Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 157: Tujuan awal.



...Chapter 157: Tujuan awal....


..."Aku bantu patahkan sumpit mu?" tanya Ghazi....


... Ghazi mengambil sumpit yang dipegang Hoshie berniat untuk mematahkannya....


... Direbut oleh pemiliknya kembali....


... Jarrel mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya....


... Dia memiliki banyak tiket nonton ke bioskop lebih dari satu....


... Mengambil sesuatu lagi dan ternyata uang cash....


..."Sorry. Salah ambil" kata Jarrel....


... Dia memasukkan uangnya lagi setelah menemukan dua tiket nonton bioskop dari dalam tas yang sama....


... Tidak jauh berbeda dengan Jarrel....


..."Ini sudah lewat tanggalnya" kata Dashie....


... Memeriksa....


..."Aku tahu" kata Jarrel....


..."Ayo kita cari lagi yang masih bisa digunakan" kata Jarrel....


... Ikut optimis....


..."Siap!" kata Dashie....


... Ghazi berpikir ini alasan mereka bisa menjadi sahabat....


... Melihat ke arah Hoshie....


..."Kau baik-baik saja?" tanya Ghazi....


... Dashie berhasil dapat satu tiket yang masih berlaku sore ini....


..."Ini masih bisa digunakan" kata Dashie....


... Datar serius masih mencari lagi....


..."Untukmu" kata Jarrel....


... Dia juga mendapatkan satu tiket lagi yang bisa digunakan sesuai tanggal hari ini....


..."Ini untuk Hoshie dan ini untuk Ghazi" kata Jarrel....


..."Dan aku beli lagi" kata Jarrel....


... Langsung ambil ponsel terus pesan tiket yang sama untuk nonton film bareng orang-orang didekatnya saat ini....


... Hoshie yang ikut-ikutan iseng....


..."Kalau aku tidak mau ikut?" tanya Hoshie....


..."Tiket itu kuberikan orang lain" kata Jarrel....


... ...


... Mencegah kecanggungan....


... Ghazi menerima satu tiket nonton ke bioskop yang tadi ditawarkan langsung didepannya....


... Dia juga mengambil satu lagi diberikan kepada Hoshie....


..."Terima saja" kata Ghazi....


... Semua tiket itu ia ambil lalu disobek oleh Hoshie secara brutal....


... Jarrel dan pandangannya terhadap laki-laki teman kuliahnya itu....


... Marah....


..."Kita tak perlu nonton film. Dia akan lebih dari marah" kata Jarrel....


... Dia dengan dunia yang ia baca....


..."Biasanya yang terlalu serius nggak bakalan jadian tapi sebaliknya" kata Jarrel....


..."Kenapa?. Kita berdua bukan hanya nyaman tapi sudah saling menerima satu sama lain" kata Jarrel....


... Wejangan dari seorang teman kuliah yang terdengar menakutkan bagi seseorang terutama kepada Hoshie seakan tertancap langsung bahwa orang yang dibicarakan oleh Jarrel bukanlah siapa-siapa melainkan dirinya sendiri....


... Dia menarik kursi yang diduduki Dashie mendekat ke kursinya sendiri....


..."Maksudmu, orang yang kaucari adalah tipe orang yang menyenangkan?" tanya Ghazi....


..."Lalu …" kata Ghazi....


..."Bagaimana dengan seseorang yang sebagian hidupnya hanya selalu ada kesedihan?" tanya Ghazi lagi....


..."Menghibur dirinya saja sudah sangat sulit. Apalagi menghibur orang lain?" tanya Ghazi....


... Ghazi terlihat sedang sangat emosi bukan hanya kali ini saja tapi beberapa saat yang lalu setelah bertemu Jarrel dalam satu meja sebuah restoran di pinggir pantai....


... Dia juga ikutan emosi....


..."Kita memang sudah seharusnya saling menghindar" kata Jarrel....


..."Pertemuan kita seharusnya tidak harus terjadi" kata Ghazi....


... Dashie dan Hoshie tidak percaya baru saja terjadi perdebatan sengit diantara mereka yang terlihat tidak pernah mengakrabkan diri....


... Hoshie jadi berpikir ulang dengan nasihat yang sudah ia berikan kepada sahabat perempuannya ini....


..."Seharusnya, aku tidak melakukan hal itu tadi" kata Hoshie....


... Hoshie yang tidak bisa membaca isi pikiran Ghazi sebelumnya tanpa seizinnya sehingga disini ia terlihat sangat menyesal tanpa harus berkata didepan semua orang yang ada dalam satu meja itu....


