap Levina dengan seksama.


"Apa itu?"


"Kau terlihat lelah, apa yang terjadi dengamu?"


Apa yang dilihat Allya adalah Levina dengan wajah yang sedikit pucat dari biasanya. Selain itu, badannya membungkuk.


"Wuih, kau seperti nenek muda." Allya menyengir lucu.


"Hmm, begitukah? ... Yaa, sebelum ini kelasku melakukan semacam latihan. Sangat melelahkan, latihannya lebih melelahkan dari dugaanku." Levina mengamhil nafas sebelum melanjutkan, "dari awal staminaku memang rendah jadi beginilah jadinya."


"Ah jadi begitu. Hm, kalau kelasku. Kita baru akan latihan besok. Aku masih belum tahu jenis latihan apa yang dilakukan besok."


Mereka berbicara sambil berjalan, "kira-kira latihan apa ya? Mereka tidak memberitahu kita sebelum hari nya. Jadi masih belum pasti."


Levina hanya bergumam dengan rendah.


Allya tersenyum, "kau benar-benar lelah. Awalnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi kukira itu bisa ditunggu. Istirahatlah begitu kau pulang. "


"Ya, maaf tentang itu."


"Tidak masalah. Istirahat saja."


Allya sedikit kecewa tapi tidak memaksanya. Melihat itu Levina memikirkan sesuatu. "Lain kali saja jalan-jalannya. Tapi mungkin lusa atau ke depannya masih bisa."


Mendengar itu, mood Allya terangkat. Dia tersenyum lebih lebar. "Oke, aku baik-baik saja dengan itu."


Sinar matahari bercahaya dengan terang, bangunan sekolah masih memiliki banyak penghuninya.


Allya dan Levina melanjutkan percakapan mereka dengan pembicaraan biasa. Kemudian ketika ada pembelokkan Allya bertanya dengan bingung, "Vina? Kau mau kemana? Asramanya lewat sini bukan disana."


Allya menunjuk ke suatu tempat dimana itu adalah letak asrama sekolah.


Levina berhenti, "aku tahu. Aku ingin beristirahat. Kau duluan saja, kita berpisah disini."


Jawaban itu semakin membuatnya bingung.


"Istirahat? Kalau begitu mengapa kau lewat sana jika ingin beristirahat?"


Allya mengikuti arah jalan yang akan dituju Levina.


Itu sebuah bangunan besar yang dikelilingi oleh pepohonan, ada jalan lurus yang mengarah pada bangunan berwarna coklat tersebut.


"Ah."


Allya seketika sadar ketika melihat bangunan itu.


Faktanya dia sudah pernah masuk ke dalam bangunan itu beberapa kali sebelumnya.


Tercetak dalam ukiran yang kuat.


Perpustakaan Altair Academy.


"Oh, Allya."


Allya berhenti dari langkahnya, dia berbalik dengan bingung.


"Berlatihlah dengan baik besok."


"Apa? kalau latihan aku memang selalu latihan dengan serius kok."


Percakapannya dengan guru Gargon di hari sebelumnya membuatnya berpikir.


"Aku tahu."


"Lalu ...."


"Cuma mengingatkan saja. Bye, aku duluan."


Mungkin saja, dia cuma berpikir terlalu banyak.


Lagi pula itu cuma sebuah turnamen, seharusnya tidak akan ada hal buruk yang terjadi.


***


Hari berlalu dengan pasti.


Sesuai perkataannya, Levina setuju untuk berjalan-jalan dengan Allya.


Sepulang sekolah, Koridor-koridor itu penuh bising seperti biasa. Levina mengemasi barang-barangnya dan keluar kelas menuju kelas 1-A, kelas Allya.


Kelas Allya hanya dipisahkan oleh jarak satu kelas saja, kelas 1-B. Namun, karena suasana saat itu cukup ramai, Levina hanya mempercepat langkahnya.


Melewati kelas 1-B, terdapat beberapa kegaduhan. Levina mengabaikannya dan terus berjalan hingga sampai ke Kelas 1-A.


Dia mengintip dari pintu masuk dan melihat suasana kelas itu. Struktur kelasnya mirip dengan kelas lain. Dalam kelas itu, orang-orang di dalamnya masih banyak. Diantara kerumunan orang itu, Levina mencari sosok tertentu.


"Loh, Levina? Kau disini."


Levina berbalik ke samping, orang yang berbicara memiliki tampang yang tenang dan aura di sekitarnya memancarkan keanggunan. Perempuan itu memiliki rambut biru yang cerah bersamaan dengan mulutnya yang cerah juga.


Levina mengenalnya langsung karena setiap hari mereka bertemu.


"Maria? Oh, Kau memang bilang ini juga kelasmu."


Maria mengangguk ringan, dia bertanya dengan senyuman cerah miliknya. "Apa yang kau lakukan disini? Kau sedang mencari seseorang?" Biarkan aku membantumu."


Meskipun dia adalah teman sekamarnya, dia tidak ingin merepotkan ya. Maria terlalu baik.


Dia tidak akan ribut saat didekatnya, selalu berbicara dengan sopan, meski sedikit kaku pada awalnya. Berpengetahuan luas dan bisa diajak membahas buku-buku tertentu, seperi dongeng dan sejarah.


Maria adalah seseorang yang Levina sukai. Meski pun kadang dia akan membocorkan beberpau cerita jika dia terlalu bersemangat di dalamnya.


"Itu tidak perlu, yang kucari sudah tiba."


Seolah membuktikan perkataannya, Allya menyapanya.


"Halo Vina, kau tidak menunggu lama kan?"


"Aku baru saja sampai."


Kemudian dia menyadari Maria, "Maria, Halo!."


Senyum Allya terpampang lebar di wajahnya.


Maria membalas sapaan Allya dengan ceria juga, sedangkan Levina menggelengkan kepalanya.


Maria melihat mereka berdua, "kalau begitu, karena aku ada urusan aku permisi dulu."


Levina dan Allya mengangguk dan melihat Maria berjalan pergi.


"Ayo berangkat!" ucap Allya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas bersemangat!


Di perjalanan menuju kantin, keduanya melewati beberapa kelas, ada juga senior yang mereka lewati. Saat itu terjadi, Levina dan Allya memberi sapaan singkat.


Mereka berdua berjalan menggunakan kecepatan sedang sehingga mempunyai waktu untuk mengamati ruangan-ruangan yang mereka lewati.


Ada ruang guru, ruang administrasi, dll. Ada juga ruangan penyimpanan bahan-bahan. Ruangan itu dikenali dengan papan nama yang terpajang di tengah permukaan pintu.


"Bagaimana hasil latihanmu?" Levina bertanya ketika melewati pembelokan.


"Itulah dia! Penjelasan materinya sangat mudah dipahami, kau tahu? Aku tidak menduga teorinya bisa dikerjakan seperti itu!"


"Terlihat bagus, sepertinya kau mendapatkan guru yang baik."


"Benar, aku beruntung kan?"


Dalam hati, Levina mengeluh tentang gurunya. Mengapa guru itu suka sekali melatih siswanya.


Latihan itu bagus sih, tapi dia tidak suka.


Tanpa Gargon ketahui, citra dirinya semakin menurun di mata Levina, di saat yang sama peluangnya menjadikan Levina sebagai muridnya semakin menurun.


"Senang mendengarnya," gumam Levina.


"Kau mengatakan sesuatu?"


Dia menggelengkan kepalanya, menatap ke arah kantin yang terlihat dari jauh.


"Kita sudah sampai."


Dia cuma berpikir terlalu banyak.