Life after life

Life after life
Gadis berambut merah bagain dua



Gadis Berambut Merah bagain dua


........


........


...◐ Life After Life◐...


........


........


...Genre: Slice of Life, Magic, Drama, Tragedy, Gore...


........


........


...Happy Reading...


........


........


"Apa ada semacam acara di sini?"


Suram, sepi dan gelap adalah yang kupikirkan tentang Desa Ranoan. Tapi aku terkejut dengan apa yang ku temukan, Desa ini penuh dengan kehidupan, sehingga aku harus berkedip lagi dan lagi untuk memastikan tidak ada yang salah dengan mataku.


Hanya dengan sekali melihat, aku dapat mengetahui bahwa kerumunan yang berkumpul di Desa ini bukanlah penduduk setempat. Mereka mengenakan armor besi dan pedang tergantung di ikat pinggang mereka -- aku tidak tahu apakah itu asli atau mainan.


Apa ini parade Cosplay? Pikirku.


Setelah memancing dan mendapatkan cukup banyak perolehan ikan, Ayah mengusulkan untuk menjual beberapa ke desa sebelah. Dari apa yang aku tahu, Desa ini mirip-mirip dengan desa kami, Rampi. Bagian dari Kerajaan Northland Tritori, berada pada pingiran Benua sehingga masyarakatnya hidup dengan mengandalkan budidaya perikanan dan perairan. Ini jelas bukan tempat yang menarik, tidak ada obyek wisata atau semacamnya yang pernah ku dengar dari rumor. Tentunya, rumor yang ku maksud adalah mendengarkan percakapan kedua orang tuaku.


Jadi kenapa mereka di sini?


"Eh, ngak jadi jual ikannya?"


Ayah tiba-tiba berbalik dan berjalan menjauh. Jadi aku bertanya kaget, namun dia mengabaikannya dan terus berjalan. Aku kebingungan dengan tingkahnya yang tiba-tiba, dia menjadi pendiam. Ada yang tidak beres.


Ketika aku memikirkan itu, mendadak seseorang memangil dari belakang. "Hey, Louis? Itu kamu, kan?" Suara itu berasal dari dekat gapura yang menjadi gerbang desa, seseorang berlari ke arah kami. Dia tampak sangat muda dan enerjik. seperti orang lain, dia juga mengunakan armor baja ringan di sekitar tubuhnya.


"Ah, itu benar-benar kamu. Sudah lama tidak bertemu, kapten!" Pria itu menyapa bersemangat, sementara Ayah mati-matian menahan ketidaknyamanannya. Bagaimanapun aku mengerti, Orang-orang seperti ini sulit di hadapi. Entah mengapa aku merasa dia agak mirip dengan Ayah.


Matanya mendarat padaku yang ada di atas pundak Ayah dan segera bersinar. "Apa dia anakmu kapten? Dia benar-benar mirip dengan Nona Clarise!"


"Apa maksudmu dia tidak mirip denganku?"


"Hah? Tidak, tidak bukan itu maksudku! Hanya saja, dia lebih mirip dengan Nona Clarise dari pada kamu." Pria itu dengan panik mencari alasan.


"Begitu?" Jawab Ayah lama dan berlarut-larut. "Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Kau belum mendengarnya, Kapten?" Tanyanya kaget. "Nah, bagaimanapun kami di utus berkumpul di sini untuk menerima pengarahan sebelum berangkat perang. Ku pikir kau akan segera tahu sebentar lagi, pimpinan memutuskan memangilmu dari masa cutimu."


Perang? Kapten? ... apa dia otaku seperti Ayah? Dan semua orang yang berkumpul di sini bagian dari kelompok mereka? Tapi sepertinya tidak, jika itu memang benar, maka acting yang di buatnya sangat bagus. Ketegangan di udara terasa sangat nyata.


"Jelaskan situasinya!"


"Mari kita cari tempat untuk duduk dulu."


Nampaknya Kekaisaran Fogcient dari barat beberapa bulan yang lalu mengumumkan rencana penyatuan Benua. Dan memulai mengirim ribuan prajurit ke sepanjang perbatasan Kerajaan Northland Teritori.