..."Ada yang akan kita bicarakan lagi kalau tidak ayo kita pulang" kata Dashie....


... Pergi....


... Ghazi dengan bodyguard yang sedari tadi menunggunya didekat mobil dibahu jalan....


... Jarrel dengan asisten pribadinya juga ikut pergi setelah melewati waktu-waktu lumayan menguras emosi ini....


..."Sepertinya, ada yang tidak kita ketahui" kata Hoshie....


... Menghubungi nomor ponsel Hot tapi tidak diangkat meski dalam kondisi aktif....


... Dashie juga menghubungi nomor ponsel yang sama namun hasilnya adalah tidak jauh berbeda....


... Memeriksa akun sosial media keduanya barangkali masih aktif tapi ia mendapatkan sebuah jawaban atas sedikit rasa penasaran ini....


..."Mereka sudah putus" kata Dashie....


... Hoshie mengambil ponsel Dashie sebentar....


..."Coba kulihat" kata Hoshie....


... Ternyata apa yang dikatakan oleh Dashie itu benar, Ghazi dan Oryn Mason telah putus....


... Keduanya belum sempat melihat media sosial sibuk dengan pekerjaan masing-masing sejak tadi pagi meski ponsel mereka dalam kondisi online....


..."Alasan mengapa mereka bertengkar?" tanya Dashie....


... Curiga....


..."Ini hanya dugaan ku saja. Apa mereka dipaksa putus?" tanya Hoshie....


..."Ini rumit" kata Dashie....


... Dia yang takut hal semacam ini bisa terjadi kepada dirinya....


..."Kita jangan jadian takutnya bisa begini" kata Dashie....


..."Kenapa kali ini aku setuju denganmu" kata Hoshie....


... Melihat ke arah Dashie....


..."Tapi, aku takut kehilanganmu" kata Hoshie....


..."Maka aku akan pergi" kata Dashie....


... Taksi sudah dipesan secara online....


... Dua orang diantara banyak orang di area pantai....


... Di perjalanan pulang dari pantai untuk sampai di depan jalan dekat pantai tempat mereka berdua sudah memesan pesan taksi....


... Menunggu taksi....


... Tanpa melihat ke arah Hoshie....


... Memuji....


..."Gaya rambutmu unik" kata Dashie....


..."Ini. Aku hanya iseng" kata Hoshie....


..."Bagaimana aku sudah cocok denganmu?" tanya Hoshie....


... Dia dengan style lurus hitam rambut dibagian luar dengan paduan putih dibagian dalam lalu terlihat sedikit memasukkan bagian helai rambut dibawah telinga sebelah kiri....


... Dashie yang masih memikirkan hal rumit yang tidak mudah untuk dikendalikan membuatnya tetap belum percaya tapi ini nyata....


... Pukul sebelas siang lebih dua puluh menit....


... Di sekolah....


... Siapa yang mendengar suara benturan itu?....


... Tak ada....


... Dia dilempar lagi menghantam beberapa kursi besi di ruangan itu berharap untuk mendapatkan pertolongan itulah harapan satu-satunya hingga kini ia terbangun kembali....


... Berjalan dengan sangat cepat menuju Rumy....


... Mulutnya dibungkam kuat berusaha untuk menghilangkan nyawa gadis itu lagi....


... Dia mulai sulit bernafas tangannya berusaha melepaskan tangan yang membungkam mulutnya sangat kuat itu....


... Keringat bercampur dengan darah yang ada dibeberapa bagian jemari tangan dan pergelangan tangan tampak terlihat dari gadis ini....


... Tidak ada air mata lagi yang ia pikirkan adalah bagaimana ia bisa terlepas dari siksaan ini tanpa mengharapkan bantuan dari orang lain yang sudah semakin sulit untuk mempertahankan harapan itu....


... Dia dan beberapa tanda sebuah wujud asli seseorang yang semakin terlihat saraf dari dalam diri yang semakin terlihat memerah memunculkan diri timbul dari kulit luar seseorang yang memakai seragam yang sama sepertinya....


... Memberanikan diri....


... Arah jantung orang yang ada didepannya ia jadikan sebagai sasaran untuk mempertahankan diri....


... Rumy merasakan detak jantung itu....


... Mengalir dan jatuh darah dari jantungnya yang berhasil ia cengkram kuat jatuh diatas wajahnya lalu gadis ini terlempar lagi terpelanting di bagian sisi lain ruang kesehatan sekolah itu lagi....


