
It doesn't matter who you are on the outside, the main thing is who you are on the inside.
- The Intouchables -
*Sanctus Espritus redeem us from our solemn hour
Sanctus Espritus insanity is all around us
Sanctus Espritus!
Sanctus Espritus!
Sanctus Espritus*!
Apa yang aku lihat menjadi apa yang aku ceritakan.
Apa yang aku alami menjadi apa yang akan aku kisahkan.
Ini kali pertama aku di paksa untuk tidak bungkam.
Ini kali pertama seseorang mengatakan akan mendengarkanku.
Dan ini kali pertama seseorang meredam kegilaanku dengan senyuman.
Di sebuah ruang kosong yang hanya memiliki satu penerangan, aku tersandera. Wanita dihadapanku hanya diam sembari melipat kedua tangan di dada. Dia terlihat tenang, melihatku tanpa bosan, menunggu aku bicara walau sedari tadi waktu sengaja aku sia-siakan.
Dibalik pintu yang terbuat dari kayu jati, aku mengetahui seorang lainnya tengah mencuri dengar apa yang akan aku katakan. Sudah beberapa hari dia tidak menemuiku setelah aku mengamuk melempar kursi dan meja kearahnya hingga retak, hanya agar dia tidak menemuiku lagi.
Aku pernah mendengar sebuah nasihat, jika kita membiarkan naluri paling buas dalam diri kita tumbuh tanpa kontrol, maka hanya akan ada penderitaan dan rasa sakit yang di timbulkan.
Tapi, seseorang terkadang melupakan fakta jika sebagai umat manusia, kita tidak pernah bisa memutus rantai penderitaan. Mata rantai penderitaan itu akan selalu ada, tanpa henti.
Sama seperti apa yang akan aku katakan, meski mereka telah berusaha keras, tidak akan ada yang dapat menghentikan ini semua.
"Aku menolak bicara denganmu."
"Jika begitu aku akan terus menemuimu." Ucapnya tanpa ragu.
"Lagi pula Seungyoun tidak akan menutup pintu jika aku datang."
Aku hanya mendengus, mengalihkan perhatianku pada pola kramik bermotif kayu di bawah kaki. Kembali membuang waktuku untuk bungkam. Mengisi kesunyian dengan ketukan jemari di meja yang memisahkan jarak aku dengan wanita itu.
Di sekeliling, tidak ada apapun yang tersisa. Jo, Mahesa dan wanita yang berada dihadapanku saat ini tidak membiarkanku bertindak semena-mena seperti pertama kali. Tidak ada benda tajam, meja dan kursi terbuat dari kayu, ataupun selimut panjang yang kukuh.
Aku terkurung diruang isolasi.
"Aku akan menceritakan sebuah kisah. Yang menarik." Aku kembali menatap dingin wanita itu.
Sudut bibirku terangkat naik ketika dia tidak mengatakan apapun selain menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, menatapku dengan khidmat.
Dahulu kala... di sebuah negeri bekas perperangan, tersisa sepasang saudara yang masih hidup dengan banyak bekas luka di tubuh mereka masing-masing.
Seseorang yang selalu mengenakan topeng dan dengan gadis yang memiliki kelainan mata heterochromia, penduduk negeri itu mengenal mereka sebagai Samus dan Ghoul. Tidak ada yang mengetahui hubungan diantara keduanya, hanya saja orang-orang mempercayai jika mereka saudara hanya karena mereka hidup bersama sejak kecil.
Penduduk negeri mengenal Samus sebagai seorang yang tidak mudah dapat kau kalahkan. Memiliki kemampuan bela diri, menguasai segala macam senjata dan hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan fisik. Samus memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata.
Sedangkan Ghoul, gadis penuh kutukan. Mata kirinya yang berwarna ungu di percaya memiliki magis, tidak ada yang berani menatap mata gadis itu. Penduduk di negeri itu menjauhinya, membuangnya dari komunitas. Hanya Samus sebagai saudara menjadi tempat sandaran Ghoul meski kerap kali dia merasa sepi saat Samus pergi bersama teman-temannya.
Sebelum perang terjadi, Ghoul memiliki sebuah taktik yang dia percaya dapat menyelamatkan separuh penduduk di negeri itu dan mengusir para penjahat.
Tapi, tidak ada satupun dari mereka percaya dengan siasat yang Ghoul katakan, termasuk sang ayah- panglima perang.
Daripada bertahan dan menunggu musuh melemah, mereka lebih memilih menghimpun seluruh kekuatan dan menyerang terlebih dahulu, hanya mengandalkan kekuatan. Para penduduk hanya percaya pada keahlian perang Ayah Ghoul dan kemampuan bela diri saudaranya, Samus.
