
Tak lelo lelo lelo ledung
(Mari kutimang-timang engkau anakku)
Cup menenga aja pijer nangis
(Cup cup, jangan menangis terus)
Anakku sing ayu (bagus) rupane
(Anakku yang cantik/ganteng)
Yen nangis ndak ilang ayune (baguse)
( Kalau menangis nanti hilang cantik/gantengnya)
Tak gadang bisa urip mulyo
(Kudoakan supaya engkau bisa hidup mulia)
Dadiyo wanito (priyo) kang utomo
(Jadilah orang yang utama (orang sukses)
Ngluhurke asmane wong tuwa
(Meninggikan nama orang tua)
Dadiyo pandekaring bang
(Jadilan pendekar bangsa)
Wis cup menenga anakku
(Sudah, jangan menangis anakku)
Kae mbulane ndadari
(Lihat, bulannya bersinar terang)
Kaya butho nggegilani
(Seperti buta yang mengerikan)
Lagi nggoleki cah nangis
(Sedang mencari anak yang sedang menangis)
Tak lelo lelo lelo ledung
(Kutimang-timang anakku)
Enggal menenga ya cah ayu (bagus)
(Diam segera anak cantik/ganteng)
Tak emban slendang batik kawung
(Kupakai selendang batik kawung)
Yen nangis mundak ibu bingung
(Kalau menangis, ibu tambah bingung)
“Monggo mbak Mala”
“Monggo yu, saking pundi?”(Dari mana?)
“Dari rumah mbak Sari” Mendengar nama mbak Sari aku jadi penasaran
“Ada apa yu, apa ada masalah lagi?”
“Ohhh endak mbak kang umar meminta saya untuk mengambil pakaian mbak Sari yang masih layak pakai” Aku menautkan alisku bingung (Sekedar info: Yu itu sama dengan mbak ayu, panggilan dalam bahasa jawa untuk perempuan yang usianya lebih tua dari kita)
“Awalnya saya juga merasa aneh tapi saya pikir ini cara kang Umar untuk mengikhlaskan mendiang istrinya”
“Ohhh begitu, kasian ya yu kang umar”
“Kita yang masih hidup hanya bisa mendoakan yang terbaik, ngomong-ngomong ini kapan lahirnya?”
“Insyaallah dua bulan lagi yu”
“Semoga diberi kelancaran ya mba”
“Amin terimakasih yu”
Selepas dzuhur aku dan mas Guntur mendatangi rumah nyi Dasimah, karena ada sesuatu yang ingin mas Guntur sampaikan. Rupanya kandunganku yang sudah menginjak usia tujuh bulan membuatku ngos-ngosan padahal jarak rumah kami dengan rumah nyi Dasimah hanya berjarak beberapa kilo saja.
Sesampainya dirumah nyi Dasimah, kami dipersilahkan duduk di kursi yang terbuat dari bambu, meski terbuat dari bambu kursi ini kuat untuk menahan beban tubuhku dan tubuh mas Guntur. Nyi Dasimah membuatkan kami segelas teh hangat dan singkong rebus.
“Bagaimana nduk kandunganmu”
“Alhamdullah nyi sehat, walaupun sudah terasa pegalnya”
“Wajar itu nduk”
“Oya Nang, apa ada yang ingin kamu sampaikan?” Seolah tau maksud kedatangan kami nyi Dasimah to the point menanyakan hal itu pada mas Guntur.
“Gak banyak nyi yang saya sampaikan, hanya permohonan maaf yang beliau titipkan” Setelah mendengar itu raut wajah nyi Dasimah berubah Nampak kesedihan di matanya.
“Jadi benar” Ucap nyi Dasimah lirih
“Apanya yang benar nyi” Tanyaku, namun pertanyaanku tak mendapat jawaban dari nyi Dasimah. Nyi Dasimah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
“Ada apa sebenarnya mas?” Mas Guntur menggenggam tanganku, ia pun seolah tak ingin menjelaskan apapun padaku. Aku sedikit kesal, namun aku tidak memaksa mereka untuk menceritakan hal itu padaku.