Pada dasarnya, Northland Teritori dan Kekaisaran Fogcient berdiri pada satu dataran yang sama. Namun karena perbedaan iklim yang sangat signifikan serta barisan pegunungan Riven yang luas, kedua wilayah di pisahkan menjadi dua Benua yang berbeda -- Northland Teritori dan Souruepa. Di Northland Teritori terdapat sebuah kerajaan yang memimpin Benua secara keseluruhan, sementara di Souruepa berdiri lima bentuk pemerintahan. Kekaisaran Fogcient adalah yang terbesar di antara ke limanya, dan telah melakukan perang selama puluhan tahun dengan negara tetangganya demi memenuhi ambisi penuatuan Benua Souruepa. Dan sekarang setelah ambisi itu terpenuhi, Kekaisaran Fogcient dengan sombongnya mendeklarasikan perang terhadap Northland Teritori untuk menyatukan dua Benua di bawah kepemimpinannya.


Kemudian apa lagi? Seluruh dunia?


Sunguh Kaisar yang serakah. Ini mengigatkanku pada Kisah Raja penakluk Aleksander Aguug. Dia hampir menguasai seluruh dunia yang di ketahui pada masa itu, tetapi dia tetaplah manusia. Tidak mungkin bisa menghindari kematian dan impiannya musnah bersama kematiannya.


Sebenarnya ada satu hal yang membuatku penasaran, latar tempat dan negara yang mereka sebutkan, semuanya sama dengan yang pernah ku baca di buku. Padahal itu hanya kisah fantasi, mungkinkah mereka mengambil referensi dari buku itu? -- atau setidaknya jika perkiraanku bahwa itu buku fantasi itu adalah nyata.


"Seperti itulah kira-kira," ucapnya mengakhiri penjelasan.


Saat ini kami berada di salah satu toko di dalam desa. Letaknya tidak jauh dari alun-alun, sehingga aku masih bisa melihat sekelompok pasukan tempur. Dari jarak sedekat ini aku menjadi sadar akan suasana hati mereka. Tidak ada kebanggaan atau semangat patriotik, yang ada hanya kegelisahan dan ketakutan. Tidak ada perdebatan atau candaan, mereka tengelam dalam delusi mimpi buruk perorangan.


Apa kalian semua melakukan akting? Ayolah, ini candaan yang buruk.


Tidak, aku sebenarnya sudah tahu, dan aku sadar selama ini aku selalu meyangkalnya. Aku terlalu takut menerima kenyataan, bahwa ini; Dunia lain yang sama sekali tidak ku ketahui, dunia pedang dan sihir.


Aku tidak mengikuti isi percakapan yang berikutnya. Pikiranku terlalu kalut memikirkan skenario baru dan rencana baru untuk mencapai tujuanku. Sebagian dari diriku merasa tidak peduli dan sisanya dalam keadaan terguncang. Aku selalu memiliki satu tujuan selama ini, yaitu: kembali ke tempat adikku. Namun dengan pengetahuan bahwa ini adalah dunia yang berbeda mematahkan seluruh semangatku, tidak ada cara kembali ke dunia lamaku.


Atau setidaknya itu yang kupikirkan, faktanya jika aku berhasil berpindah dari dunia lamaku ke sini maka pasti ada jalan kembali. Hanya saja pemicu perpindahan tersebut adalah kematian. Terlalu semberono untuk mencobanya, dan aku tidak terlalu pemberani untuk memutuskan bunuh diri.


"Menyingkir dari sini, bocah kotor." Pemikiranku di putus saat suara teriakan terdengar. Itu tidak di arahkan kepadaku, tapi pada orang lain -- dari dekat alun-alun kota, kerumunan menyingkir dari TKP.


"Jangan dekat-dekat anakku lagi, aku tidak ingin dia tertular penyakit."


"Maaf," suara lirih dan lemah itu berasal dari gadis muda yang di lemparkan di atas tanah. Pakaiannya yang sobek di berbagai tempat di tutupi lumpur, gemetar ketakutan.


Tidak ada yang memiliki niatan untuk menolongnya. Orang-orang hanya memperhatikan dengan cemoohan dan persetujuan, namun di sisi lain Aku dapat melihat ada yang menahan empati. Di duga dia adalah bagian dari kelompok gadis itu, terlihat dari penampilannya yang sama compang-camping.