Ghoul sangat marah mendengar semua penolakan orang-orang tentang pemikirannya, sampai sebuah kalimat yang penduduk negeri itu percaya sebagai kutukan keluar dari mulut Ghoul.
"Maka kalian semua akan mati, dan peradaban negeri ini musnah."
Kalimat terakhir saat Ghoul memilih meninggalkan tempat itu dan pergi ke sebuah gua tempat dia biasa menghabiskan waktu membuang kesedihan ketika teman-teman menjauhi dirinya.
Samus menyaksikan sendiri bagaimana Ayah Ghoul mati terbunuh di medan perang, Sang Raja menghembuskan nafas terakhir di kursi tahta dengan pedang tajam yang menembus jantungnya. Negeri itu hancur, tidak menyisakan siapapun selain dirinya dan Ghoul. Dan Samus mulai meyakini semua tuduhan orang-orang tentang kekuatan magis yang Ghoul miliki.
Selama ini Ghoul selalu memakai satu penutup mata untuk menyembunyikan mata ungunya. Tapi di hari itu, Samus dapat melihat jelas bagaimana warna ungu yang selalu di takutkan oleh penduduk negeri daripada obsidian pekat milik Ghoul.
Seumur hidup Samus, dia tidak pernah takut pada apapun termasuk kematian. Tapi pada hari itu Samus merasa ketakutan. Dia takut pada Ghoul dan kekuatan sihir dari gadis itu.
Sanctus Espritus!
"Jika Ghoul mengatakan negeri itu akan musnah tanpa tersisa siapapun, menurutmu... apa yang akan terjadi pada Samus saat hanya ada dia dan Ghoul di tempat itu?"
Dalam salah satu kalimat yang menjadi nasihat, Hans Athafariz Müller memprimodialiskan ucapan salah satu filsuf Jerman, Johann Wolfgan von Goethe- Das erste und das letzte, was vom Genie gefordent wird, ist Wahrheitsliebe.
Fürstenfeldbruck telah mengasuh dan mengajarkan bagaimana kehidupan sesungguhnya berjalan. Terikat postulat yang menganggap- seorang genius sepertinya dapat dengan mudah menggenggam apa yang dia mau termasuk dunia, meski keberuntungan tetap akan mengambil bagian. Dia terlahir privilege, status sosial yang digenggam mendukung apa saja yang ingin dia lakukan. Namun Hans lebih memilih jalur berlawanan, segala keyakinan dalam diri telah dia tanam dan pupuk dengan rasa cinta terhadap pilihan.
Keluar dari zona nyaman saat seluruh orang memilih menjadi pengecut akan kejamnya dunia. Itulah kebenaran yang dia yakini sebagai seorang pria dengan intelegensi diatas rata-rata.
Hans memutuskan menjadi bagian dari yang memiliki keyakinan dengan sebuah alasan. Dia percaya, berdiri pada jajaran mayoritas tidak akan membuatnya bijaksana dalam memahami arti kehidupan. Dan pilihan menjadi pengecut yang bersembunyi dibalik teorema bukan sesuatu yang dia primodialiskan.
Ada pertentangan disana, ketika keyakinannya bersebrangan dengan sang Ayah yang menjadikan paham Herkovits* untuk jalan hidupnya. Dia pria berusia dua puluh enam tahun dan telah membuktikan, jika kebenaran yang dia yakini telah membawanya pada titik ini. Titik dimana dia menjadi sandaran bukan lagi beban.
*(Melville Jean Herskovits seorang Antropolog asal Amerika Serikat yang memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.)
Benar, siapa yang dapat menebak masa depan? Sesuatu yang berdiri ditengah-tengah paham utopis dan realita. Pada faktanya, dia sendiri dapat menciptakan keajaiban di tengah ketidakyakinan orang-orang. Kerja keras tiada mengkhianati hasil, dan kini senyumnya tak lagi tertahan disudut bibir.
Secerah surya yang berada diatas kepala, siang itu Hans berdiri menatap satu-satunya bangunan bergaya Eropa di salah satu kota besar, Jawa Tengah. Kontras dengan keadaan bangunan sekitar yang memiliki arsitektur tradisonal, sangat khas dan menjadi indentitas kebudayaan masyarakat Jawa- Rumah Joglo.
Dia tidak bisa menurunkan senyumnya, setelah beberapa hari kerinduannya pada sosok itu harus dipendam. Kini akan terbayar dengan beberapa langkah lagi menuju pintu.