Cukup lama nyi Dasimah berada di kamarnya, membuatku khawatir akan keadaannya.
“Mas, apa perlu aku menyusul nyai?”
“Tidak perlu,kita tunggu saja disini”
“Tapi mas”
“Nyai hanya butuh waktu dengan dirinya, semua akan baik-baik saja”
Tak berselang lama nyi Dasimah keluar dari kamarnya, aku dan mas Guntur terpana melihat penampilan nyi Dasimah yang berbeda dari biasanya.
“Nyi” Panggilku dengan mata yang masih menatap takjub nyi Dasimah. Nyi Dasimah tersenyum manis ke arah kami.
“Nyi ini beneran nyai?”
“Le, antar saya ke sendang”
“Ma-mau apa nyi?”
“nanging aku pengin krungu saka bojoku dhewe” (tapi aku ingin mendengar sendiri dari suamiku)
“Ananging jebul takdire ngendika, sakwengi-wengi aku ngenteni dheweke bali, nanging mung awak sing bali menyang aku” (Tapi rupanya takdir berkata lain, sepanjang malam aku menunggu dia kembali, namun hanya jasadnya yang kembali padaku)
“Nyi, apa nyai yakin?” Nyi Dasimah mengangguk
“Sebelumnya apakah aku boleh bertanya sesuatu?”
“Boleh nduk, pasti kamu mau nanya soal penampilanku kan?” Aku tersenyum malu
“Sebenarnya aku memiliki keturunan ningrat, dan Jumono adalah salah satu abdi dalem keluargaku, tapi karena cinta kami tidak mendapat restu dari kedua orangtuaku akhirnya kami berdua memilih kawin lari” Nyai Dasimah tersenyum malu kala menceritakan kisah cintanya dengan mbah Jumono.
Sore itu kami bertiga menuju sendang desa Sendangmulyo, awalnya aku tidak diijinkan untuk ikut tapi aku memaksa. Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh. Sesampainya di sendang nyi Dasimah berjalan mendekati sendang.
Nyi Dasimah melepas tusuk konde yang ada di rambutnya, membiarkan rambutnya yang panjang tergerai. Sembari bersenandung nyi Dasimah menyisir rambutnya. Aku dan mas Guntur hanya memperhatikan apa yang dilakukan nyi Dasimah.
Setelahnya seorang wanita cantik berjalan dari dalam sendang. Parasnya sangat-sangat cantik meskipun wajahnya terkesan pucat.
“Mas itu”
“Jangan berhenti berdoa” Peringat mas Guntur padaku yang langsung kuturuti.
Wanita itu berjalan dengan gemulai ke arah nyi Dasimah.
“Akhirnya kau datang menemuiku Dasimah” Ucap wanita itu dengan senyum manisnya
“Ya, aku datang kesini bukan untuk menemuimu nyi Wiranggi melainkan untuk memberimu pelajaran"
“Khekhekhe”
“Kau harus tau batasanmu Wiranggi”
“Batasan apa yang kau maksud? Mereka datang sendiri padaku, tanpa aku memintanya, termasuk suamimu Dasimah khekhekhe”
“Cihh Rupanya demit sepertimu sama sekali tak memiliki harga diri” Ejek nyi Dasimah
“Apa maksudmu?” Nyi Dasimah hendak menyerang nyai Wiranggi namun seseorang lebih dulu menahannya.
“Tahan Dasimah”
“Jumono?”
“Lepaskan aku” Nyi Dasimah melepaskan tangannya dari cekalan mbah Jumo
“Kau masih marah rupanya” Nyai Dasimah membuang mukanya
“Apa kau dandan secantik ini khusus untuk ku Nyi?” Tanya mbah Jumo
“Ti-tidak” Elak nyi Dasimah
“Aku minta maaf atas semua kesalahanku,aku telah melakukan kesalahan dengan mengotori cintamu yang tulus padaku” Ucap mbah Jumo
“Sudahlah Jumo, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan aku sudah memaafkanmu”
“Apa kau masih mencintaiku?”