..."Bragghh!" ...


... Dia mengerang kesakitan akibat jantungnya yang dipaksa berhenti oleh gadis yang ia siksa itu....


... Melihat ke arah Rumy yang sudah tak sadarkan diri....


... Jantungnya kembali dengan sendirinya berfungsi seperti biasa berjalan semakin normal....


... Dia tidak ingin menyianyiakan waktu....


... Di sekolah Nawa....


... Berjalan maju....


... Nawa yang tidak bisa ditemukan oleh Ans menghilang pergi entah kemana....


..."Dia belum juga kembali?" tanya Ans....


... Dia izin pergi ke toilet sekolah tapi tidak kembali juga sejak sepuluh menit yang lalu....


... Waktu mundur delapan menit yang lalu....


... Tangan kanannya siap mengambil aura milik seseorang....


... Nawa datang....


... Dia di tempat lain ada di salah satu ruang sekolah di seberang sekolahnya....


... Menghajar....


... Suara pukulan itu datang lagi dari tangan Nawa yang berulangkali memukul wajahnya....


... Dia tertawa tanpa suara lalu berteriak....


..."Kau masih bisa tertawa!" kata Nawa....


... Pukulan datang kembali....


..."Bug!"...


..."Bug!"...


..."Bug!"...


... Di wajahnya yang membiru dengan banyak mengeluarkan darah juga mulutnya yang mengeluarkan banyak darah juga....


... Dia menendang perut remaja laki-laki dengan seragam abu-abu bawahan kotak-kotak serta belezer yang berwarna sama serta kemeja putih pendek yang sudah terkena darahnya sendiri....


... Aura milik remaja laki-laki itu keluar tak terkendali diantara raganya....


... Matanya mulai meleleh bersamaan dengan perubahan raganya dengan darah tercium sangat kuat menjadi sangat busuk....


... Tangan Nawa melepas kerah baju remaja yang terlihat seusianya sekarang....


... Darah milik remaja itu membakar setiap bagian yang mengenai bagian tubuh Nawa. ...


... ...


... Segera aura itu ia aktifkan memadamkan api yang di miliki....


..."Akhirnya, kau dan wujud aslimu" kata Nawa....


... Dia melihat ke arah Rumy yang yang bangun dari kondisinya yang sempat tidak sadarkan diri....


... Nawa segera menahan tangan monster dari salah satu bangsa Blacwhe itu....


... Tangannya melepuh seketika dia dan bagian tubuhnya yang mengikat darah dan saraf itu menjalar terus mengikat seakan memakan bagian raga Nawa....


... Kaki kanan menendang dada monster didepannya....


... Dia terpental menjauh....


... Bagian dari tubuhnya yang tadi mengikat tangan kanan Nawa terjatuh tidak jauh dari dekatnya lalu kembali lagi kepada pemiliknya berjalan sendiri dengan meninggalkan jejak darah pula dalam waktu singkat. Dia dan dirinya yang mengelupas dari sebagian kulit wajahnya terlihat tidak cukup sempurna juga bagian raganya yang mengeluarkan cairan khas bangsa Blacwhe menyempurnakan bagian tubuhnya lagi yang berubah bentuk akibat pukulan dan pukulan yang diterima dari Nawa....


... Darah-darah itu juga perlahan menghilang tak membekas sama sekali....


... Sekali lagi....


... Rumy melihat hal mengerikan ini tepat di depan matanya sendiri....


... Ruangan yang dengan kursi-kursi yang sudah tidak beraturan dia berusaha terbangun dengan luka yang cukup parah....


..."Kenapa kau ada disini?" tanya Rumy....


... Tubuhnya terbanting kuat oleh orang yang ia anggap sebagai teman sekolahnya itu....


... Mencekik menahan Nawa agar dia bisa segera menyelesaikan hal yang sedang menghalangi rencananya lalu melihat ke arah Rumy sambil tersenyum jahat....


... Nawa yang semakin merasakan kekuatan yang semakin melepuhkan disetiap bagian tubuhnya yang disentuh oleh salah satu bangsa Blacwhe itu....


... Rumy panik....


... Dia tak bisa berdiam diri mulai bangkit dengan kondisinya yang sulit untuk bergerak lebih normal....


... Bagian dari diri Nawa seperti leher dan tangan yang di cengkram kedua tangan bangsa Blacwhe itu melepuh mengeluarkan aura hitam darah bercampur bau amis tidak jauh berbeda dengan pihak lawan yang sedang menyerangnya kembali....