Pintu terketuk pelan, ada perasaan membucah disana setelah beberapa tahun tidak bertemu. Sosok dibalik pintu yang menyambut kedatangannya membawa oase tersendiri ditengah gurun saharanya. Hans begitu menghormati wanita paruh baya yang memiliki sikap keras kepala, menurut Hans itulah pesonanya.
Gigih, tangguh, tegas, mandiri dan terlabel kejam yang menempel pada wanita itu- satu hal yang Hans asingkan. Hans percaya segala sesuatu memiliki alasan, dan pilihannya untuk tidak mempermasalahkan tentang itu.
Helena Berta Müller, Bibi atau adik sedarah dengan ayah. Berdiri dihadapan dan menyambutnya dengan pelukan hangat. Senyum mengembang dari bibir tipis, ametis sebiru lautan menenggelamkan Hans ke samudera keindahan wanita yang tidak kehilangan pesonanya meski berada di usia akan menuju senja.
"Lama tidak bertemu my little tapioca pearls." Helena menepuki punggung lebar Hans yang dibalas tidak kalah hangat oleh pria itu.
Di siang hari dengan hangat matahari di luaran sana, keduanya saling melepas rindu setelah sekian lama.
Mereka beranjak masuk, Helena membawa Hans menuju ruang tengah setelah sebelumnya menutup pintu. Hans mempredasi keseluruh ruang dan hanya kesepian yang ia rasakan. Sejak beberapa tahun lalu, wanita paruh baya itu harus terbiasa berteman dengan sepi ketika anak tunggalnya dia kirim ke Manhattan.
"Apa paman tidak ada?" Tanya Hans saat dia selesai menenggak minuman dingin yang bibinya buatkan.
"Dia pergi ke Jerman tiga hari lalu." Wanita itu terlihat menutupi kegetiran ketika dia mengatakan kalimat barusan.
Hans hanya bersikap biasa saja tanpa tau apa-apa meski dia mengetahui segalanya. Dia tidak ingin membuat bibinya merasa terlihat menyedihkan di depan Hans.
"Shivam sering menghubungi bibi?" Tanyanya lagi.
"Apa yang bisa bibi harapkan dari anak nakal itu. Tidak mendengar dia berbuat ulah sudah seperti anugerah." Helena menyisipkan senyum tipisnya, "Dia baik-baik saja saat tidak mengubungi bibi terlebih dahulu."
"Jangan terlalu memanjakan Shivam, dia akan terus berbuat semena-mena jika bibi selalu membelanya." Protes Hans.
"Bibi tidak punya pilihan, kau tau sendiri bagaimana perangai pamanmu." Helena berdecak, "Dia akan melampiaskannya pada Shivam jika mengalami kegagalan. Itu sebabnya anak itu selalu mencari perhatian."
Di mata Hans, Helena adalah sosok yang tegar. Dia selalu menyimpan sekelumit permasalahan rumit dalam keluarganya- sendirian. Menjadi orang terpandang dengan predikat harmonis membuat wanita itu harus menutupi segala retak.
Tidak ada yang tau bagaimana rupa sesungguhnya dari sempurna yang selama ini orang-orang percaya.
Ada desahan berat dari Helena, perempuan itu seolah melepaskan segala sesak yang terus mencengkram sistem respirasi sampai dia merasa kesulitan bernafas dalam beberapa tahun terakhir. Dia telah mempertimbangkan beberapa hal sebelum mencapai puncak keputusan.
"Bibi akan berhenti bekerja di rumah sakit dan menyusul Shivam ke Manhattan." Ada jeda dibalik keyakinan yang telah dibuat. "Seharusnya dari dulu bibi meluangkan waktu untuk anak itu."
Hans tidak menduga jika bibinya akan mengambil keputusan seperti itu. Selama ini dia mengenal betul bagaimana sifat bibinya, terutama dalam bekerja. Tidak mungkin Helena menyerah begitu saja pada pekerjaan yang begitu dia cinta.
"Bibi yakin? Apa bibi akan mengajukan pindah kerja disana?"
"Tidak." Jawab Helena yakin. "Bibi akan menjadi ibu yang baik seperti ibumu." Dia tersenyum di akhir kalimat.
"Areum mengatakan, jika kegagalan bibi mendidik Shivam karena bibi selalu sibuk dengan pekerjaan. Itu sebabnya Shivam selalu melakukan pemberontakan. Dan bibi tidak ingin jika anak itu kembali mencari pelarian seperti dulu."
"Apa paman setuju dengan keputusan bibi?" Hans terus mencari celah untuk mengetahui sesuatu yang mungkin luput darinya.
