Beautyful Hunter

Beautyful Hunter
Bab. 21(Istimewa)



Paul terdiam, berdiri mematung dengan tatapan dinginnya. Rahangnya yang tegas dengan bibir terkatup. Tidak ada kata yang dia ucapkan pada gadis yang terlihat terluka namun berusaha tegar itu.


Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Joan, terlebih saat aku tahu Mathias yang membunuh kedua orang tuamu. Batin Paul.


"Pergi ... Pergi Paul! Biarkan aku sendiri!" Joan mendorong dada Paul.


Namun tubuh Paul tidak sedikitpun goyah karena Joan mendorongnya. Pria berdarah dingin itu semakin menatapnya dengan lekat.


"Kau tidak dengar aku Paul. Baiklah, kalau begitu aku saja yang pergi!" ujarnya dengan membuka pintu rumah dan menghentakkan kakinya keluar begitu saja.


Tidak ingin terjadi apa apa pada gadisnya itu akhirnya Paul melesat menyusulnya dan tiba tiba sudah ada di depannya tanpa Joan sadari.


"Baiklah Joan, aku akan pergi tapi aku mohon kau kembali lah ke dalam. Akan sangat berbahaya jika kau berada di luar seperti ini."


Joan menatapnya dengan tajam. "Apa yang kau ketahui Paul. Kenapa kau berfikir seperti itu. Apa yang kau fikirkan?"


Mendengar pertanyaan Joan, Paul hanya mampu terdiam, entah bagaimana jadinya jika Paul menanyakan semuanya pada Joan. Jika dia sudah tahu yang sebenarnya.


"Jawab Paul!"


Aku tidak tahu akan jadi seperti apa jika kita sama sama sudah tahu, ini sangat menyakitkan. Batin Paul lagi.


"Kau tidak bisa menjawabnya? Baiklah aku pergi."


Joan kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Paul begitu saja.


Paul pun hanya diam saja tanpa menjawab atau bahkan sekedar melihat punggungnya. Tak lama kemudian pri itu melesat pergi.


Paul kembali ke aula gereja, dimana di sana tengah berkumpul hampir semua anggota klan. Disana juga terlihat Mathias dengan pedang pamungkasnya.


Paul terdiam, dia hanya menatapnya tajam dengan rahang yang mengeras, dan sesaat kemudian dia sudah melesat dengan tangan yang kini merengsek leher Mathias.


"Kesalahan yang kau buat tidak akan termaafkan! Kau membuat seluruh klan di pegunungan selatan turun dan itu sudah tidak dapat di cegah. Semua akan menyerang secara terang terangan, dan saling membunuh. Kau hanya akan menyebabkan peperangan Mathias!"


Eeuk!


Tenggorokan Mathias seakan tercekat saking kerasnya Paul merangseknya, bukan main main lagi karena saat ini Paul tengah marah. Kedua matanya merah menyala dsn mampu meluluh lantahkan siapa yang menatapnya tajam.


"Ahk ... Lepaskan aku, kau fikir semua akan selesai dengan membunuhku? Bukankah ini semua kentungan bagi kita semua." ujarnya dengan berusaha tenang agar Paul pun ikut tenang. "Oh ... Aku tahu, apa ada hubungannya dengan gadis itu? Gadis yang sering kau lihat setiap minggu di sini. Yang memiliki darah begi harum bukan?"


"Kau! Lancang!"


Bruk!


Prang!


Paul mengangkat tubuh Mathias dan melemparkannya begitu saja sampai tubuh sang adik menghantam dinding dan terjatuh setelahnya. Paul kembali melesat mendekatinya dan kembali mengangkat tubuhnya dengan sekali tarikan saja.


"Jangan coba coba mengganggunya. Dan bereskan kekacauan ini! Atau kau akan diasingkan ke pulau hitam." ujarnya dengan tegas.


Bruk!


Kini Paul menjatuhkan tubuhnya Mathias begitu saja, hingga adiknya itu tersungkur dengan lantai yang langsung hancur. Dan Paul sudah tidak terlihat lagi.


"Aku semakin curiga. Dan harus memastikannya lagi. Gadis itu pasti memiliki sesuatu yang istimewa sampai Paul bersikap seperti itu!"