Di manapun tempatnya, atau dalam kasus kali ini dunianya, rasisme dan kesenjangan sosial merupakan hal yang biasa. Perbedaan pendapat, penampilan serta lapisan sosial membuat manusia membenci yang lainnya. Mereka adalah orang terburuk, tahu bahwa tindakan tersebut salah, tetapi tetap menikmati melakukannya.


Dan aku cukup tahu untuk tidak ikut campur. Bahkan jika aku berada di pihaknya sekalipun, tidak ada untungnya melakukan tindakan semberono yang hanya memancing kebencian di arahkan padaku.


Saat aku memikirkannya, aku hanya mengamati dari dalam kafe, saat gadis berambut merah itu menarik dirinya dari kerumunan. Menurutku di juga cukup pintar untuk tidak melawan dan hanya berpasrah dan menghindari masalah. Jika itu menjadi aku, aku pasti akan menyerbu membabi buta. Karenanya aku salut dengan seberapa tabah dirinya.


Meskipun itu tidak merubah banyak hal, pikirku getir.


Malam telah larut saat kami sampai di rumah. Pembicaraan Ayah berakhir cukup lama, kebanyakan yang dibahas adalah situasi di daerah komplik. Jadi aku segera kehilangan antusiasme mendengarkannya. Ibu menyambut kepulangan kami dengan khawatir, lebam di matanya menujukan kekhawatiran berlebihan sampai-sampai menagis. Mereka berdua pasti saling mencintai satu sama lain.


"Kenapa tidak menginap saja sekalian?" Dia sepertinya benar-benar marah, mata merahnya menatap tajam pada Ayah yang mencoba menjelaskan.


"Tadi aku bertemu teman lama dan kami mengobrol cukup lama, jadi aku sampai lupa waktu."


"Aku tidak perduli tentang itu, bagaimana jika Lucie sakit? Apa kau bahkan memikirkan itu?"


Wajah Ayah mengerut, setidaknya dia tampak merasa bersalah dan mencoba menghindari kontak mata dengan Istrinya.


"Maaf, sayang! aku juga memiliki alasanku sendiri."


"Alasan seperti apa yang membuatmu mengabaikan kesehatan anakmu sendiri?"


"Aku akan kembali ke medan perang."


Jawaban itu cukup untuk menguncang ibu hinga ke ujungnya. Dia menampilkan tatapan tidak percaya, dan juga ada ketakutan di matanya. "Kau tidak bisa serius!" Ucapnya beberapa saat setelah terdiam, yang di balas Ayah dengan senyuman masam.


Akhir-akhir ini aku sering melihat wajah Ayah yang tidak pernah diperlihatkan. Terdapat keputus-asaan dan simpatik, entah mengapa ini membuatku gelisah.


"Kita akan membicarakannya."


Ayah menurunkanku dari pundaknya, lalu menunduk dan mengusap rambutku lembut. "Kamu pergi tidur duluan, Ayah ada perlu."


Ayah tersenyum, tapi ini tidak seperti senyum biasanya yang dibuatnya. Senyumnya mengisyaratkan rasa lelah dan luka mendalam tak tertahankan. Aku memalingkan wajah, tampilan itu tidak akan pernah ku lupakan. Begitulah ekspresi yang di berikan Papa dulu sekali sebelum akhirnya dia menghilang dan tidak pernah kembali. Hingga bertahun-tahun kemudian aku mengetahui bahwa dia bunuh diri.


Kejadian yang sama mungkin akan terulang kembali.


Aku tidak tahu bagaimana perasaanku. Dia bukan Ayahku, atau setidaknya itulah yang ku kalim. Kematiannya tidak akan terlalu berdampak. Tapi apa yang ku rasakan ini? Aku tidak tahu sama sekali.


Tegarkan dirimu! ingat tujuanmu satu-satunya. Menarik nafas sekali lagi, Aku mengarahkan tatapanku padanya dan mengganguk mantap. "Baiklah." Kataku.


Aku memiliki satu tujuan penting di depanku. Hal lain tidak akan membuatku kehilangannya, Aku telah melakukannya sebelumnya dengan fokus mengumpulkan uang tanpa memikirkan hal lain. Aku tidak akan membiarkan hal lain membuat pandangan pada tujuanku menjadi buyar.


Tetapi, tetap saja, ada yang mengganjal di hatiku.


........


........


......To Be Continued......


........


........


Story by: Psycho-man