"Pamanmu tidak pernah peduli apapun yang menjadi keputusan bibi selama ini. Dia hanya peduli dengan perusahaannya." Helena menyesap teh chamomile miliknya.
Nada bicaranya tenang, tidak ada gurat kesedihan, segala kecewa seolah menghilang. Rasa sakit berpuluh tahun sudah menjadi teman, sampai dia lupa bagaimana meminta pertolongan.
"Berhentilah menjadi investor untuk perusahaan paman, bibi tau kau tidak sebodoh itu untuk melihat akhir dari perusahaan kami." Helena menasehati anak kakaknya yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri. "Bersikaplah sebagai seorang pebisnis bukan keluarga, bibi tidak pernah mengharapkanmu membalas semua yang bibi berikan dulu."
"Seharusnya kau gunakan semua hasil kerja kerasmu untuk membangun perusahaan, tidak semestinya kau berada di kantor sempit itu. Bibi mengatakan ini karena bibi rasa sudah cukup untuk paman terus memanfaatkanmu dengan menggunakan bibi."
"Tapi Hans tidak pernah merasa dimanfaatkan oleh paman. Jika bibi menyerahkan semua yang bibi punya, bagaimana kalian kedepannya?" Hans bersikukuh.
Sedikitpun dia tidak pernah merasa dimanfaatkan, walau faktanya itu semua benar.
"Shivam sudah dewasa dan dia harus memiliki tanggung jawab untuk hidupnya. Bibi melakukan ini agar dia tidak terus bergantung pada bibi. Beberapa kenalan bibi di Manhattan mungkin bersedia merekrut Shivam bekerja."
"Meski New York kejam, bibi yakin anak itu tidak mudah menyerah. Karena dia anakku." Senyum mengembang di akhir kalimat sebagai penguat.
Hans meraih jemari bibinya, ada beban di tiap cetakan keriput yang tercetak di epidermis putih itu. Dia menangkup jejari bibinya dengan kedua tangan, memberikan usapan lembut nan tenang.
"Seharusnya Hans memberitahu ini kepada bibi sedari dulu." Dia menatap ametis biru itu lekat, "Bibi orang baik dengan hati malaikat, tidak peduli bagaimana orang di luar sana melabeli bibi, Hans yakin semua yang bibi lakukan memiliki alasan. Sama seperti bibi yang melindungi keluarga tetap utuh demi Shivam, meski bibi berkali-kali hancur karena perilaku paman dengan wanita itu."
"Hans tidak akan meninggalkan bibi dan Shivam. Walaupun bibi melarang Hans membantu Shivam, tapi Hans tidak akan membiarkan Shivam membuat bibi khawatir dimasa depan."
Ucapan tulus terlantun dari pria berusia dua puluh enam tahun yang telah banyak merasakan pahit manisnya perjuangan meniti kehidupan. Penolakan orang terdekat tentang impian yang dia inginkan membuatnya bersikeras untuk membuktikan.
Bagi Hans, seorang pria memegang beban yang begitu berat, sudah seharusnya menerpa punggung dengan peluh kerja keras. Kedua bahunya harus terlatih agar tak timpang tanggung jawab. Bahkan, ketika ketidakadilan dunia memberi efek kejam, Hans tidak boleh berlari selain berdiri menghadapi.
Melindungi orang-orang yang dia cintai- keluarga. Membuatnya harus menempatkan diri sebagai panglima tempur. Berjanji melindungi, sampai dia tidak mengetahui jika semuanya memiliki benang merah tak kasat mata yang akan membawanya pada takdir terikat dan membuatnya terjerat.
Lalu lalang orang-orang di sore menjelang malam terasa padat dan sesak. Wajar saja, kota itu merupakan pusat hubungan internasional yang penting. Sentral wilayah metropolitan terpadat di dunia yang memberi pengaruh besar terhadap perdagangan, keuangan, media, budaya, seni, mode dan riset penelitian serta pusat hiburan dunia.
New York, Raksasa kapitalis Amerika Serikat.
Seorang pemuda memiliki tinggi rata-rata orang Asia, berproporsi tubuh kurang berisi, tengah bersandar pada kursi pengemudi. Dia begitu nyentrik dengan potongan rambut chesnut di surai hitamnya. Bibir tipis teridentik senyum seal menghiasi pahatan abadi Yunani. Di manapun berada, dia selalu berpenampilan kasual dengan hitam mendominasi. Meski begitu, ketampanan akut yang diberikan Tuhan padanya tiada berkhianat.
Siapa yang menyangka, dibalik perilakunya yang kadang absurd dan konyol, dia seorang mata-mata.