..."Salah satu kelemahannya ada didalam jantungnya itu" kata Rumy....


... Melihat ke arah lemari yang berisi peralatan medis yang sudah terjatuh berantakan semua isinya dilantai....


... Ia bergegas mengambil gunting....


... Dia tidak ingin berakhir secepat ini....


... Menghilang dari hadapan bangsa Blacwhe itu....


... Muncul kembali dari arah belakang lalu memukul dengan siku kanan dibagian punggung belakang....


... Dia jatuh tengkurap di bawah tekanan bagian lutut kanan Nawa dengan tangan ditahan keduanya kebelakang oleh kedua tangan lawannya ini....


... Dia belum menyerah tapi dia dengan bangga tertawa setelah mendapatkan perlawanan dari orang lain yang juga sebangsa dengan dirinya....


..."Kau sama seperti ku hanya saja dia belum mengenalmu" kata remaja laki-laki itu....


... Ponselnya berdering....


... Ponselnya mati....


... Dia membentuk ikatan seperti tali dengan aura yang ia miliki di kedua tangan bangsa Blacwhe itu....


... Ponselnya berdering lagi....


... Kedua tangan yang sudah terikat lalu Nawa mengambil ponsel milik bangsa Blacwhe itu dari saku celana bagian kanan depan....


..."Ghazi" kata Nawa....


... Dia mengangkat panggilan telepon dari Ghazi....


... Mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh orang yang ia kenal sebagai kakak dari Dashie....


..."Sayang. Kau ada dimana?" tanya Ghazi....


... Nawa belum berkata apapun kepada Ghazi....


..."Oryn" panggil Ghazi....


... Ponselnya ia matikan....


... Dia melihat lagi bangsa Blacwhe itu....


... Mulutnya yang terbungkam dengan aura hitam yang ia buat membungkam seluruh bagian mulut dibuka kembali oleh Nawa....


... Rumy mendekat ke arah belakang Nawa berjalan ia terus mendekat....


... Menampar pelan wajah musuhnya....


..."Dimana pemilik ponsel ini?" tanya Nawa....


... Dia hanya tertawa puas tanpa mau menjawab pertanyaan dari Nawa....


... Rumy berhenti jauh lebih dekat lagi sekitar dua meter dari jarak mereka....


... Nawa menampar pelan lagi lawannya itu....


... Teriak....


..."Bicaralah!" kata Nawa....


..."Mana aku tahu mungkin dia sudah mati" kata bangsa Blacwhe itu....


... Dia tidak bisa lari darinya untuk menyusul mendapatkan pukulan lagi dan apa yang terjadi ia hancur-sehancurnya didepan mereka....


... Rumy terjatuh....


... Dia dengan bagian tubuh orang yang tadi menyiksa dirinya tanpa ingin berhenti....


..."Aku tidak melakukan hal itu" kata Nawa....


... Seseorang sudah berhasil membungkam salah satu bangsa Blacwhe itu untuk selama-lamanya....


... Darah-darah dan gumpalan remahan bagian tubuh yang hancur itu perlahan pergi menguap ke udara beserta membawa juga bau amis dan busuknya tidak jauh berbeda dari bau yang mereka cium sebelum kematian ini menimpa orang itu....


... Melihat ke arah Rumy....


..."Kau baik-baik saja?" tanya Nawa....


... Kekuatan dari bangsa Blacwhe tadi juga menghilang perlahan sebagai benteng kedap suara yang ia buat diseluruh ruangan itu....


... Dari arah luar dengan jarak sekitar sepuluh langkah kaki lagi akan sampai dua orang dengan isi obrolan yang semakin terdengar dari arah mereka ada diruangan tersebut....


... Dia tidak bisa terlalu lama disana lalu pergi menghilang didepan gadis remaja ini....


... Dalam sekejap....


... Waktu dalam beberapa detik jejak dari bangsa Blacwhe yang telah tiada itu semakin menghilang baik semua yang ada di dalam diri Rumy beserta luka-luka yang cukup parah juga semuanya kembali seperti bagian ruang kesehatan yang tidak tersentuh oleh pertarungan tadi....


..."Aku tidak boleh bermimpi ini lagi" kata Rumy....


... Melihat diri yang juga sudah tidak memilki banyak luka....


... Pintu masuk ruang kesehatan dibuka dari luar datang dua orang siswa yang juga akan menggunakan fasilitas medis didalam sana....


... Rumy dengan selimut biru bergaris berbaring seperti tujuan awal....


... ...


... ...


... ...