
Namaku Amethyst. Menurutku itu adalah nama yang sangat bangus. Sayangnya itu adalah nama pemberian ibu pemilik panti asuhan. Ya, aku adalah anak yatim piatu. Ibu pemilik panti asuhan yaitu bu Mulia menemukanku tergeletak di depan pintu saat aku masih bayi. Menandakan orang tuaku menyerahkan aku kepada panti asuhan. Aku memiliki fitur yang unik sedari muda. Rambutku berwarna keunguan dan mataku juga berwarna ungu. Maka dari itu aku dinamai Amethyst oleh bu Mulia. Bu Mulia mengatakan padaku bahwa Amethyst adalah sebuah kristal dengan warna ungu. Aku lalu mulai di besarkan di panti asuhan tersebut. Panti asuhan tersebut memiliki nama 'Child's Save Haven' dan terletak di kota Dentro. Ini adalah kota dimana aku tinggal dan menghabiskan waktuku.
Aku memiliki hidup yang biasa. Aku melakukan rutinitas seperti orang biasa. Bangun tidur, makan, mandi, ganti baju, sekolah, pulang sekolah, mandi, ganti baju, belajar, istirahat, lalu tidur. Tidak ada yang menarik dari diriku selain warna rambut dan mataku. Aku bukanlah murid yang berprestasi. Nilaiku bisa dibilang tergolong rendah, namun aku bisa lulus dan naik kelas sampai sekarang karena nilai hasil remidi. Sekarang aku sudah lulus SMP. Aku sama sekali belum memilih SMA mana yang akan aku tuju. Karena aku salah satu dari beberapa murid yang tidak mendapat tawaran. Jadi, aku harus mencari sendiri. Kadang-kadang aku merasa tidak enak dengan bu Mulia. Dia harus selalu membayar mahal sekolahku karena aku bukan siswa yang pintar dan berprestasi. Mencari SMA adalah tugas terberatku sekarang ini, karena bu Mulia kebetulan sedang memiliki masalah finansial dan aku harus menemukan SMA yang murah di kota besar ini.
Hari ini adalah hari sabtu. Aku barusan selesai berbelanja dari toko bahan makanan. Bu Mulia menugaskanku untuk membeli daging ayam dan berbagai macam sayur-sayuran. Saat aku berjalan pulang, aku merasa sedikit insecure melihat banyak teman-temanku sudah mulai mendapatkan SMA yang mereka inginkan. Salah satunya yaitu di SMA Bloom Garden. SMA tersebut sebenarnya adalah SMA yang aku minati. Tetapi sayangnya biaya masuknya sangat mahal. Bu Mulia menentang keras keinginanku untuk melanjutkan pendidikan disana. Aku melihat sejenak SMA Bloom Garden. Rupanya mereka sudah mulai mengadakan OSPEK. Aku sangat iri dengan mereka. Di sisi lain aku masih belum menemukan SMA yang murah dan cocok sesuai seleraku. Aku lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Aku langsung pulang sambil berlari. Aku akhirnya sampai di panti asuhan. Sesampainya di rumah, aku langsung memberi kabar ini kepada Bu Mulia. Bu Mulia sangat kaget. Dia lalu berkata, "Apa?!! Kau ditawari untuk ikut audisi di The Fame Academy?!! Memangnya apa kemampuan yang kamu miliki selain wajah unikmu?" Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku sampe sekarang tidak mengerti akan talentaku. Bu Mulia lalu berkata, "Hmm, jika kau mau tidak apa-apa. Lagipula gratis. Tetapi mendengar penjelasanmu, belum tentu kau bisa masuk sekolah tersebut." Aku hanya menjawab perkataannya dengan, "Akan aku pikirkan." Aku lalu berlari ke kamarku. Di dalam kamarku, aku berpikir, memang benar dulu saat aku kecil sekali aku memang memiliki mimpi menjadi seorang artis. Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai melupakan mimpi tersebut karena menurutku aku sebagai gadis yatim piatu biasa dan tidak kaya, akan impossible bagiku untuk menggapai mimpiku sebagai seorang artis. Tapi ternyata hari ini aku mendapatkan suatu peluang besar. Gara-gara kejadian tadi, aku sepanjang malam ini mulai berpikir panjang. Haruskah aku mengambil kesempatan ini? Tetapi bagaimana jika aku ditolak. Aku bukanlah 50 orang yang terpilih untuk menjadi selebriti. Salah satu sisi dalam diriku mengatakan bahwa aku harus mencoba karena ini sekali dalam seumur hidup. Tetapi sisi lain berkata bahwa ini adalah hal yang sangat beresiko dan jika ditolak kau tak akan pernah bisa menjadi seorang artis seperti mimpimu dulu. Sangat membingungkan.Aku bahkan sampai tidak bisa tidur malam.
Jam menunjukan pukul 2 pagi, bu Mulia mengecek kamarku dan betapa kagetnya dia melihatku masih belum tidur. Dia menegurku dan mengatakan bahwa aku harus segera tidur. Aku lalu menceritakan kepadanya bahwa aku susah mengambil keputusan. Bu Mulia lalu berkata, "Apapun yang kamu pilih, pasti setiap pilihan memiliki konsekuensi yang tidak enak. Tidak ada jalan yang selalu berjalan lurus dan lancar." Aku terdiam mendengar perkataan bu Mulia. Ia lalu berkata, "Bukanlah keputusan yang mudah bagiku untuk membangun panti asuhan ini. Aku membangun panti asuhan ini karena aku tidak bisa mempunyai anak. Aku sudah mengalami keguguran dua kali. Maka dari itu, aku membangun panti asuhan ini karena aku sangat menginginkan seorang anak. Tetapi banyak sekali hal tidak mengenakan yang kulalui. Mengurusi anak bukanlah hal yang mudah. Juga aku harus selalu mencari cara agar kondisi finansialku cukup untuk semua anak." Dia lalu tersenyum dan berkata, "Meskipun susah, tapi seperti yang kau lihat aku bisa survive dengan segala rintangan yang diberikan kepadaku." Bu Mulia lalu sekali lagi mengingatkanku untuk tidur. Dia lalu meninggalkan kamarku. Setelah mendengar ceramah dari Bu Mulia, entah kenapa ada sesuatu dalam diriku yang bergejolak. Aku merasa sangat berambisi. Aku ingin menjadi seorang artis. Aku ingin agar namaku diketahui oleh dunia. Akhirnya, setelah sekian lama berpikir, aku pun memutuskan bahwa aku akan mengikuti audisi The Fame Academy.