Menempuh pendidikan di Negara Asing tidak serta merta membuatnya terlena pada pesona hedonis kapitalis. Dia memiliki andil besar perihal jasa detektif swasta seperti yang terkenal di drama-drama Korea.
Tubagus Cahyo Adi Saputro, sedari tadi harus menajamkan mata dan lensa kamera demi menangkap momen yang tepat untuk modal klien mendakwa tersangka. Dia telah mengikuti pasangan yang menjadi incarannya sejak dari pusat pertokoan kelas atas yang menjual merek-merek terkenal sebangsa Louis Vuitton, Gucci, Prada, Omega, Alpha, Beta dan entahlah... Bagus tidak peduli. Apapun itu mereknya, semua memiliki fungsi sama. Tolong garis bawahi, untuk dipakai.
Dengan kacamata tanpa lensa yang membuatnya merutuk tiada henti hanya karena harga tak setara. Maklum saja, jiwa ekonomi sudah melekat erat dan mendarah daging secara krusial telah menyusup serta menyatu dalam jaringan pembuluh darahnya. Dia adalah cerminan orang yang mengkritisi tidak mengerti- kenapa sebagian orang rela membuang berapa dollar disposable income demi sebuah fashion. Hanya itu-itu saja, fungsi sama, bentuk tak jauh berbeda, tapi harga neraka.
Bagus mendecih saat mengingat beberapa orang- kliennya, terutama pria itu. Iya, pria yang telah menjadi donatur tetap untuknya bertahan hidup di negara kapitalis. Bagus hanya menikmati segala kemewahan yang dia dapat secara cuma-cuma.
Tidak menyesal juga menjadi mata-mata, pikirnya.
Kacamata tanpa lensa terlempar begitu saja.
"Oalah ***-***. Ndadak ciuman! Ngene ki... yo ngene, nek wong jomblo. Soro dewe. Gor iso ndelok ra iso milu ngerasani."
Meski dumelan medok terus terlafal dari bibir seal-nya, dia tidak lupa akan tugasnya. Segera menegapkan badan dari jok mobil, membidik momen saat kedua pasangan itu tengah berciuman panas di dalam mobil yang terparkir.
Setelah beberapa sekon terbuang, akhirnya dia berhasil menemukan momen yang di inginkan. Tidak menunggu lama, dengan beberapa foto yang berhasil dia abadikan, pemuda itu kemudian menstarter mobilnya. Kembali menenggerkan kaca mata tanpa lensanya. Meninggalkan basement hotel berbintang dan kembali pulang.
El termenung menatap bingung saat menemukan sisir yang sejak tadi pagi dia cari tidak ada di meja rias. Dia ingat dan teramat sangat ingat, jika dia tidak meletakkan sisir itu di nakas ruang tamu.
Tidak mungkin Seungyoun yang membawanya, sedari pagi setelah membuka mata, pria itu tidak mengusiknya dengan rayuan-rayuan berbaikan seperti hari-hari sebelumnya. El tenang berada dikamar sampai menjelang siang.
Aneh sekali.
"Kau yang membawanya tadi malam." Seru Seungyoun.
Pria itu berdiri tidak jauh dari posisi El, bersandar nyaman pada dinding kamar dan menyimpan kedua tangan di dada, bersidekap.
Kedua mata bertemu, ada kilatan petir dari pemilik manik.
"Kau masuk ke kamarku?"
"Aku selalu memegang kunci cadangan kamarmu." Dengan tenang Seungyoun merogoh saku celana, menunjukkan semua kunci cadangan yang selalu dia bawa kemana-mana.
"Bahkan aku hapal seluruh nomor sandi yang akan kau gunakan." Dia menambahi.
El tidak menanggapi berlebih. Dengan sisir yang telah berada di genggaman, ia beralih meninggalkan ruang tamu menuju kamar. Masa bodo dengan raut ditekuk Seungyoun saat dia mengabai.
Seungyoun tidak mau mengalah membebaskan El melakukan apapun dan El enggan terlebih dahulu meminta maaf karena selalu membuat Seungyoun berada diposisi sulit. Yang benar saja seorang El meminta maaf- terkhusus Seungyoun.
Ketika berada didepan pintu, tapakan kaki terjejak kesal. El berbalik sembari menodongkan ujung sisir ke arah Seungyoun. Pria itu terus mengikutinya, meski beberapa silabel tak terucap, tapi raut wajah mengatakan segalanya- El berhentilah marah padaku.
"Berhenti mengikuti, atau aku akan menusuk tanganmu seperti dulu."
"Itu tidak runcing." Seungyoun menipiskan bibir, gemas. Selalu saja mengancam dengan sesuatu yang berada dijangkauan.