Nyi Dasimah mengangguk sembari tersenyum “Tentu”
“Nyi---nyi Wiranggi” Teriak seorang pemuda yang entah dari mana datangnya.
Tatapan kami serempat mengarah ke pemuda itu.
“Kang Umar??” Mas Guntur mengepalkan kedua tangannya
“Benar dugaanku selama ini, orang dibalik masalah ini adalah kang umar”
“Dek sebaiknya kamu bersembunyi dibalik pohon itu, jangan keluar sebelum mas memanggilmu” Aku mengangguk dan bersembunyi di balik pohon.
“Jadi ini semua ulah kang Umar?” Tanya mas Guntur
“IYA, Kau hanya pendatang di desa ini jadi jangan ikut campur urusanku”
“Apa imbalan yang kau terima sampai kau tega membunuh banyak orang bahkan kau tega menumbalkan anak beserta istrimu”
“Hahaha rupanya kau sudah mengetahui banyak hal, kalau begitu kau harus jadi tumbalku selanjutnya”
Mas Guntur membaca doa pelindung untuk dirinya, perkelahian antara mas Guntur dan kang Umar tak terhindarkan begitu juga dengan nyi Dasimah dan Nyi Wiranggi. Dengan bantuan mbah Jumo, nyi Dasimah mampu memberikan serangan yang membuat nyi wiranggi kewalahan.
“Sialan kalian berdua” Nyi Wiranggi memuntahkan darah hitam dari mulutnya akibat pukulan keras dari nyi Dasimah tepat mengenai dadanya.
Begitu juga kang Umar yang sudah hamper tak berdaya melawan mas Guntur.
Nyi Wiranggi menyadari keberadaanku, saat nyi Dasimah dan mbah Jumo lengah kesempatan itu ia gunakan untuk menemuiku.
“Mas Guntur tolong mas----“ Nyi Wiranggi mencengkeram kuat perutku hingga aku merasakan sesuatu yang basah mengalir dibawah sana. Perlahan kesadaranku mulai menghilang.
“Jangan sakiti istriku” Teriak mas Guntur
“Lepaskan dia Wiranggi” Peringat nyi Dasimah
“Khehekhe--- ini balasan untuk kalian yang sudah mengganggu kesenanganku”
“Nyi tolong aku nyi” Teriak kang Umar saat merasakan tubuhnya terbakar saat mas Guntur membacakan doa-doa untuknya.
“Dasar manusia bodoh gak berguna”
Mas Guntur berlari menerjang nyi Wiranggi begitu juga nyi Dasimah dan mbah Jumo. Nyi Wiranggi yang menyadari jika dirinya tak akan mampu melawan mereka bertiga pun melarikan diri.
“Maya” Mas Guntur meraih tubuhku yang sudah bersimbah darah
“Bagainana ini nyi”
“Kita harus mengeluarkan bayinya segera”
“Ta-tapi nyi usia kandungan Maya baru tujuh bulan”
“Kita manusia hanya bisa berusaha, selebihnya serahkan kepada pemilik-Nya”
“Sudah cepat bawa istrimu kesana”
“Oekkk---oekkk—“ Tangis banyi laki-laki terdengar
“Alhamdullah, terimakasih ya allah kau selamatkan istri dan anakku”
“Mas anak kita lahir” Mas Guntur mengangguk mengiyakan.
“Dasimah, ini sudah waktuku untuk pergi tugasku disini sudah selesai. Maaf dari mu akan mengantarkan kepergianku dengan tenang”
“Jumo”
“Jaga dirimu baik-baik” Mbah Jumo menyematkan tusuk konde yang diberikan mas Guntur ke rambut nyi Dasimah.