"Aku bisa mematahkan lehermu." Namun El tak kehabisan opsi.
"Kejam sekali."
Seungyoun terus mendekat, mengikis spasi terbentang tanpa peduli kilatan amarah El yang siap akan menyambarnya.
"Kau masih marah?"
"Menurutmu." Jawab El ketus.
"Tolong berhenti mendiamkanku, ini weekend."
"Lantas."
"Sejak tiba di Austria kita belum pergi kemanapun selain makan di restoran. Aku bosan berada dirumah."
Dia telah berdiri di hadapan El, berjarak dua puluh satu senti dengan El menekan sisir yang dia pegang di perut sixpack Seungyoun.
"Jangan mendekat." Peringat El, lagi, ketika Seungyoun terus menekan tubuhnya tanpa peduli dengan pembatas yang ia buat.
Jangan lupakan tentang bagaimana perangai keduanya- sama-sama batu dan pemaksa. Tapi Seungyoun begitu dominan untuk poin kedua. Dia tidak memiliki opsi apapun lagi selain mengamit pinggang ramping El dan membawa tubuh wanita itu ke udara.
Tidak peduli dengan jejari lentik yang berontak ingin melepaskan diri, Seungyoun membawa tubuh El mendarat di salah satu meja tak jauh dari pintu kamar. Ia menyudutkan El, mengunci tubuh mungil itu dengan kedua tangan.
Obsidian bertemu manik.
Ada sebuah permainan yang biasa keduanya mainkan saat di antara mereka enggan merendahkan ego masing-masing.
Permainan Rap.
Lebih tepatnya, dengar dan perbaiki.
Sejauh ini selalu berakhir seri, El banyak tau berbagai lagu-lagu rap, terutama musisi barat. Dan sangat licik jika memakai cara pintas dengan menggunakan lagu yang tidak diketahui salah satu pihak. Seungyoun ingin bermain bersih, tapi bukan Seungyoun jika dia menyerah begitu saja mencari titik lemah.
Kali ini Eminem menjadi pilihan.
Ia memulai,
I'm beginning to feel like a Rap God, Rap God
All my people from the front to the back nod, back nod
Now who thinks their arms are long enough to slap box, slap box? ...
El hanya menaikkan alis saat Seungyoun tanpa meminta persetujuannya sudah memulai terlebih dahulu. Terlebih lagi, itu lagu lama yang terlalu familiar dan ikonic. Tidak mungkin El tidak mengetahuinya- pikirnya.
Seungyoun terus melafalkan lantunan lirik rap tersebut.
... Everybody want the key and the secret to rap immortality like I have got
Well, to be truthful the blueprint's simply rage and youthful exuberance
Everybody loves to root for a nuisance
Dia berhenti di pertengahan lagu, yang tanpa mengabai waktu El melanjutkan lirik selanjutnya. El sangat cepat menangkap dibait ke berapa potongan awal lirik yang Seungyoun mulai tadi.
Hit the earth like an asteroid, did nothing but shoot for the moon since
MC's get taken to school with this music
'Cause I use it as a vehicle to bus the rhyme
Now I lead a new school full of students
Me? I'm a product of Rakim, Lakim Shabazz, 2Pac N-
-W.A, Cube, hey, Doc, Ren, Yella, Eazy, thank you, they got Slim
Inspired enough to one day grow up, blow up and be in a position
To meet Run DMC and induct them into the motherfuckin' Rock n'
Roll Hall of Fame
Even though I walk in the church and burst in a ball of flames
Only Hall of Fame I be inducted in is the alcohol of fame
On the wall of shame
You fags think it's all a game 'til I walk a flock of flames
Off of planking, tell me what in the **** are you thinking?
Little gay looking boy
So gay I can barely say it with a straight face looking boy
You witnessing a mass occur
Like you watching a church gathering take place looking boy
Tidak ada yang menyerah, baik El maupun Seungyoun. Keduanya begitu baik dalam hal selera.
Di tiap baris lirik yang mereka lantunkan, Seungyoun menghidupkan suasana dengan ketukan-ketukan jemarinya pada meja di kedua sisi tubuh El. Bunyi-bunyi yang dihasilkan menjadi musik pengiring kala rap seperti a capella- sebelumnya.
Oy vey, that boy's gay, that's all they say looking boy
You get a thumbs up, pat on the back
And a "way to go" from your label everyday looking boy
Hey, looking boy, what you say looking boy?
I got a "hell yeah" from Dre looking boy
I'mma work for everything I have
Never ask nobody for shit ...
Keduanya larut dalam suasana yang terbangun, saling menikmati namun tak terbuai. El terus membaca gerak material sensual Seungyoun, berhati-hati jika Seungyoun akan menjebaknya di kalimat-kalimat yang memiliki pelafalan bunyi sama.
... Was king of the underground, but I still rap like I'm on my Pharoahe Monch grind
So I crunch rhymes, but sometimes when you combine
Appeal with the skin color of mine
You get too big and here they come trying to
Censor you like that one line I said on "I'm Back" from the Mathers LP
One when I tried to say "I'll take seven kids from Columbine
Put 'em all in a line, add an AK-47, a revolver and a nine"
Mendekati bagian terpenting lagu Rap God, bagian dengan verse tercepat 9,6 silabel per detik. El terus menatap awas Seungyoun, dia menanti saat sedari tadi Seungyoun tak berhenti.
El tidak cadel, hanya saja- orang gila mana yang bisa mengucapkan silabel tercepat itu sama dengan versi asli? Meski tidak sama dengan tempo asli lagu, setidaknya dia tidak boleh salah mengucapkan tiap liriknya.
... Morphin' into an immortal coming through the portal
You're stuck in a time warp from 2004 though
And I don't know what the **** that you rhyme for
You're pointless as Rapunzel with fucking cornrows
You write normal, **** being normal
And I just bought a new Raygun from the future
Tiba bagian yang sedari tadi El tunggu, dia mengucapkan tiap lirik dengan tepat. Persetan dengan tempo ataupun ketukan, El tidak sebaik itu terhadap Rap. Jika Seungyoun mempermasalahkannya, siap-siap saja sisir yang masih dia pegang melayang.
Just to come and shoot ya like when Fabolous made Ray J mad
'Cause Fab said he looked like a fag at Maywhether's pad
Singin' to a man while they played piano
Man, oh man, that was a 24/7 special on the cable channel
So Ray J went straight to the radio station the very next day
"Hey, Fab, I'mma kill you"
Lyrics coming at you at supersonic speed, (JJ Fad)
Puncak dari lagu dimulai saat El terus melantunkan rap tersebut. Dia tidak akan menurunkan egonya dengan mengalah unjuk kemampuan di bagian tersulit- ketukan 101 kata dalam 16,45 detik. Walau faktanya ia harus lari dari tempo asli lagu- yang terpenting semua lirik benar, itu tujuan dari permainan ini.
Uh, sama lamaa duma lamaa you assuming I'm a human
What I gotta do to get it through to you I'm superhuman
Innovative and I'm made of rubber
So that anything you say is ricocheting off of me and it'll glue to you
I'm devastating, more than ever demonstrating
How to give a ...
El sengaja berhenti di pertengahan saat tadi Seungyoun memberi reaksi 'wow' dari gerakan bibirnya ketika El lebih memilih melanjutkan. Pria itu terus mengangguk-anggukkan kepala tanpa mengalihkan tatapan mata, dia menikmati permainan.
El mencoba menjebak Seungyoun.
Namun, diluar perkiraan, Seungyoun kembali melanjutkan tanpa kehilangan kata dari lirik mana yang El hentikan tadi.
Dengan anggukkan kepala dan ketukan jari di meja, Seungyoun melantukan rap itu, persis, sama dengan tempo versi aslinya. Dia menatap El dengan sudut atas bibir sengaja ia naikkan ketika melafalkan setiap silabel.
Mencemooh El dengan tatapan- kau kalah telak jika berurusan rap denganku.
... give a motherfuckin' audience a feeling like it's levitating
Never fading, and I know that the haters are forever waiting
For the day that they can say I fell off, they'd be celebrating
'Cause I know the way to get 'em motivated
I make elevating music, you make elevator music
Oh, he's too mainstream
Selesai, ini bagian lirik aman.
Well, that's what they do when they get jealous, they confuse it
It's not hip hop, it's pop, 'cause I found a hella may to fuse it
With rock, ...
Ketika El akan melanjutkan,
... shock rap with Doc
Throw on Lose Yourself and make 'em lose-
Seungyoun tiba-tiba menjitak dahi El.
"Kau kalah." Dia lebih dulu menyela sebelum El melayangkan protesnya.
"Di bagian mana aku salah? Semua aku ucapkan dengan benar." El tidak terima begitu saja.
"Dengar dan perbaiki." Seungyoun sengaja menaikkan sudut atas material sensualnya, "Apa kau tidak mendengar ada satu kata yang salah? Seharusnya kau perbaiki bukan melanjutkan."
Dia memberikan El seringaian kemenangan saat wanita itu terpekur beberapa detik demi mengingat kembali bagian mana yang harus di perbaiki.
"Sudahlah, terima kekalahanmu dan ikut aku." Seungyoun mengacak surai panjang El, ia melepaskan kurungan tubuh wanita itu dan beranjak dari posisi.
El masih bergeming, dia tidak mau menerima kekalahan secara sepihak, egonya menekan dirinya untuk menemukan kesalahan.
"Sampai kapan kau akan terus duduk disitu?" Seungyoun memecah fokus El, "Cepat ganti pakaianmu, kita keluar."
El beranjak dari meja yang menjadi tempat duduknya, melompat ke lantai. Syukurlah tidak terlalu tinggi, jadi dia tidak perlu menurunkan gengsi untuk meminta Seungyoun membantunya turun.
Bukannya menururti, dia justru mengekori Seungyoun menuju kamar pria itu dengan protes tak mau terjejal. Enak saja kalah begitu saja tanpa tau titik salah.
"Katakan dulu dimana kau mengubah liriknya? Aku masih ingat, di lirik tercepat kau tidak mengganti kata-kata liriknya."
Dia terus menekan Seungyoun untuk memberitahu yang hanya di abaikan oleh pria itu. Seungyoun hanya mentertawakan El karena mati kesal dengan rasa penasarannya. Dia sengaja membuat El kesal sama seperti dirinya yang dibuat uring-uringan dengan perilaku wanita itu mendiamkannya beberapa hari lalu.
Seni Sun Wun Tzu,
Sebab Seungyoun tau, ketika El menyukai atau tertarik akan sesuatu, dia akan terfokus pada hal itu sampai dia lupa dengan hal lainnya. Sama halnya saat dia menikmati sesuatu menarik seperti sebuah lagu. El terkecoh saat lirik way Seungyoun ganti dengan may dan timing itu Seungyoun ambil tepat saat rasa kagum El mengakui kemampuan Seungyoun belum mereda.
"Apa ini?"
"Mobil."
El menendang tulang kering Seungyoun kesal, yang benar saja... dia tidak sebodoh itu untuk mengenali jenis kendaraan apa yang terparkir dihadapan keduanya.
Dua mobil keluaran Eropa menyambut mereka.
"Kau suka hal sportif, bukan?" Seungyoun menjeda beberapa saat ketika salah satu tangannya memain-mainkan kunci mobil di udara, "Kita bertaruh."
Dahi El berkerut mendengar penuturan Seungyoun, ia menatap bingung pria di sampingnya itu.
"Maksudmu?"
"Aku tidak peduli kau mengambil rute manapun, tapi finish kita di München. Siapa yang lebih dulu tiba disana, dia yang akan jadi pemenangnya." Jelas Seungyoun.
"Ini tidak adil." Protes El.
"Apanya yang tidak adil?"
"Aku tidak tau rute ke Munich." Gerutu El yang hanya di tanggapi kikihan kecil Seungyoun.
"Kau bisa mencari trayek tersembunyi di Austria, kenapa tidak bisa menemukan jalan ke Munich."
Seungyoun melempar kunci mobil kearah El yang tangkas diterima wanita itu.
"Sampai ketemu di Munich." ia menjeda kalimatnya sembari mengedipkan mata, "Harus kau ingat, nasibmu ada di pertandingan ini."
"Apa maksudmu?"
"Ducati merah akan menjadi milikmu jika kau tiba lebih dulu di Munich." Jelas Seungyoun sembari berlalu menuju mobil yang akan ia kemudikan.
Ada dua cabang pemikiran El, Ducati merah; Pemuda itu- Orion atau Seungyoun benar-benar akan membebaskannya mengendarai motor bahkan memilikinya.
Dia berdecak dan menghentak kesal ke aspal jalanan, maniknya memicing tajam kearah Seungyoun yang telah berada di balik kemudi dengan kacamata hitam terkomplemen sempurna di pahatan tampan rupawan sialan!
"Kenapa harus ke Munich. Aku lebih tertarik dengan Vaduz!"
Protes terbumbung saat El sudah berada dibalik kemudinya. Dia bersiap untuk lebih dulu start awal.
Mendengar gerutuan yang lebih kearah menyindir, Seungyoun hanya menaikkan sudut atas material sensualnya.
"Kau akan menyukai Munich saat tiba disana nanti."
***FOLLOW CAST ENOUGH LOVE ON INSTAGRAM
EL @/Elnotelsaa
HANS @/Hans_wooya
JO @/Chosyoun__
KOKO @/Liem_woo
MICHAEL @/Lee.michael07
MBAK SHA @/Hwasha_w***